___ Bukan hanya diri yang harus memiliki tempat berteduh, hati pun butuh tempat untuk berbagi peluk. ___
.
.
.
Menjadi yang terpintar bukan berarti menjadi yang terkuat di sekolah. Seperti Deandra, siswa dengan prestasi paling bagus dan selalu mendapatkan ranking satu di sekolahnya itu menjadi korban perundungan hampir setiap harinya.
Alasan utama dari perundungan itu adalah tingkatan kasta yang seharusnya udah gak dipermasalahkan lagi di era modern seperti sekarang, namun kenyataannya cuma karena sepeda butut yang dipakai Dean ke sekolah, pemuda berumur 18 tahun itu selalu mendapat cemoohan dari teman-temannya yang memiliki harta jauh lebih banyak ketimbang dirinya.
Napas Dean terengah ketika dia harus mengoes pedal lebih kuat lagi agar sepeda ontel tua berwarna cokelat pudar ini bisa berjalan lebih cepat dan meninggalkan gerombolan teman-temannya yang sedang mengejar menggunakan sepeda motor, walau sepertinya cukup mustahil karena raungan motor Alex terdengar semakin dekat.
Alex dan komplotan anak kelas dua belas itu mengejarnya ketika Dean baru saja membuka karet pengunci sepedanya di parkiran khusus sepeda.
Alasannya sepele, Alex tidak terima ketika Nada yang notabene nya adalah siswi paling cantik dan paling populer di sekolah mereka itu mengajak Dean berbicara ketika jam istirahat kedua tadi.
"Berhenti lo, Miskin!"
Dean hampir saja tersungkur saat motor Ducati berwarna putih dengan aksen merah itu menghadang jalannya.
Wajah Dean pias melihat Alex yang sudah melepaskan helm dan turun dari motor sport kebanggaannya itu. Dalam hatinya, Dean hanya bisa merapalkan doa agar teman satu kelasnya ini mau berbaik hati dengan tidak menimpukkan helm di tangannya itu ke atas kepala Dean hari ini.
Sisa kemarin saja masih terasa berdenyut nyeri.
"Gua udah pernah bilang, orang miskin kayak lu itu gak pantes deketin Denada. Tapi, lu ngeyel juga ya? Mau lu apa sih? Duit? Orang miskin kayak lu sukanya duit kan?" Kalimat merendahkan dari Alex membuat wajah Dean merah padam.
Dean tidak mengerti dengan jalan pikir orang tajir seperti Alex. Apa karena mereka kurang perhatian dari orangtua yang lebih mementingkan harta, jadi tutur kata yang keluar dari mulut anaknya jauh lebih busuk daripada sampah sekalipun? atau memang mereka semua tidak pernah menyerap ilmu adab karena terlalu banyak menyantap uang yang tidak berkah?
"Gua gak deketin Nada," timpal Dean sembari berusaha kembali menjalankan sepedanya, sebelum Alex menahan sepeda ontel miliknya tepat di kawat keranjangnya yang langsung berubah penyok gara-gara doroangan kuat yang pemuda itu lakukan untuk menahan agar Dean tidak kabur.
"Lu pikir gua buta, hah?! Jam istirahat kedua, ngapain lu makan satu meja sama Nada kalo bukan mau deketin dia?"
Ah, pas istirahat tadi, ya?
Istirahat jam kedua tadi, Nada atau Denada, sekertaris OSIS yang cantiknya gak ketulungan itu memang menghampiri Dean untuk menyampaikan beberapa pesan dari ketua OSIS perihal lomba speech yang bakalan Dean ikutin bulan depan.
Tidak ada hal lebih yang mereka bicarakan. Lagi pula, mana mungkin gadis dari keluarga kaya raya yang datang ke sekolah saja membawa mobil sendiri, mau didekati oleh pemuda miskin yang bahkan ayahnya adalah pesakitan yang masuk penjara karena ketahuan mengedarkan narkoba.
"Lebih baik, lu tanya langsung sama Nada. Ada gak gua deketin dia selama ini?" ujar Dean sebelum dengan paksa menarik sepedahnya dan mendorong sepeda itu beberapa meter dari Alex sebelum ia kembali menaiki dan mengoes sepeda itu menuju rumahnya.
Meninggalkan Alex yang menggerutu dan beberapa temannya yang ternyata sedari tadi memerhatikan mereka di belakang Dean.
"Liatin aja! Gua bakalan bikin hidup lu makin gak tenang!" seruan penuh emosi Alex itu sayup terdengar saat Dean membelokkan sepedanya menuju gang sempit yang berada di ujung jalan tempat mereka berbicara tadi.
Ya, semoga saja ucapan pemuda itu bukan alarm mimpi buruk bagi Dean. Karena, Demi Tuhan, masih banyak hal yang lebih penting yang harus Dean lakukan ketimbang mengurusi cecunguk seperti Alex dan teman-temannya.