BAB 1

1022 Words
"Saya hamil anak Aldio." Kalimat itu masih tergiang di telinga Ninanya. Sambil terisak dalam tangisnya, ia tak percaya Dio bisa melakukan hal terburuk dalam hidupnya. Rasanya kepercayaanya runtuh dalam sekejap, hatinya hancur bagai kepingan-kepingan kaca yang tak bisa menyatu lagi. "Dasar Dio b******n! Dia sama saja dengan semua laki-laki." Umpat Nina dengan berteriak, ia berdiri di depan kamarnya. Setelah beberapa waktu lalu dia mengusir Aldio dari rumah mereka. Dia tak perduli Dio tidur dimana? Yang dia perduli saat ini rasa sakit, perempuan mengaku telah hamil anak Aldio. Sebagai istri Nina tidak bisa terima begitu saja. Padahal dia berencana melakukan program hamil. Semua rencana gagal karena ulah Aldio dan perempuan yang ia tak tahu berasal dari mana. "Nin, buka pintunya. Kasian suami lo di luar tu. Lo tega biarin dia tidur dingin di luar." Kaffa mengetuk pintu kamar Nina, sebagai sahabat ia berusaha untuk membuat Nina mengerti. Apalagi Kaffa tau, Dio pasti akan membuatnya repot. Kalau bukan dia saudara kandung Lea, sudah pasti Kaffa memastikan dia terlantar di jalan. "Kaf.. lo jangan ikut campur. Ini urusan gue dengan b******n itu." Teriak Nina di balik pintu. "Tapi bajingannya suami lo." "Kaffa! Lo tuli ya. Gue kan udah bilang jangan ikut campur. Balik lo sana." Usir Nina dengan nada membentak. "Lo yakin gue balik. Lo sendiri di rumah? Dini gimana? Kasian tu bocah." "Dini akan bersama Bryan untuk sementara, sampai gue dan Dio cerai." Teriak Nina dari balik pintu. Suara tangis Nina pecah, ia menyusut hidungnya dengan tissue, matanya sembab akibat tidak berhenti menangis. Dia benci mengetahui Dio menghamili wanita lain. Nina berpikir Aldio telah berani berselingkuh darinya, bahkan sampai perempuan itu hamil. Benar-benar mimpi buruk untuk Nina. *** Aldio duduk merana di depan pintu rumahnya sendiri. Bahkan Kaffa tak berhasil membujuk Nina. Nasibnya hari ini sungguh sial. Sebagai sahabat dan adik ipar, Kaffa hanya bisa menolongnya tapi kembali lagi pada Nina. Kaffa sangat mengenal Nina yang sangat keras kepala. Kaffa ikut duduk di teras rumah Aldio, ia menatap intens pada Dio. "Jadi benar lo hamili perempuan lain." Ucap Kaffa santai. Pandangan Aldio langsung beralih menatap tajam pada Kaffa. "Punya otak lo. Mana mungkin gue khianati Nina, lo tau sendiri gue cinta sama Nina." Kaffa tertawa. "Santai.. Jangan pakai urat." "Lo juga sih buat gue ngegas." Rungut Aldio dengan mukanya yang lusuh, dan penampilannya yang berantakan "Terus wanita yang ngaku hamil tu siapa?" Kaffa sendiri sebenarnya malas sekali harus terjebak masalah Aldio, kalau bukan Dio ini saudara kandung Lea, sudah pasti dia tak kan perdulikan Dio. "Mana gue tau. Gue ketemu dia sekali doang di klub." Cerca frustasi Dio, ia sendiri tak tahu apa yang terjadi sampai wanita itu mengaku hamil dengannya. "Ah.. berat banget masalah lo. Mendingan lo biarin Nina tenang dulu. Lo mau ikut gue atau balik ke rumah kak Zio." Seru Kaffa. Dio sepertinya enggan untuk beranjak dari sana. Dia masih berharap Nina membukakan pintunya. Apalagi dia tahu hari ini jadwal Bryan untuk bermain bersama Dini itu arti Nina dan Bryan akan berdua saja dirumah, ia tidak bisa membiarkan itu. "Enggak! Gue mau tetap disini." "Lo bego atau apa sih. Nina udah ngusir lo, Yo. Masih aja lo tetap kekeh disini." "Hari ini jadwal Bryan main dengan Dini, gue gak akan biarkan mereka berdua aja dirumah." "Astaga...!! Bisa ya disaat kayak gini lo masih aja cemburu." Kaffa menggeleng pelan, ingin sekali rasanya ia menjitak kepala Dio sekarang juga. Aldio terus menatap pintu rumahnya, ia tak berharap Nina keluar dari sana menemuinya. Tak perduli nantinya Nina akan mencacinya daripada dia makan hati melihat Nina harus berdua dengan Bryan. Tak berselang waktu lama, Nina membuka pintu dengan koper yang diseretnya. "Bawa barang kamu tuh." Ketus Nina melempari koper tersebut pada Aldio. Aldio bangkit, ia terperanjat. Dia tak percaya Nina benar-benar mengusirnya. Ya walaupun rumah itu miliknya, dia mana tega membiarkan Nina berkeliaran diluar sana. Apalagi Nina tak memiliki keluarga di Jakarta. Kecuali Pak Reo yang sudah di anggapnya ayah sendiri. "Sayang.. kamu bercandakan." "Sayang... Sayang... Jangan berani panggil sayang lagi." "Ya Allah, Nin. Kamu segitu marahnya. Lagi pula belum tentu itu anak aku." "Memang kamu punya bukti? Enggak kan. Kamu boleh pulang kalau sudah punya BUKTI." Pekik Nina menggerutu pada Dio. Ah sial..!!! Aldio memang belum punya bukti apapun. Perempuan menjadi biang masalah dalam hidupnya. Seharusnya dia menghilangkan kebiasaan ke klub malam. Beginilah jadinya dia terjebak dengan perempuan yang dia sendiri tidak mengenalnya. "Aku akan buktikannya nanti." "Ya sudah.. kalau begitu tunggu ada bukti kamu kembali lagi." "Tunggu.. Tunggu.." Aldio mencekal tangan Nina. "Jangan pegang aku! Aku jijik dipegang kamu." Tepis Nina pada Aldio. Aldio mengelus dadanya. "Ya Allah.. aku suami kamu, Nin." "Bodoh amat! Pergi dari sini." Nina berkata lalu memasuki rumah dengan menghempaskan pintu. "Lihatkan.. masih mau disini?" Kaffa mengulum senyumnya. Aldio menghempaskan napas lelah. Ia terpaksa harus ikut bersama Kaffa, sampai dia membuktikan pada Nina dia tak bersalah. "Ya sudah. Terserah." Ucap Aldio pasrah. Aldio melangkahkan kakinya yang berat, ia tak suka harus berpisah dengan Nina. Saat masuk ke dalam mobil Kaffa, ia melihat Bryan yang baru datang. "Shit.. itu Bryan. Awas aja dia cari kesempatan gak ada gue." "Berisik lo ah. Bisa-bisanya lo cemburu, mendingan lo pikirkan bagaimana cara buktiin lo gak bersalah." Huft... Aldio malas memikirkannya, ia tak tau apa perempuan itu benaran hamil anaknya atau hanya memainkan sandiwara. Nina saja sampai percaya padanya. "Brensek...!!!" Aldio mengumpat. Dia tak tau lagi dengan cara apa menyakinkan Nina. "Kenapa lagi lo?" "Gue yakin gak hamili tu perempuan. Lo harus bantu gue, Kaf." Aldio memegang tangan Kaffa seolah memohon padanya. "Yo, lepasin tangan gue. Lo gak jijik pegangan tangan dengan adik ipar lo." "Sialan lo, Kaf. Gue serius." Kontan Aldio menghempaskan tangan Kaffa. "Lo harus bantu gue lepas dari perempuan itu." "Bego lo! Dengarin gue, bersihin nama lo. Bukannya melepaskan, lo tau Nina udah pernah kecewa dulu, dan lo jangan lakukan hal yang sama." Cerca Kaffa sambil menyetir mobilnya, ia yakin Dio tidak melakukan kebodohan yang sama seperti Bryan. 'Kaffa benar! Gue harus cari tau siapa perempuan itu. Mau apa sebenarnya dia dari gue? Kenapa dia bisa hamil dari gue? Gue harus pastikan ini. Tapi.. kalau dia benaran hamil anak gue, ah gue belum siap kehilangan Nina lagi.' Menggerutu Aldio dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD