Reyno mengambil tempat duduk persis di depan Deswita. Untuk beberapa saat pria itu menatap Mela tanpa kedip, lalu ia beralih menatap pada Deswita yang duduk di depannya.
“Maaf, saya terlambat. Sebelumnya saya sudah meminta supaya kita bertemu di studio namun atasan kalian meminta untuk bertemu di tempat lain,” ucap Reyno sambil meletakkan tas kerjanya di kursi kosong yang ada di sampingnya.
Deswita mengangguk, senyum tidak lepas dari wajahnya. “Tidak apa, Pak. Kami mengerti,” jawab Deswita.
“Silahkan di makan, setelah ini baru kita perbaiki kontrak kerja yang kemaren,” ucap Reyno kemudian.
Sebenarnya terlalu cepat untuk makan siang, namun hidangan sudah di sediakan dan Deswita dengan cepat menanggapi ucapan Reyno dengan mengambil makanan yang ada di depannya, begitu juga dengan Reyno, pria itu juga melakukan hal yang sama, mengambil sedikit makanan untuk ia makan.
Mela merasa di asingkan di ruangan itu, Reyno dan Deswita saling bercerita sambil memakan makanannya sementara Mela sendiri... selain tidak berselera makan, ia juga tidak bersemangat untuk bergabung untuk bicara bersama mereka. Tidak ada hal yang menarik yang mau Mela ceritakan, suasana hatinya masih kurang bersemangat untuk bertemu dengan Reyno dan Mela yakin... Reyno juga begitu, pria itu pasti tidak suka bertemu dengan Mela.
Usai menghabiskan makan siang, Reyno memerintahkan pelayan untuk membereskan sisa makan mereka. Setelah meja yang di depan mereka bersih, Reyno memperbaiki posisi duduknya, wajahnya menjadi serius dan ia mulai bersuara.
“Saya sudah baca MOU kerja sama perusahaan kami dengan Bank kalian, mungkin saya tidak perlu lagi menjelaskan, kenapa Mou ini harus di ganti,” ucap Reyno sembari melirik pada Mela.
“Kami mengerti, saya pribadi mengucapkan ikut berduka cita atas kejadian yang menimpa keluarga Bapak,” jawab Deswita.
Mela menahan nafasnya, ucapan itu harusnya juga tertuju untuknya. Tapi wanita yang ada di sebelahnya ini tidak pernah mengucapkan kata itu kepada Mela. Sementara Reyno... pria itu menelan ludahnya, rahangnya tampak mengetat, entah apa yang membuat ia marah mendengar ucapan belasungkawa dari Deswita.
“Terima kasih,” Reyno bersuara, wajahnya sudah kembali normal.
“Kami sudah membawa surat kontrak yang baru.” Deswita menyikut Mela. Gadis itu kemudian membuka tas kerja yang ia bawa tadi. Sebuah map ia keluarkan dari dalam tas tersebut dan Mela mulai menyusun lembaran kertas-kertas tersebut di atas meja.
“Bang Rey....”
Kedua mata Reyno membesar, Mela menghentikan ucapannya. Tidak sengaja ia memanggil Reyno dengan cara yang sama dengan Rayan. Mela kembali menarik nafasnya, hatinya sakit namun jantungnya berdetak cepat.
Setelah jantung Mela kembali berdetak normal, ia lalu bersuara.
“Pak Reyno, kami sudah menyiapkan semua berkas yang baru. Saya sudah mengganti nama pimpinan yang lama dengan... nama Pak Reyno,” ucap Mela dengan suara tercekat. Susah payah ia mengucapkan kata tersebut, menyebutkan kata pimpinan lama membuat hatinya kembali tersayat luka.
Mela menyodorkan lembar kertas demi kertas untuk dibaca Reyno, pria itu duduk menyandar di kursinya sambil membaca deretan kata di kertas tersebut. Deswita memperhatikan dengan seksama, terlihat jelas diwajahnya ia sangat mengagumi Reyno.
“Bagaimana kalau nama perusahaannya saya ganti,” ucap Reyno yang membuat Mela menegakkan kepalanya yang tadi sedang tertunduk.
“Maksud Bapak, Rayan’s Studio berganti nama dengan Reyno’s Studio?” tanya Mela.
“Ya.” Reyno berkata dengan jelas sambil menatap langsung pada Mela.
“Bi-bisa saja, tapi seharusnya ini dikonfirmasi dulu sebelumnya biar kami bisa menyiapkan berkas baru dengan nama perusahaan yang berbeda.”
“Tidak usah! Saya hanya bercanda. Tadi itu saya hanya mewanti-wanti kalau ada seseorang yang tiba-tiba datang meminta bagian dari perusahaan ini.”
Reyno kemudian menegakkan tubuhnya, ia mengambil pena yang tersimpan di balik jas yang ia pakai. Lalu ia mulai memberi paraf di setiap lembar kertas yang ia baca.
Sementara itu, Mela mengepalkan kedua tangannya di balik meja. Siapa yang Reyno maksud datang untuk meminta bagian? Mela bukan orang seperti itu, sedikitpun ia tidak pernah terfikir untuk memiliki Rayan’s Studio. Mela bersedia menikah dengan Rayan murni karena cinta. Ia mencintai Rayan, sangat mencintai pria itu. Mela bahkan tidak peduli dengan harta yang Rayan miliki. Sungguh! Mela tidak peduli.
“Pak Reyno bisa tanda tangan di sini,” ujar Mela sembari memberikan kertas yang lain setelah Reyno selesai membubuhkan paraf di semua kertas yang ada di tangannya.
“Rayan’s Studio sebagai pihak pertama.” Mela menunjuk kolom tempat tanda tangan yang harus di bubuhi Reyno. Suaranya bergetar ketika menyebut nama Rayan. Reyno menyunggingkan senyum saat mendengarnya. Senyum kebencian.
“Dan disini tempat untuk tanda tangan pihak kedua.” Mela menujuk kolom tanda tangan yang bertuliskan nama dia sebagai perwakilan dari Bank sebagai pihak kedua dalam kerja sama tersebut. Reyno dan Mela bergantian menandatangani semua berkas tersebut.
“Kerjasama kita berlanjut sampai lima tahun kedepan, setelah itu akan ada perpanjangan kontrak.” Mela menjelaskan.
“Saya tau,” jawab Reyno.
Mela mengumpulkan semua kertas-kertas dan menyusunnya dengan urutan yang benar. Kemudian ia memisah kertas tersebut menjadi dua bagian. Satu akan diberikan kepada Reyno dan satu lagi akan ia simpan sebagai arsip dan digabungkan dengan berkas lain di kantor.
Deswita mengambil map yang berisi berkas punya Reyno yang sudah Mela siapkan, wanita itu memberikan langsung map tersebut pada Reyno. Tidak lupa dengan senyum yang ia buat semanis mungkin agar Reyno tertarik melihatnya.
Mela tidak peduli dengan yang dilakukan Deswita, ia hanya ingin keluar dan pergi dengan cepat dari ruangan itu. Berlama-lama bertemu Reyno mengingatka ia pada Rayan. Kalau saja Reyno memandangnya dengan cara sedikit lebih ramah, Mela bisa saja menganggap Reyno itu Rayan.
Tapi sejak pertama mereka bertemu, Reyno selalu menatapnya dengan tatapan sinis, pandangan tidak suka sehingga Mela harus mengurut dadanya untuk itu.
“Saya mau semua salinan kerja sama ini di kirimkan ke email kantor,” ucap Reyno ketika menerima salinan kontrak yang diberikan Deswita.
“Baik, nanti kami kirimkan, Pak!” jawab Deswita. Wanita itu menyodorkan tangan kanannya pada Reyno ketika melihat Reyno hendak meninggalkan tempat itu.
“Senang bekerja sama dengan perusahaan Bapak,” ucap Deswita.
“Sama-sama.” Reyno menerima jabatan tangan tersebut. Ia menoleh sebentar pada Mela yang sudah berdiri di samping Deswita, namun ia mengacuhkan gadis tersebut dan memilih untuk meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan apa-apa pada Mela.
Mela menggigit bibir bawahnya melihat sikap tidak bersahabat yang diberikan Reyno. Bayangan Rayan yang selalu memuji pria itu berputar-putar di pikiran Mela. Ia juga pernah berjanji akan berusaha mengambil hati pria itu supaya bisa merestui pernikahannya dengan Rayan.
“Dia orang yang baik, aku selalu meminta apapun padanya dan ia tidak pernah menolak.”
“Aku tau hatinya, kami tumbuh bersama. Dia sayang kepadaku tapi juga sayang pada Mama. Ia lebih sering membela dan menyembunyikan kesalahanku di depan Mama, tapi kali ini ... ia mungkin setuju dengan Mama dan tidak berpihak kepadaku.”
“Aku berjanji kepada Mas, aku akan terus berusaha dan tidak akan pernah menyerah untuk mengambil hati mereka. Aku berjanji ... Mas tidak akan kehilangan mereka.”
“Mel... Mela!”
Mela terlonjak, Deswita menggoyang-goyangkan tubuhnya karena Mela kembali melamun.
“Pak Reyno sudah menikah belum?” tanya Deswita ramah. Tumben ia bertanya dengan nada serendah itu pada Mela. Biasanya ia selalu berkata ketus dengan suara yang keras.
“Belum,” jawab Mela sembari mengambil tas kerjanya.
“Boleh saya minta nomor ponselnya?” tanyanya lagi.
“Maaf, Bu! Saya tidak punya.” Mela meninggalkan ruangan tersebut termasuk Deswita yang masih berdiri di dalam sana.