"Seharusnya Kak Zio nggak bisa bersikap seperti itu dong. Masa percaya gitu aja sih. Aku akan jelasin dengan Kak Zio." Sungut Lea yang jengkel.
Setelah mendengar penjelasan Aldio, Lea lebih percaya dengan saudara daripada orang yang tak dikenalnya. Dia yakin Aldio tak akan sebodoh itu melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri.
"Udahlah, Le. Aku nggak papa, kalau soal kerjaan aku bisa cari tanpa mengharapkan perusahaan." Ucap optimis Aldio. Lea tak tega melihat Aldio seperti sekarang ini, padahal baru saja Lea bisa melihat kebahagiaan dari keluarga Aldio dan Nina. Namun sekejap mata hancur karena adanya perempuan yang tak dikenal.
"Nggak bisa gitu dong. Kak Alzio harusnya dengar juga dari sisi Kak Dio, jangan keputusan seperti ini. Kak Dio juga berhak atas perusahaan itu." Sambil merunggut kesal, Lea duduk samping Aldio dengan memangku Fafa putri kecilnya.
"Lea, udah ya. Kamu tenang, aku bisa hadapi dan aku akan buktikan kalau nggak bersalah." Aldio masih dengan santai menyakinkan Lea. Wanita itu rasanya tak setuju pemikiran Aldio. Bagaimanapun Alzio harusnya memberikan dukungan pada Aldio, bukan malah membiarkan Dio telantung tanpa pekerjaan. Itu justru menambahkan masalah untuk Aldio.
"Kak Dio, dengar apapun yang terjadi Lea dan Kaffa akan mendukung. Kita nggak akan pernah tinggalin Kak Dio." Kejadian ini sungguh membuat Lea tak bisa terima, ia bahkan ingin mencakar wajah perempuan yang mengaku hamil dengan Dio. Bisa-bisanya melakukan hal serendah itu, Lea kenal betul saudaranya. Sebejat apapun Dio, ia yak mungkin sampai menghamili wanita, ia sangat menghormati makhluk Tuhan yang berkelamin wanita. Karena Lea sendiri pernah mengalami kehamilan di luar nikah, dan ia yakin kejadian itu mengajarkan Dio lebih menghargai seseorang.
Tanpa Lea perjelas, ia tahu adiknya tak mungkin membiarkan dirinya berkeliaran di luar tanpa pekerjaaan dan tempat tinggal. Ia bisa saja kembali ke rumah Alzio, tapi mengingat sikap Zio yang malah percaya w************n itu, ia justru tak berkenan. Lebih dia merepotkan adiknya daripada Zio yang akan menambahkan masalah dalam otaknya.
Dengan langkah gontai Aldio masuk kamarnya. Menutup pintunya perlahan, ia memutar otaknya bagaimana cara untuk menyakinkan Nina jika dia tak bersalah. Baru sebentar tanpa Nina, rindu sudah mencekam dirinya sendiri seperti kehilangan arah sendiri. 'Nina, aku mohon kamu tetap bersabar. Aku akan buktikan kalau sama sekali tak bersalah. Aku hanya dijebak.' gumam Aldio dalam hatinya.
Satu-satunya cara membuat Nina mengerti, dia harus menemuinya. Walau akan dapat cercahan ia tak perduli, dia yakin Nina akan percaya. Sesulit apapun dia akan ingin istrinya mendukung, hanya Nina sumber kekuatannya.
Tapi kali ini, ia harus percaya Nina akan percaya, jika tidak. Ah.. Pupus sudah harapannya.
***
Nina termenung sambil memandangi ranjang yang biasa tempat Dio selalu berbagi resah padanya. Nina merasa sedih dengan pernikahannya, ia susah payah mencintai laki-laki itu. Ketika badai yang harus ia hadapi hanya Aldio yang ada. Dan kenapa begitu sakit sekali mengetahui suaminya menghamili wanita lain, hatinya tersayat berkeping-keping layaknya kaca yang tak bisa kembali utuh.
"Astaga!! Nina.. Lo belum siap-siap juga, katanya lo pergi kantor Kaffa. Gimana sih lo?" sungut Nadia yang melihat Nina masih dengan piyama tidurnya. Omelan Nadia membuyarkan lamunan Nina.
"Ck.. Berisik banget lo! Gue malas mau ketemu Kaffa, adanya dia ngejek gue kalau nanyain Dio." Nadia mendengus kesal, ia bingung dengan pemikiran sepupunya. Harus dia tak perlu plin-plan, padahal dia yang merengek minta ditemaninya ke kantor Kaffa. Bahkan Nadia rela ijin dengan Alzio untuk menemani Nina, untungnya ia mendapatkan ijin dari bosnya itu.
"Dasar lo ngerepotin gua! Asal lo tau tadi di kantor Pak Alzio marah sama Dio. Dia udah tau masalah lo dan Dio, lo yang kasih tau? Hmm?" Nina mengeryit, dia masih punya otak, semarah apapun dirinya, ia tak tega sampai menceritakan semuanya dengan Alzio. Nina tahu betul akibatnya akan selesai apa.
"Jadi Aldio gimana sekarang?" Nadia mengidikan bahunya tak tahu, meskipun sebenarnya tahu dari Donny jika Alzio telah menarik semua fasilitas Aldio. "Gue sama sekali cerita sama Kak Zio, gue masih punya otak." Tambah Nina.
"Khawatir juga lo, harusnya lo nggak langsung percaya sama tuh perempuan. Kalau Dio nggak bersalah, gue pastikan lo nyesal banget." Sebenarnya itupun yang menjadi kekhawatiran Nina, hingga ia sama sekali tak bisa tidur. Belum pernah sejak menikah, dia pisah dengan Aldio. Marah, kesal, melihat Aldio tidur di luar rumah itu biasa untuknya. Tapi kali ini ia bahkan tak bisa mendengar suara suaminya. Biasanya Aldio selalu bikin repot setiap pagi, minta kaos kakinya, dasinya, dan sebagainya.
"Lo pikir gue nggak punya hati apa!! Gimanapun Dio itu suami gue, mana mungkin gue bisa tenang mendengar Kak Alzio marah. Gue kenal banget Kak Zio marah seperti apa." Omel Nina sendiri. Nadia bingung mau sepupunya ini apa, dia usir suaminya dan sekarang dia pusing sendiri.
"Sekarang lo jadi nggak kantor Kaffa, kalau nggak gue balik kerja aja." Nina bangkit dari ranjangnya, ia berkaca sekilas melihat mukanya yang tak bersemangat itu.
"Ya udah gue mandi dulu." Ucap Nina yang memegang gagang pintu kamar mandinya. Nadia keluar meninggalkannya.
Nina seperti tak tak arah lagi, ia duduk di bawah guyuran air shower. Jiwanya seakan ada yang hilang, setengah hati seakan telah direnggut. "Dio, hiks.. Aku berharap kamu memang nggak pernah hamili wanita itu. Aku nggak sanggup hidup tanpa kamu, yo. Aku nggak sanggup." gumamnya sendiri.
Setelah beberapa menit bersiap Nina keluar dari kamarnya, ia mencari Nadia namun sepupu ada di luar ruanganruangan, seperti bicara dengan seseorang. Ia menghampiri Nadia, tanpa tahu dengan siapa Nadia bicara.
"Dio! Kamu.." Nina kaget, ia heran dengan Dio yang sudah ia usir, bahkan ia mencacinya tapi masih mempunyai keberanian menemuinya. "Mau apa?" Lanjut Nina dengan ketus.
"Egh.. Dio mau bicara sama lo. Lebih baik gue tunggu di kamar aja. Kalau udah kelar, lo bisa panggil gue." Ujar Nadia pergi menyisakan mereka berdua.
Aldio tersenyum nanar memandangi istrinya yang mukanya ditekuk kesal. "Kita bisa bicara."
"Mau apa lagi? Belum puas juga!" ucap Nina sarkas. Dio diam sesaat, karena merasa emosi Nina masih belum normal. Jika ia membuat pengertian, mungkin Nina akan sulit mendengarkannya.
"Aku tahu kamu marah banget, tapi sumpah demi apapun, cuma kamu yang aku cintai. Jadi nggak mungkin aku khianati kamu." Gusar Dio berharap istrinya dapat mengerti keadaannya yang sekarang. "Nin, Alzio saudara aku sendiri nggak percaya, aku bisa terima. Tapi.. Kalau sampai kamu yang nggak percaya, semua harapan aku hancur."
Nina tertunduk, ia merasa bersalah melihat harapan Aldio hancur. Bagaimanapun Aldio suaminya, dan laki-laki itu yang pernah bangkitkan segala semangatnya, ketika dia terpuruk.
"Sayang.. Jangan diam aja! Aku akan selalu di sini hingga menunggu jawaban kamu. Aku mau tahu kamu percaya atau nggak." Lagi-lagi Nina hanya dapat diam seperti dalam tenggorokannya penuh kerikil menyumbatnya. "Jawab, Nin. Jangan diam."
"Lebih baik kamu pergi dari sini..!! Aku udah urusan lebih penting dari kamu." Titah Nina. Tapi Alzio hatinya keras, semakin Nina marah, dia semakin yakin dengan keputusannya berada di tempat ini.
"Aku nggak akan pergi sebelum kamu jawab pertanyaanku." Nina gusar sendiri. Dia sebenarnya tak tega dengan keadaan Aldio, tapi dia harus mendapatkan bukti terlebih dahulu. Mungkin dengan itu dia bisa percaya.
"Kamu jangan keras kepala! Aku mau percaya sama kamu, tapi kamu sendiri nggak ada bukti. Gimana aku mau percaya." Ucap Nina sarkas. Dio tersentak, dia sampai saat ini memang belum memiliki bukti, semangatnya melemah ketika mengharapkan istrinya dapat percaya, namun yang ia dapat tak seperti harapannya.
"Kenapa, nin? Kenapa kamu nggak percaya sama aku? Apa selama ini kurang rasa percaya kamu, hah?" Hardik Dio. Nina membalikkan tubuhnya tak sanggup bertatapan dengan Dio.
"Pergi kamu dari sini!! Aku nggak mau lihat wajah kamu lagi!" usir Nina. Kaki Dio melemah seakan dunia hilang seketika.
"Dimana Dini? Aku mau ketemu Dini." Nina menahan napasnya. Bryan sampai saat ini belum memulangkan Dini, pasalnya Nina meminta Bryan menjaga untuk beberapa hingga kondisi dia sendiri tenang.
"Dini nggak di sini, dia masih sama Bryan." Tampak wajah Aldio kesal mendengarnya.
"Apa!! Kamu biarkan Dini berlama-lama dengan Bryan. Seharusnya kamu nggak perlu ijinkan itu." Nina tak terkejut dengan emosi Dio tunjukkan. Kalau menyangkut tentang Dini, laki-laki itu bisa marah tanpa berpikir, apalagi tak pernah Dio menganggap Dini sebagai anak orang lain. Bahkan mungkin Dio menyayangi Dini lebih dari Bryan yang ayah kandungnya.
"Kamu jangan mikir masalah Dini, aku tahu terbaik untuk anakku. Kamu nggak perlu ikut campur." Aldio kecewa mendengar gumaman Nina. Bukankah mereka sepakat tidak membahas Dini bukan anak Aldio, tapi hari dari mulut istrinya sendiri ia mendapatkan luka tak berdarah dari Nina.
"Apa Dini itu bukan anakku, Nin? karena kamu ibu kandungnya, kamu berhak atas dia, dan bukan ayah kandungnya, kamu beranggapan aku tidak pantas." Nina tersentak, sepertinya kali ini ia sudah keterlaluan. Sebelum ia berbalik untuk menjelaskan, suaminya sudah pergi dari hadapannya.
"Yo, Aldio." Nina memanggilnya, tapi Dio sama sekali tak menggubrisnya. Dia sangat menyesal melukai hati Dio tentang Dini, bagaimanapun Dio adalah ayah terbaik untuk Dini, meski Bryan juga selalu menemui Dini sebagai ayahnya, semua itu tak cukup untuk pengorbanan Aldio.
Sedangkan Aldio masuk dalam mobilnya, hati tersayat. Apa belum cukup pengorbanannya untuk Dini, dia sangat menyayangi Dini lebih dari hidupnya. Sekarang dia mendengar perkataan Nina yang justru mampu hancurkan hatinya seketika. Semua masalah ini rasanya membuat otak Dio buntu, ia tak bisa berpikir dengan baik. Apalagi saat ini, dia belum mendapat pekerjaan yang baik. Tak mungkin juga ia merepotkan Lea dan Kaffa, bagaimanapun dia tak mau menyusahkan mereka berdua.
Nina terisak tangisan, ketika Aldio sudah pergi dengan mobilnya. Jantungnya seakan teremas.
Hiks..
"Nin, lo kenapa?" Nadia keluar mendengar suara tangisan histeris hingga kamarnya. "Dio nyakiti lo?" ujarnya lagi. Nina sontak memeluknya, ia semakin terenyuh.
"Hiks.. Nad, gue.. Hiks.." Nina enggan bercerita, ia hanya menangis tanpa henti membuat Nadia bingung sendiri.
"Udah ya, Nin. Lo nangis nggak akan selesaikan masalah, gue yakin kok Aldio nggak salah, gue aja bisa seyakin ini, masa lo nggak. Lo lebih kenal Aldio seperti apa." Sambil mengelus punggung Nina, Nadia memberikan pengertian pada wanita itu.
Nina berpikir, penuturan Nadia ada benarnya. Harusnya dia percaya dengan suaminya. Bahkan saat Aldio berusaha membuatnya percaya, dia yang telah menyakiti hati Aldio.