Reyno menatap wajah Mela, ia mencari kebenaran di wajah wanita itu. Mela menanti jawaban Reyno dengan hati yang berdebar-debar, sinar matanya menyiratkan permohonan supaya Reyno bersedia menerima permintaannya. “Maaf, aku tidak bisa!” Reyno menjawab, dan jawaban itu membuat kaki Mela melemah. “Mas... aku datang karena sudah tidak punya jalan yang lain. Sudah dua bulan kami mencari pendonor asing tapi sampai sekararang belum kami temukan pendonor yang cocok. Sementara kondisi Aarick semakin memburuk,” ucap Mela dengan nada memohon. “Jadi kau mencari ku karena aku alternatif terakhir, begitu?” “Bukan seperti itu, Mas. Aku hanya....” “Irene, antar jadwal ku hari ini.” Reyno menghubungi sekretarisnya yang membuat Mela menghentikan ucapan. “Mas, tolong pikirkan lagi permintaan ku. Aku

