4. Liku dan luka

996 Words
__ Mentari yang terbit, tak pernah menjanjikan harinya akan selalu benderang. Terkadang, munculnya adalah untuk mengundang sang badai. __ . . . Denada mengetuk-ngetuk dagunya dengan bolpoin di tangannya. Tatapannya tidak terpusat ke arah mana pun, menandakan gadis itu yang sedang mengelana di dalam benaknya. Kejadian kemarin di kedai kopi membuatnya sedikit tidak nyaman. Perkataan Alex yang ia tahu menyinggung perasaan Dean dan dirinya yang tidak berbuat apapun untuk membela pemuda yang ia sukai itu seperti terus menghantui dirinya. Tatapan dingin Dean juga tangannya yang mengenggam tray dengan cukup erat setelah menaruh beberapa cup kopi pesanan mereka itu tidak luput dari perhatian Nada. Walau pun bilah bibir pemuda itu tidak mengucapkan balasan sedikit pun kepada mereka, Nada yakin dengan pasti jika pemuda itu tidak baik-baik saja mendengar ucapan menyebalkan yang Alex lontarkan. "Daripada kerja di Café paman gua, mending lu jadi kacung gua aja. Gajinya lebih gede kok, ya cukup lah buat sekedar beli Iphone. Kasian kan orang miskin kayak lu gak mungkin bisa ngerasain punya barang mewah." Kekehan mengejek Alex membuat napas Dean sedikit berat. Nada hanya diam memerhatikan sisi rahang Dean yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya saat pemuda itu membungkuk kecil untuk menaruh cup kopi dari tray ke atas meja. "Gini deh, lu jadi kacung gua dan jauhin Denada, gua kasih 20 juta. Lu bisa beli motor bekas biar kesekolah gak perlu naik ontel reot lu itu lagi," ujar Alex lagi kali ini dengan pandangan merendahkannya yang membuat Nada merasa tidak nyaman. Kilas balik tentang kejadian kemarin membuat Nada kembali memejamkan matanya. Andai saja ia memiliki lebih banyak keberanian untuk menentang ucapan Alex, mungkin ia bisa sedikit saja membuat hari Dean jauh lebih baik. Andai saja jika tidak benang yang mengikat di antara dirinya dan Alex, mungkin Nada bisa jauh lebih leluasa menipali ucapan pemuda itu dan membela pemuda yang sudah mencuri hatinya selama ini. "Aduh!! Kenapa gue harus diem aja sih kemarin pas itu cowok kasarin Dean ...," sesal Nada lirih, ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan sebelum merengek kecil, mengabaikan Sekar yang langsung menoleh ke arahnya. "Kenapa sih, Nad? Mendingan lo cerita deh sama gue daripada ngedumel sendiri mulu. Gue jadi gak fokus ini nyusun arsip anak-anak eskul," ujar Sekar sedikit mengomel. Denada menggelengkan kepalanya lalu berujar kata maaf sebelum memilih untuk menelungkupkan wajahnya di atas kedua tangannya yang ia lipat di atas meja. Ketika ia memejamkan matanya, tatapan dingin Dean sore kemarin kembali terbayang. Sorot yang sulit diartikan itu seperti mengundang banyak tanya di kepala Denada, membuat gadis itu semakin ingin mengetahui apa sebenarnya yang menjadi alasan pemuda itu tidak pernah menunjukkan senyumannya. Denada berani bertaruh jika saja Dean jauh lebih friendly mungkin pemuda itu bisa menjadi salah satu siswa populer di sekolahnya. Dean pintar, bertubuh tinggi tegap, hidungnya bangir dengan alis tebalnya yang semakin memperindah gurat wajahnya. Tuhan benar-benar nyaris memberikan pemuda itu nilai sempurna, jika dia tidak memiliki sifat dingin dan tertutup seperti ini. "Kenapa Dean gak pernah marah ya kalo dia di-bully atau dikatain gak enak sama geng nya Alex?" Denada bertanya masih seraya menelungkupkan wajahnya, suaranya sedikit teredam namun Sekar yang berjarak satu meja dari nya masih bisa mendengar ucapan teman OSIS nya itu. "Mungkin dia cuma males ribut?" timpal Sekar dengan pertanyaan juga. Nada berdecih pelan sebelum mengangkat wajahnya dan menatap Sekar seraya mencebik sebal. Beberapa helai anak rambutnya menempel di pipi, namun gadis itu hanya membiarkan, membuat Sekar menatapnya sambil mengerutkan kening karena biasanya Nada tidak pernah sudi untuk terlihat berantakan oleh siapapun termasuk dirinya. "Gak mungkin, Kar. Sebodoamat apapun orang, gue yakin ada batas sabarnya. Alex kurang ajar sama dia bukan cuma sekali dua kali, loh ... dari kelas sepuluh geng mereka selalu aja nyari masalah sama Dean," ujar Nada sedikit merengek sebelum melanjutkan ocehannya, "Kek, gue kadang gak habis pikir aja. Padahal Dean selalu diem dan gak pernah nyari ribut sama siapa pun termasuk mereka! Ishh!" sambung Nada dengan wajah yang memerah dan napasnya sedikit memburu. Seringai tipis muncul di wajah Sekar. Gadis itu menaruh map folder berisikan data dari semua esktra kulikuler yang ada di sekolah mereka ini ke atas meja sebelum ia berjalan menghampiri Nada yang sudah kembali menelusupkan wajahnya di antara kedua lipatan tangannya. Gadis dengan rambut hitam legam yang selalu dikucir kuda itu perlahan duduk di ujung meja tempat Nada mengeluh dan merengek. Jemari rampingnya menepuk pelan puncak kepala Nada, membuat gadis yang rambutnya terurai itu langsung menoleh namun tetap membiarkan kepalanya menyandar di lipatan lengannya. "Huft ... gini deh, Nad. Menurut gue, kalo lo pengen Alex berhenti, kenapa gak coba lo ajak ngobrol dia aja? Kalian kan deket, ya walaupun gue tau hubungan kalian sebatas apaan. Tapi, kalo lo ngomong baik-baik harusnya si Alex mau sih dengerin lo," usul Sekar yang langsung dibalas dengan rengekan tidak setuju dari Denada. "Enggak, Kar. Itu bukan ide bagus, yang ada nanti Alex malah makin menjadi. Lo kan tau dia selalu ngehalangin siapapun yang keliatannya deketin gue," tungkas Nada. "Lagian, kali ini kan gue yang berniat deketin Dean bukan Dean yang ngejar gue ... Gue gak mau Dean berakhir kayak Martin," lanjutnya lagi sedikit bergumam. Helaan napas Sekar terdengar berat ketika mendengar satu nama yang Nada ucapkan. Keduanya terdiam, sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing dengan rasa berat yang perlahan memenuhi relung hati mereka. "Lo salah satu yang ditunjuk buat jadi pendamping anak-anak olimpiade taun ini kan, Nad?" ujar Sekar memecah keheningan di antara keduanya. "Hu'um," gumam Nada menimpali. "Gimana kalo lo bilang sama Alex tentang lo yang deketin Dean itu karena tanggung jawab yang dikasih sama Pak Sugeng? Kalo kayak gitu harusnya dia gak akan mikir Dean deketin lo, kan?" saran Sekar. Nada perlahan mengangkat wajahnya, membalas tatapan Sarah sebelum mengangguk dengan bias ambisi yang kembali tersirat di mata nya. Tekadnya kembali membara. Kali ini, Denada tidak akan membiarkan Alex atau siapa pun itu menghalangi langkahnya. "Lo bener! Gue bisa pake cara itu dan gak akan pernah biarin Alex bikin Dean jadi kayak Martin!" tegas Nada. Keduanya saling menatap sebelum mengangguk mantap, sebelum sebuah suara menginterupsi mereka. "Martin?" Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD