TIGA TAHUN KEMUDIAN

1282 Words
Reza memancarkan aura seorang Raja. Langkahnya tegas dan mantap, konvoi tim Direksi mengikuti di belakangnya. Kesombongan, arogansi dan dingin menaungi wajah Reza, yang tampan. Semua karyawan menunduk hormat menyambut kedatangan Reza dan kedua orang tuanya. Hotel Alladin yang merupakan hotel bintang tujuh. Hotel di bawah asosiasi perusahaan Reza, akan menjadi tempat pertunangan dan pernikahan CEO tampan itu. Sheila Anastasya, model cantik yang menjadi Brand Ambassador hotel Alladin, akan menjadi istrinya. Aula utama dan resepsi VIP rooms di lantai dua puluh satu, akan menjadi saksi janji suci mereka. ********** "Ini konsep yang pernah di pakai, putrinya Ibu Megamarni, saat akad nikah!" Sarah menunjukkan dekorasi serba putih, dengan bunga kertas warna senada menghiasi ruang resepsi. "Ini konsep pelaminan, yang pernah dipakai Rustina Zahra. Beliau menggunakan bunga segar sebagai pelaminan." Sarah menunjukkan pelaminan penulis terkenal abad ini, pada Sheila. "Semuanya tampak bagus, saya diskusi dulu sama calon suami." ucap Sheila berbinar-binar. Ia tidak sabar menunjukkan, desain dekorasi pelaminan pada Reza. Sayang pria itu, tidak bisa menemaninya saat ini, karena sedang meeting dengan pemegang saham. "Kalau begitu saya juga harus permisih, karena harus menjemput anak saya di Sekolah!" Sarah berdiri, menjabat tangan Sheila. "Jika ada perubahan tema dan konsep. Tolong hubungi saya," ujarnya lagi, seraya menyapirkan tas di bahu. Sarah berjalan meninggalkan lobby. Tepat saat Reza turun untuk, menemui Sheila di kafetaria. ********** "Sayang sekali. Kak Amel baru saja pergi, kamu sedikit terlambat." Sheila tersenyum, melihat Reza mendekat. Reza tersenyum masam,"tidak masalah!" Ia mencebikan bibirnya yang seksi. Sheila menunjukkan, contoh desain dekorasi pelaminan pada Reza. "Mereka sangat bagus," Sheila berharap lebih pada pria di depannya ini, tapi Reza hanya mengangguk, ia tidak begitu perduli tentang dekorasi, resepsi dan segala hal tentang pernikahan. Sheila yang menentukannya sendiri, seolah pernikahan ini hanya miliknya sendiri. "Pilih yang kamu sukai, atau jika punya desain lain, aku baik-baik saja!" ucap Reza acuh tak acuh. Sheila bisa merasakan tidak adanya cinta dalam diri calon suaminya. Ia hanya menerima dengan mudah, perjodohan ini. Demi menyenangkan orang tuanya, dan juga demi keturunan. Sheila merasa kesepian dan hampa, ia berfikir mungkin Reza, bisa berubah setelah menikah. "Oke bisa dibahas lagi lusa. Kak Amel ingin melihat lokasi akad nikahnya," tukas Sheila tetap tersenyum. "Aku berharap kamu bisa hadir, jika tidak sibuk." imbuhnya lagi, sedikit berharap. "Aku usahakan," jawab Reza santai. Ia kembali, ke lantai dua puluh satu, dimana kantornya berada. Setelah kejadian malam itu, yang melukai sisi gentlemannya, Reza sangat dingin dan kasar pada wanita, termasuk Sheila calon istrinya sendiri. ********** Sore hari pukul tiga. Sarah tertawa terbahak-bahak. Ia menatap Justin dan Kevin. Anak kembarnya yang penuh lumpur. Mereka membantu Pak Bejo, tukang kebun di rumah Sarah, untuk menanam brokoli. Hasilnya, tubuh kedua bocah itu, penuh dengan lumpur, dari ujung kaki, sampai ujung kepala. "Kalian mirip babi yang mandi lumpur!" Duo kembar, mencebik, mendengar ejekan sang ibu. Sarah tersenyum geli, melihat wajah lucu kedua putranya "Ayo cepat mandi, temani Mami berbelanja!" Kedua bocah kecil itu, segera berlari menuju kamar mandi. Keduanya, saling menggosok tubuh yang tak bisa dijangkau. Lima belas menit kemudian. Sarah mengajak kedua jagoannya, mengunjungi Mall di dekat rumah. Ia ingin berbelanja bulanan. Sementara Justin dan Kevin harus mendapatkan mainan terbaru edisi terbatas. Dari sisi lain Mall, iringan mobil Reza tampak berderet, memenuhi parkiran VIP mall ini. Sheila berencana memilih cincin pernikahan, atas desakan ibu Reza. Akhirnya pria itu, mau menemani Sheila memilih cincin. Reza tampak enggan, ia hanya mengiyakan apa yang ditunjukkan Sheila. Pengawal Reza membuka jalan untuk Tuannya. Reza dan Sheila berjalan ditengah, sementara pengawalnya berjajar disisi kanan dan kiri. Toko perhiasan langganan Sheila di bersihkan dari pengunjung. Meskipun bibirnya tersenyum, tapi hati Sheila seperti ditusuk pedang. Calon suaminya, tidak pernah sama sekali menatapnya. Sheila bisa merasakan, ada orang lain di mata Reza. Tapi Sheila berusaha tidak perduli. Sheila benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama, dengan pria kuat ini. ********** Sarah mulai bosan menunggu kedua bocah kembar itu, memilih mainan. Ia sudah selesai berbelanja, lalu menyimpannya di bagasi mobil, saat Justin dan Kevin sedang asyik memilih mainan. Mulai muncul ide iseng dikepala, ibu dua anak itu. Ia tersenyum jahil, dengan santai meninggalkan Justin dan Kevin, untuk berbelanja baju dan tas. Kevin lebih dulu, menyadari ibunya tidak ada. "Justin Mami mana?" Justin pun mengisyaratkan dia tidak tahu. "Justin coba cari Mami di toilet, sementara aku membayar mainannya," instruksi Kevin pada saudara kembarnya. Meskipun keduanya cukup mandiri dan cerdas, tapi keduanya tetap bocah kembar yang masih berusia tiga tahun, saat melihat mainan. Meskipun baru berusia tiga tahun. Justin dan Kevin cukup mampu untuk menyelesaikan pembayaran. Dengan tenang menuliskan alamat rumahnya agar mainan yang mereka pilih di kirim. Keduanya tidak panik atau menangis, saat menyadari mereka terpisah dengan ibunya. Orang-orang di sekitarnya, di buat tercengang. Coba jika itu anak mereka, pasti menangis meraung-raung karena terpisah dari orang tuanya. Justin kembali tanpa hasil. Bahu Kevin merosot putus asa, sambil menghela nafas lelah. Orang-orang dibuat tertawa, karena kelakuan menggemaskan kedua bocah ini. "Ayo keruang informasi!" Ajak Justin, yang di ekori Kevin. Toko perhiasan di booking untuk Reza pribadi. Reza juga membooking seluruh lantai tiga.Ia tampak bosan di sana, jika bukan karena desakan ibunya, Reza enggan memilih cincin pernikahan. Kevin dan Justin bingung karena lantai tiga sepi dari pengunjung. Kevin berfikir pria bertubuh kekar yang berdiri, didepan toko perhiasan itu, pasti petugas keamanan Mall. Justin pun berpikir serupa. Kedua bocah polos itu, mendekati pengawal Reza. Tanpa rasa takut sama sekali. Reza tersenyum menatap kedua bocah itu, ia terus mengawasinya. Pengawal itu ingin mengusir kedua bocah kembar itu, tapi Reza menggelengkan kepalanya. Pengawal itu kembali, keposisinya. "Permisi Tuan! Apa Anda petugas keamanan Mall ini?" Reza mengangguk pada bawahannya. Saat Justin bertanya dengan sopan dan santun. "Itu benar, apa yang bisa kami bantu?" Pengawal itu tersenyum dan ramah. "Kami tersesat. Kami ingin tahu dimana ruang informasi!" Kevin menambahkan dengan sopan. "Kamu bisa pilih yang kamu suka, tagihannya serahkan pada Sekertarisku." ucap Reza, acuh tak acuh pada Sheila. Ia mendekati Justin dan Kevin. "Kebetulan sekali, Uncle ada keperluan di ruang informasi, mau pergi bersama?" ajak Reza pada kedua bocah itu. Sheila menatap punggung Reza dan kecewa. Hatinya serasa dicubit berulang kali. RUANG INFORMASI "Mami kita ketinggalan di toko mainan loh," ucap Kevin di micropon. Cukup untuk di dengar seisi Mall, dan membuat tertawa terpingkal-pingkal. "Kita ada di ruang informasi, lantai lima, dari Timezone belok kiri, dan ruang informasi ada di samping restoran masakan Jepang, siapa yang tahu nanti mami tersesat," imbuh Justin, lagi-lagi membuat pengunjung Mall tertawa. Sarah yang sedang melakukan pembayaran, menjadi malu. "Justin! Kevin!" geramnya bermonolog. "Ya ampun itu putranya? Lucu banget, pinter banget!" Seorang ibu yang mengantri dibelakang Sarah, memuji Justin dan Kevin. "Coba anak saya yang hilang, cuman bisa nangis, boro-boro mau ngomong!" keluh seorang ibu. Sarah makin malu, tapi juga bangga dengan kedua jagoannya itu. "Siapa nama kalian?" Reza memulai percakapan dengan kedua bocah kembar ini. Keduanya cukup berani dan cerdas, entah kenapa Reza merasakan emosi yang tidak bisa ia ungkapkan. Seperti familiar, dan ada rasa rindu yang dalam. "Kevin Uncle dan ini adik saya Justin, kita saudara kembar, beda satu menit saja!" Kevin bersemangat. Reza tampak geli. "Berapa usia kalian? Kenapa kalian bisa terpisah dari ibu kalian?" tanya Reza. "Tiga tahun Uncle...belum Kevin kita belum ulang tahun yang ketiga, dua tahun lima bulan." Justin menyela saudara kembarnya. Justin tidak bisa mendengar, ketidak tepatan jawaban. Menurutnya jawaban itu harus benar dan akurat. Reza tertegun ia seperti melihat pantulannya sendiri, saat melihat Justin dan Kevin. Saat Reza sibuk dengan pikirannya sendiri. Suara lembut menyapa dari belakang. "Sudah puas, membeli mainan!" Sarah mendekat dengan anggun. Tangannya bersedekap, di depan d**a. "Siapa suruh Mami ninggalin kita?" keluh Justin. Reza berbalik untuk melihat asal suara. Reza berdiri, terkejut, speechless menatap wanita culun yang ia cari selama ini. Kini berdiri di hadapannya, elegan, anggun dan cantik. "SARAH!" To Be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD