Kedekatan yang ditunjukkan oleh Melisa dan Bandi tentu tak biasa. Sangat masuk akal dan wajar jika siapa saja yang melihat mereka maka akan berkesimpulan bahwa keduanya memiliki hubungan yang lebih dekat daripada hanya sekedar rekan kerja.
Alfath terdiam memikirkan hal tersebut. Ini adalah sesuatu yang bagus. Dirinya dan Melisa akan menikah tapi mereka mempunyai tambatan hati masing-masing. Perjodohan ini mungkin berjalan lancar karena Alfath dan Melisa sama-sama menyetujui. Tapi Alfath yakin jika kisah pernikahannya dan Melisa tidak akan berjalan dengan baik.
Tidak masalah, lagi pula Alfath memang harus pergi meninggalkan Melisa nantinya. Jadi kisah pernikahannya indah atau tidak itu sama sekali tidak penting.
Jam istirahat sudah berlalu, Alfath dan kedua temannya sudah berada di kelas. Sekarang adalah jam bagi Melisa untuk mengajar di kelasnya. Alfath berdecak karena malas harus kembali bertatap muka dengan calon istrinya itu.
“Menurut kalian Bu Melisa sama Pak Bandi ada hubungan gak?”
Itu adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh Keanu. Sejak bersalaman dengan dua orang guru yang kini hangat jadi topik pembicaraan, Keanu terlihat seperti gelisah. Ia terus memikirkan kebenaran hubungan antara guru Bahasa Inggris dan guru Sejarah Indonesia. Alfath yang melihat itu hanya menggelengkan kepala. Dirinya yang berstatus sebagai calon suami dari Melisa saja merasa biasa saja.
“Kalau menurut penerawangan gue ya, kayaknya mereka punya hubungan khusus. Apalagi mereka sama-sama masih muda dan belum menikah, tunggu apa lagi coba?” jawab Fajri.
“Kalau gini caranya sih gue udah pasti kalah,” desah Keanu. Ia merasa kalah sebelum berperang jika lawannya adalah Bandi. Bukan karena merasa rendah diri akan wajahnya, karena Keanu jelas lebih tampan. Bukan juga perihal harta karena Keanu terlahir dari keluarga yang lebih kaya, bahkan bisa dibilang jika ia adalah siswa paling kaya di sekolah ini.
Tapi ada yang tidak dimiliki olehnya yaitu kematangan dan kemapanan. Bandi jelas unggul dalam dua hal tersebut. Pria itu sudah berusia matang untuk meminang seorang wanita. Dan mapan karena pria itu sudah memiliki pekerjaan yang jelas. Berbeda dengan Keanu yang pasti hanya dipandang sebagai bocah nakal oleh Melisa. Dan meski ia terlahir di keluarga kaya, tidak ada yang bisa menjamin bagaimana masa depannya.
“Kok pesimis gitu? Mana yang pamornya sebagai prince of Bima Karya!” Fajri mengejek.
“Pak Bandi itu usianya di atas Bu Melisa, jadi Bu Melisa pasti lebih pilih yang matang dong daripada gue!”
Fajri tertawa mendengar alasan yang diucapkan oleh Keanu. Sangat masuk akal memang, tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Tuhan berkehendak. Entah mengapa Fajri ingin mendukung Keanu untuk mendekati Melisa. Mungkin dengan begitu ia bisa meraup keuntungan pada Melisa agar wanita itu mau memberikan nilai lebih kepada mereka.
Jika sudah terpaut cinta, maka Fajri yakin keprofesionalan itu tidak ada. Melisa pasti bersedia melakukan apa pun untuk Keanu termasuk memberikan nilai tambah secara percuma. Dan itu ide yang sangat bagus. Mulai sekarang Fajri akan giat membantu dan menyemangati Keanu untuk mendekati Melisa.
“Kalau Tuhan berkehendak, pasti Bu Melisa bisa pilih lo kok! Asal lo mau berusaha dan berdoa biar bisa dekat sama Bu Melisa. Zaman sekarang banyak kok perempuan yang suka sama brondong.”
Keanu tampak mencoba untuk mencerna ucapan Fajri. Tapi tetap saja ia merasa segan jika harus bersaing dengan Bandi, gurunya sendiri. “Pasti Bu Melisa pilih yang sejawat sama dia!”
“Lo gak liat ya tadi Bu Melisa kayak risi gitu? Bahkan pas Pak Bandi ngejar dan teriak-teriak juga tetap dianggurin! Itu tandanya apa? Berarti Bu Melisa gak suka sama Pak Bandi, itu Pak Bandi aja yang kesemsem sama Bu Melisa!” tukas Fajri mencoba agar Keanu kembali merasa percaya diri.
Tampaknya itu berhasil, terlihat dari kobaran semangat yang kembali menghiasi wajah Keanu. Pria itu mengepalkan tangannya seolah mengatakan bahwa ia akan berjuang.
“Bener, nanti kalau Bu Melisa udah jadian atau nikah sama Pak Bandi baru gue mundur!”
Alfath yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka tiba-tiba terbatuk. Tenggorokannya secara mengejutkan terasa gatal hanya karena mendengar ucapan Keanu. Bandi dan Melisa menikah katanya? Entah kenapa Alfath ingin berteriak di depan wajah Keanu sambil mengatakan bahwa dirinyalah yang akan menikahi Melisa.
Tapi itu tentu tidak dilakukannya, ia tidak ingin membongkar rahasianya sendiri kepada teman-temannya.
“Kenapa lo? Keselek biji salak?” canda Fajri yang langsung dihadiahi dengusan oleh Alfath.
“Biji salak? Mati dong gue!”
“Ya barangkali lo udah mau mati, nanti gue pesen batu nisan atas nama Alfath Anderson. Dijamin ejaannya gak akan salah, tinggal catat tanggal lahir sama tanggal lo mau mati nanti,” ujar Keanu dengan senyum manis yang ia suguhkan. Sangat manis sampai Alfath merasa mual dibuatnya.
“Gue belum nikahin Jihan, jadi matinya entar aja belakangan. Lebih baik lo yang duluan, jadi populasi buaya darat bisa berkurang di dunia ini. Lo tahu sendiri kan kalau buaya darat itu spesies yang susah punah.”
Wajah Keanu cemberut tak suka. Ia sangat menyadari jika dirinya sangat cocok dengan julukan itu tapi tetap saja jika ada orang yang mengatakan secara gamblang maka ia merasa tersinggung. “Gue bukan buaya, tapi kadal.”
Alfath tak ingin menjawab, ia bangkit dan menuju meja Najihan. Mumpung guru Bahasa Inggris itu belum datang, lebih baik Alfath memanfaatkan waktunya untuk bersama sang kekasih.
“Sayang, geser!” titah Alfath ketika sampai. Najihan segera menggeser posisi duduknya hingga kini Alfath dapat duduk di bangku yang sama dengannya. Alfath tidak bisa menempati bangku di samping Najihan karena ada Sri yang menempatinya.
“Pulang sekolah jalan yuk?” ajak Alfath, sebelah tangannya melingkari leher jenjang milik Najihan. Perlakuannya mesra sekali, membuat beberapa siswi lain memekik ingin merasakan hal yang sama.
“Maaf ya, aku gak bisa. Soalnya sekarang aku belajar tambahan setiap hari.” Najihan mengelus pipi kekasihnya dengan penuh kasih sayang untuk mencoba memberikan pengertian. Memang sudah cukup lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama.
“Kamu les lagi?”
“Iya, Mama yang suruh aku les lagi. Soalnya nilai rapot di semester kemarin totalnya turun dari semester sebelumnya,” jelas Najihan sedih.
“Tapikan kamu tetep juara satu, apa masalahnya?”
“Ya tetap aja menurun.”
Tak heran jika Najihan tumbuh menjadi gadis yang pintar, karena belajar adalah kegiatan favoritnya. Selain itu Najihan juga mendapat tuntutan dari kedua orang tuanya untuk sempurna dalam bidang akademik.
“Gak papa kan?” tanya Najihan memastikan jika Alfath tidak marah.
Alfath mengangguk meski sebenarnya ia merasa kecewa. Lalu kepalanya menunduk untuk dapat mencium kening Najihan yang mulus. Tapi belum bibirnya sampai, kegiatannya terhenti ketika suara seseorang memasuki gendang telinganya bersamaan dengan ketukan pada pintu yang terbuka.
“Selamat siang, maaf saya terlambat masuk kelas.”