2. Kue Pukis dan Ayah

1347 Words
__ Tidak ada kenangan yang hilang, mereka hanya terkubur di dalam rasa 'biasa'. __ . . . "Kue pukis lagi?" ujar seorang pria paruh baya di balik tralis besi ruangan berukuran 2x4 meter. Di belakangnya, ada seorang petugas kepolisian yang berdiri mengawasi sambil menghalangi pintu satu arah yang menjadi satu-satunya akses untuk masuk ke Ruang Kunjungan. "Itu kesukaan Ayah," timpal Dean datar. Pemuda berumur 18 tahun itu duduk di sisi lain dari tralis besi tersebut. Matanya menyelidik, menatap tubuh sang ayah yang terlihat semakin kurus di setiap kunjungannya ke Rumah Tahanan. Sudah genap empat tahun sang ayah menjadi pesakitan. Dan sudah empat tahun pula Dean menjadi tulang punggung untuk keluarga kecil mereka. Ayah kelihatan mengangguk kecil sebelum mengulurkan tangannya dari cela tralis besi untuk mengambil keresek hitam berisikan kue pukis yang masih terasa hangat. Senyum tipis terpatri di wajahnya yang sudah terlihat semakin tua sebelum ia kembali besuara. "Dinda gimana kabarnya? Masih suka ngamuk kalo minta jajan?" tanya Ayah. Dean menunduk, teringat sang adik yang merupakan anak berkebutuhan khusus yang sedang ia tinggalkan di rumah seorang diri saja sekarang. Beruntung, tetangganya di rumah susun itu berbaik hati mau membantu Dean mengawasi adiknya ketika ia harus pergi sekolah dan bekerja. "Enggak, Yah. Dinda baik, selalu nurut kalo Dean kasih tau," balas Dean pelan. Nada suaranya masih datar. Warna nya sudah hilang sejak lima tahun lalu. Raut ceria tidak pernah lagi ia tunjukkan, begitu juga dengan nada bicaranya yang terdengar semakin tidak ada emosi. "Maafin Ayah ya, Nak? Kalo Ayah bisa lebih hati-hati lagi milih kerjaan, Ayah gak mungkin ninggalin kalian berdua." Kepala ayah menunduk dalam, menyembunyikan air mata yang menggenang di pelupuk matanya dari sang anak. "Ayah cuma bisa repotin kamu aja sekarang, Ayah gak bisa nafkahin kalian dan kamu harus sisihin waktu main buat jadi tulang punggung keluarga. Sebenernya, Ayah gak punya muka tiap kali kamu dateng ke sini," lanjut pria paruh baya itu. "Kita gak apa-apa, yang terpenting sekarang Ayah harus tetep koopratif sama para petugas. Beberapa bulan lagi, Ayah bakalan bebas dan kita bisa kumpul kayak dulu lagi." Dean berusaha menenangkan sang Ayah. Bohong jika hati Dean tidak teriris mendengar penuturan ayah. Ya, memang benar ia harus mengorbankan waktu bermainnya untuk mengurus Dinda dan juga bekerja demi menghidupi dirinya dan sang adik. Namun, Dean bisa apa sekarang? Semuanya sudah terjadi, ia hanya harus berjuang demi melanjutkan kehidupan. Pemuda dengan tinggi 180 cm itu berdiri lalu mendekatkan tubuhnya ke tralis besi. Jemarinya terkepal di kedua sisi tubuhnya, walaupun jaraknya dengan sang Ayah sudah sangat dekat, namun besi ini menghalangi interaksi keduanya. Dalam lubuk hatinya, Dean ingin sekali membawa tubuh ringkih sang ayah untuk ia dekap. Dean tidak pernah membenci ayah atas semua yang pernah pria itu lakukan. Hatinya hanya mengutuk satu orang, dan itu bukanlah sang ayah. "Besok, Dean bawain ayam krispi," ujar Dean sebelum memutus kontak mata mereka. Semenjak ayah dipenjara, Dean rutin mengunjunginya seminggu sekali. Membawakan makanan dari luar untuk ayah, dan bercerita sedikit tentang harinya yang jauh dari kata menyenangkan. "Makasih, Nak." Bunyi gemerincik rantai yang bertaut di borgol yang mengunci kedua tangan sang ayah membuat Dean memejamkan matanya sejenak, hatinya sedikit linu walaupun wajahnya hanya menunjukkan raut dingin seperti biasanya. Dean kembali memerhatikan wajah sang ayah, menatap pria itu sendu sebelum bergantian menatap seorang petugas yang sedari tadi menjaga akses masuk ayahnya ke Ruang Kunjungan itu. Dalam hati kecilnya, Dean ingin sekali meminta izin untuk bisa mendekap ayah satu menit saja. Dean ingin bertemu dengan ayah tanpa tralis besi yang memisahkan merka. Dean ingin mengadu tentang rasa lelahnya hari ini, tapi pemuda itu juga tidak ingin menambah beban pikiran ayah dan membuat tubuh pria itu semakin kurus nantinya. "Dean pamit pulang dulu, Yah. Jam tujuh nanti Dean harus kerja," pamit Dean. Dean harus pulang, sebelum rasa lelah ini benar-benar membuatnya meminta untuk masuk ke dalam sana dan mendekap tubuh ayah dengan sangat erat. Ia kembali menatap petugas yang berjaga sebelum mengenggam salah satu tralis besi yang menjadi penghalang mereka. Usapan lembut dari jemari kasar sang ayah bisa ia rasakan di beberapa buku jemarinya, dan hanya sebatas itu lah interaksi fisik yang bisa mereka lakukan selama empat tahun terakhir ini. "Inget buat istirahat ya, Nak. Jangan terlalu forsir diri kamu, kalo butuh uang kamu bisa jual barang-barang lama kita," ujar ayah saat Dean melepaskan tangannya. Mengangguk kecil sambil tersenyum simpul, Dean perlahan berjalan keluar dari Rumah Tahanan itu setelah berpamitan dengan para penjaga di sana. Hatinya ingin sekali berterus-terang kepada ayah, jika barang-barang mereka sudah habis terjual di tahun pertama pria itu menjadi penghuni lapas. Namun, Dean sekali lagi tidak ingin menambahkan beban pikiran kepada ayah. Selagi fisiknya mampu, Dean akan bekerja untuk menghidupi dirinya dan sang adik. *** "Ini pesanannya, Kak. Selamat menikmati." Cangkir berisikan caramel macchiato berpindah tempat dari nampan kayu yang dibawa pemuda itu menjadi ke atas meja di depan seorang wanita dengan rambut berwarna cokelat. "Makasih, Mas," ujar wanita itu. Suaranya lembut dan terdengar sangat elegan di telinga Dean. Percis seperti suara para podcaster atau mungkin seseorang yang sudah terbiasa mengisi sebuah acara. Dean mengangguk, ketika ia akan kembali mengambil pesanan pelanggan yang lain, wanita tadi menahan lengan kirinya. Membuat mau tak mau Dean berhenti dan kembali membalikkan tubuhnya ke arah wanita itu. "Kamu ganteng, kenapa malah milih jadi pelayan di kedai kopi?" ungkapnya. Dean menyeringit bingung. Ia hanya bisa mengangguk canggung dan memaksa jemari wanita itu untuk melepaskan lengannya. Ia tidak pernah suka kontak fisik dengan orang lain, terlebih jika itu adalah wanita. "Saya cuma part time, Mbak. Permisi," balasnya sebelum kembali melangkah. Namun, lagi-lagi wanita itu menahan tangannya. Dean memutar bola matanya jengah, ia rasa jika orang ini terus menahannya, ia akan segera mendapatkan teguran dari pemilik kedai ini karena membuang-buang waktu kerjanya. Lalu, jika itu terjadi, Dean akan kembali mendapatkan surat peringatan dari pria paruh baya dengan perut buncit itu. "Ada yang bisa saya bantu?" ujar Dean datar. Dia sudah tidak peduli dengan nada bicaranya, yang terpenting sekarang adalah ia harus kembali bekerja. Wanita tadi hanya terkekeh menimpali perkataan Dean. Ia terlihat tidak terganggu sama sekali dengan cara bicara pemuda itu yang terkesan tidak sopan. Dia malah meronggoh tas tangannya lalu menyodorkan secarik kertas berisikan nama dan kontak miliknya. Kartu nama dengan bahan kertas tebal dan tulisan berwarna emas mengkilap. "Nih, kalo kamu butuh uang banyak dan berencana 'jual' wajah ganteng kamu itu, kamu bisa hubungin saya," ujarnya. Walau bingung, Dean tetap mengambil kartu nama yang disodorkan agar Wanita itu tidak kembali menahannya dan ia bisa melanjutkan pekerjaannya. "Permisi, Mbak," ujar Dean dan langsung melangkah menjauhi meja tadi. Saat Dean sudah kembali ke depan meja barista di Café ini, sang barista yang bernama Fahmi itu menegurnya-sedikit menggodanya sebenarnya. "Dapet nomor cewek lagi, Bro?" tanya Fahmi. Dean hanya terkekeh kecil sembari menaikkan gelas-gelas berisikan kopi itu ke atas nampannya. "Apa sih lu, Bang," sahut Dean. "Gua kek nya malah ditawarin buat hal yang enggak-enggak. Katanya, disuruh hubungin dia kalo mau jual wajah," lanjut Dean setelahnya. Fahmi terbahak mendengar ucapan Dean. "Gua bilang juga apa, wajah lu itu emang menjual. Cocok lah buat jadi model iklan. Lu diterima part time di mari juga 'kan karena wajah lu, kalo gak gitu mana mau Pak Beni nerima lamaran bocil SMA," kata Fahmi sambil sedikit mencebik. Dean terkekeh kecil setelahnya. Ya, bisa dibilang dia memang cukup beruntung karena memiliki wajah yang lumayan di jaman sekarang, di mana kualifikasi paling atas untuk melamar kerja adalah good looking! Sudah bukan rahasia lagi jika Pak Beni-owner kedai kopi ini-menerimanya menjadi pelayan di sini untuk menrik pelanggan. Terbukti dari beberapa gadis yang selalu menjadi langganan mereka semenjak Dean bekerja di sana. "Terus, lu terima tawarannya? Lumayan loh bayarannya. Bisa 10 kali lipat daripada gaji lu sekarang," sambung Fahmi ketika gelas terakhir sudah berada di atas nampan. "Bayarannya gede, tapi tau-tau gua balik cuma tinggal nama," balas Dean. "Gue nganterin ini dulu, Bang," ujar Dean lagi sebelum sempat Fahmi menimpali ucapannya. Kakinya melangkah menuju meja yang berada di pojok ruangan. Meja itu berisikan lima orang gadis seumuraannya juga dua orang pemuda yang amat sangat Dean kenali. "Oh, hai. Gak nyangka ternyata Si Miskin kerja di Café paman gua," ujar salah satu pemuda itu dengan congak. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD