"Baiklah kalau begitu. Mama sangat senang sekali akhirnya kamu sadarkan diri," "Tadi Kiara bertemu dengan Ayah ...," Raina terdiam. Dia berusaha menetralkan perasaannya. "Bertemu dimana sayang?" "Di sebuah tempat yang sangat indah. Disana, Kiara bisa berjalan normal. Ayah mengatakan jika ...," "Jika?" "Kiara harus menerima semuanya yang terjadi pada Ayah dan tetap selalu bersama Mama," Raina terdiam. Dia hanya mengangguk pelan. "Iya itu benar." "Kamu mau makan buah?" tawar Raina. Kiara mengangguk antusias. "Mau Ma!" Raina tersenyum hangat sembari meraih buah dan pisau di atas meja kecil samping bed hospital Kiara. Saat disela-sela Raina sedang mengupas buah-buahan itu. Ringtone handphone Raina berbunyi nyaring. Tanpa membuang waktu yang lebih lama lagi, dia pun segera mengangk

