Perjodohan

1044 Words
Kedua bola mata Alfath menatap horor ke arah Fatih Anderson, ayahnya. Malam ini Alfath memutuskan untuk mengikuti saran Keanu untuk menuruti ayahnya. Alfath ingin tahu perempuan seperti apa yang akan dijodohkan dengannya. Sebenarnya seperti apa pun dan bagaimanapun sang perempuan yang dijodohkan dengannya, itu sama sekali tidak berarti apa pun dan tidak akan mengubah apa-apa. Pada akhirnya Alfath akan menolak. Tak mungkin bagi Alfath untuk meninggalkan Najihan begitu saja. Mereka sudah cukup lama membangun hubungan dengan rangkaian kisah indah. Alfath mencintai dan menyayangi Najihan dengan tulus dan sepenuh hati. Tak pernah terbesit sedikit pun dalam hatinya sebuah niatan untuk mendua. Jika saja mendiang ibunya masih ada, Alfath yakin jika wanita yang telah melahirkannya itu akan sangat menyukai Najihan sebagai calon menantunya. Kekasihnya itu berparas sederhana nan cantik, lesung pipi menjadi penambah daya pikatnya. Kepintarannya di bidang akademik pun tidak diragukan. Dan yang terpenting adalah Najihan merupakan perempuan dengan penampilan dan sikap yang sopan kepada seseorang yang lebih tua. Bagi Alfath, Najihan adalah sosok calon istri ideal meski tidak pandai memasak. Mungkin jika Alfath memperkenalkan Najihan kepada Fatih, maka pria berumur itu bisa saja menyukainya dan membatalkan perjodohan ini. Alfath sendiri merasa konyol karena ia harus merasakan sesuatu yang dilakukan oleh masyarakat zaman dulu. Apakah wajahnya tidak cukup tampan untuk mendapatkan istri tanpa bantuan sang ayah? “Pa, jadi gak malam ini ketemunya?” tanya Alfath yang mulai bosan. Bukan tanpa alasan ia merasa bosan. Ini sudah menit ke dua puluh dia dan Fatih berada di dalam sebuah kafe bergaya klasik. Mungkin jika mereka membawa laptop atau memainkan ponsel maka pegawai kafe akan menyangka jika mereka berdua sengaja berlama-lama berada di kafe untuk memanfaatkan WiFi, sesuatu yang sering dilakukan oleh para mahasiswa untuk menghemat pengeluaran kuota internet. Fatih yang memang dasarnya penyabar hanya tersenyum tipis. Tidak sedikit pun terlihat guratan kelelahan di wajahnya padahal pria itu bekerja dari pagi sampai sore. “Jadi kok, sabar sedikit tadi mereka udah di jalan.” “Pa, kalau Alfath gak cocok sama perempuannya boleh nolak, kan?” Fatih terdiam karena enggan menjawab pertanyaan putranya. Fatih sangat berharap agar Alfath merasa cocok pada perempuan yang menjadi kandidat calon istrinya. Fatih sangat tahu jika perempuan yang dipilihnya adalah seseorang yang baik. “Kamu sendiri yang akan memikirkan itu nanti.” Fatih tersenyum lebar ketika melihat kedatangan sebuah keluarga kecil yang telah ditunggunya. Sepasang suami istri bersama anak perempuan semata wayang mereka. “Akhirnya datang juga.” Setelah mendengar perkataan Fatih, Alfath yang sudah sangat penasaran akan rupa perempuan yang dijodohkan dengannya pun segera menoleh. Namun matanya membola seketika saat menemukan sosok guru baru di sekolahnya, Melisa. Alfath langsung menatap horor gurunya tersebut. Tidak mungkin bukan jika dirinya dijodohkan dengan Melisa yang sekarang berstatus sebagai gurunya sendiri? Lagi pula Melisa juga berusia lebih tua darinya. Jadi perempuan yang akan dijodohkan dengannya pastilah bukan Melisa. “Maaf, apa kami datang terlambat?” tanya seorang pria tua yang diperkirakan umurnya tak jauh berbeda dengan Fatih. Namanya adalah Marwan, ayahnya Melisa. Melisa sendiri tidak kalah kaget ketika menemukan wajah salah satu muridnya. Namun ia hanya diam saja karena tak berani berbuat apa-apa di depan kedua orang tuanya. Cukup sebelum datang ke sini saja ayah dan ibunya menyiksa Melisa. Kali ini Melisa tidak ada daya lagi selain mengikuti apa pun yang diinginkan oleh orang tuanya. “Tidak sama sekali, tenang saja,” jawab Fatih ramah. Namun justru hal itu membuat Alfath mendumel dalam hati. Tidak terlambat sama sekali katanya? Padahal jelas-jelas Alfath dan Fatih sudah duduk di sini dalam waktu yang cukup lama. Marwan tersenyum kemudian duduk yang langsung diikuti oleh Melisa dan ibunya yang bernama Nina. Melisa menunduk karena bingung harus berbuat apa, apalagi di meja yang sama ada muridnya. Tak mau mengulur waktu lagi, Marwan langsung berseru, “Perkenalkan ini istri saya, namanya Nina. Dan ini putri semata wayang kami namanya Melisa. Dan Melisa ini yang akan dijodohkan dengan anak Anda.” Alfath memejamkan matanya ketika mendengar kalimat tersebut. Ternyata benar jika gurunya sendiri yang akan dijodohkan dengannya. Jika begini maka Alfath tidak akan memperpanjang waktu , ia akan langsung menolak perjodohan ini. “Dan ini Alfath, putra saya yang akan menjadi suami putri semata wayang Anda,” ujar Fatih memperkenalkan Alfath. Alfath tidak ingin beramah tamah, daripada harus menyunggingkan senyum ke arah Marwan dan Nina, Alfath justru memilih untuk menatap tak suka pada Melisa. Guru baru itu masih menunduk. Jika diperhatikan maka terlihat jelas sekali jika Melisa menggunakan bedak cukup banyak. Pasti hal tersebut dilakukan guna menyembunyikan memar-memar yang ada di wajahnya. “Kalian berdua ayok kenalan, jangan malu-malu,” titah Nina dengan senyum manis keibuan. Melisa perlahan mengangkat wajahnya, di tengah kecamuk pemikiran dan perasaannya, Melisa mengulurkan tangannya ke arah Alfath untuk berkenalan. Tapi Alfath tiba-tiba berdiri dengan spontan. Ia merasa heran mengapa Melisa tak mengatakan bahwa mereka sebenarnya sudah saling mengenal. Karena tindakannya, semua mata kini tertuju pada Alfath. “Kita udah kenal. Pa, Bu Melisa ini guru di sekolah Alfath. Jadi gak mungkin Alfath bisa terima perjodohan ini.” Tiga orang manusia yang sudah berusia lanjut terkaget akan pernyataan Alfath. Tidak menyangka jika ternyata Alfath dan Melisa sudah saling mengenal. “Kenapa tidak bisa? Bukannya bagus kalau dia guru kamu jadi dia bisa didik kamu di rumah juga,” tutur Fatih mencoba untuk mencairkan suasana. Alfath kembali duduk di tempatnya dan menghela napas. Ia memperhatikan Melisa yang terus menundukkan kepala. Apakah ada sesuatu yang menarik di lantai hingga Melisa lebih tertarik untuk melihat ke bawah? Karena penasaran akhirnya Alfath mencoba mengintip sesuatu yang ada di kolong meja. Tapi tidak ada apa-apa selain kaki mereka. Alfath lalu menoleh karena Marwan berkata, “Saya harap kalian bisa menerima satu sama lain.” “Saya tidak mau, Om. Masa saya punya istri yang usianya lebih tua?” Dengan tidak sopan Alfath mengutarakan isi kepalanya. Ia tidak akan menerima perjodohan ini. Mungkin jika Keanu yang berada di posisinya saat ini maka sahabatnya itu akan menerima tanpa berpikir panjang mengingat jika Keanu menyukai Melisa. “Kalau kamu bagaimana, Nak?” Fatih memilih untuk bertanya pada Melisa daripada menanggapi ketidaksopanan anaknya. Jika Melisa juga menolak perjodohan ini maka Fatih tidak akan memaksa. Namun jika hanya Alfath yang tidak setuju maka Fatih bisa membujuk putranya itu. Bagaimanapun perjodohan ini adalah amanah yang harus dijalankan. Tanpa mengangkat wajahnya Melisa menjawab, “Saya menyetujui perjodohan ini, Om.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD