Angelia baru saja keluar dari kantornya. Ia tengah berjalan menuju halte bus seperti biasa. Tetapi baru
beberapa meter menjauh dari kantornya, suara klakson mobil begitu mengganggunya
membuat Angelia menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara dimana sebuah mobil sport mewah berhenti tak jauh darinya.
Ia dapat melihat siapa sang empu yang ada di dalam mobil itu. Itu adalah
Direkturnya Mr. Danial atau Regan. Angelia pun berjalan mendekati pintu mobil
dimana kaca mobilnya sudah di turunkan.
“Emm ada apa Pak?” tanya Angel menundukkan badannya hingga ia bisa melihat wajah
tampan Regan.
“Naiklah,” perintahnya terdengar tak terbantahkan.
Angel melihat kanan kirinya dan ia pun langsung menaiki mobil itu tanpa mengatakan
apapun lagi.
“Kita akan membahas masalah pecat tadi,” seru Regan dengan nada tenang membuat Angel
berdebar tidak karuan.
‘Haduh masa aku harus menjadi pengangguran sih,’ batinnya.
Regan membawa Angel ke dalam sebuah restaurant. Mereka sudah duduk berhadapan dan
memesan makanan masing-masing.
“Jadi bagaimana?” tanya Angel tidak sabar dengan keputusan Regan.
“Apa kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini?” tanya Regan masih menggoda Angel.
Padahal mana mungkin ia memecat karyawannya tanpa alasan yang jelas.
“Iya. Aku tidak seperti Mr. Danial yang tidak kekurangan biaya hidup dan pekerjaan
seperti ini sangat berarti untukku,” seru Angel.
Regan terlihat menarik nafasnya dan duduk bersandar dengan begitu santai dan nyaman.
“Baiklah, aku tidak akan memecatmu karena kesalahanmu yang sudah kurang ajar
padaku beberapa hari lalu. Tetapi aku ada sedikit penawaran padamu,” seru
Regan.
“A-apa itu?” tanya Angel.
“Apa kamu berniat mengambil kerja sambilan?” tanya Regan.
“Kerja sambilan?”
“Iya, dengan gaji yang besar. Aku bisa memberikannya padamu,” seru Regan. “Kamu
tinggal sebutkan saja ingin gaji berapa. Aku bisa memberikannya padamu,” ucap
Regan menyebutkan beberapa nominal yang berhasil membuat Angel membelalak
lebar.
“Tapi pekerjaan seperti apa yang anda tawarkan? Anda tidak meminta saya untuk menipu
orang atau membunuh seseorang, kan?” seru Angel dengan tatapan horornya membuat
Regan terkekeh dan itu membuat Angel terpaku di buatnya.
‘Bagaimana bisa Tuhan menciptakan pria setampan dan sesempurna ini? bahkan saat tertawa saja begitu merdu dan sangat menawan,’ batin Angel.
“Pekerjaannya mudah saja. Kamu hanya perlu selalu siap saat aku memanggilmu dan memintamu
datang,” seru Regan.
“Hanya begitu?”
“Iya. Bagaimana? Mudah, bukan?”
Angel termenung sesaat. “Iya memang mudah tetapi itu terlalu mencurigakan,” seru
Angel.
“Apa yang mencurigakan? Aku tidak akan berbuat apapun padamu. Aku hanya meminta
bantuanmu dalam beberapa pekerjaan yang mungkin tidak bisa aku kerjakan seorang
diri,” seru Regan.
“Oh seperti asisten pribadi yah,” ucap Angel.
“Bisa di bilang seperti itu. Bagaimana, kamu mau?” tanya Regan.
“Ya mau gimana lagi. Apa aku bisa menolak,” seru Angel mengedikkan bahunya.
“Pintar.” Regan tersenyum misterius.
***
Angel merasa terusik dengan suara
dering telpon di handphonenya. Ia mengusap wajahnya gusar seraya mengintip jam
digital yang ada di meja nakas samping ranjangnya.
“Pukul
5 pagi, siapa yang menghubungiku sepagi ini,” gerutunya beranjak bangun dan
merasa kesal karena waktu tidurnya terganggu dan berkurang satu jam dari
biasanya.
“Nomor
siapa ini?” gumamnya saat ia berangsur bangun seraya mengambil handphone nya
yang masih berdering.
“Hallo…
Siapa orang yang tidak ada kerjaan dan menggangguku sepagi ini?” serunya dengan
kesal.
“Sambutan yang mengagumkan, Nona Angel.
Kebetulan sekali saya bukan orang yang tidak ada kerjaan tetapi saya adalah
orang sibuk yang bahkan sepagi ini sudah dalam perjalanan untuk bekerja,” seru
seseorang di sebrang sana.
Angela yang
kaget kembali menatap layar handphone nya dengan mata yang membelalak lebar.
‘Sial! Ini Mr. Danial.’ Batinnya.
“Hallo,
maafkan saya Mr. Danial. Barusan saya hanya bercanda, ya bercanda,” kekehnya
terdengar garing.
“Candaan yang lumayan lucu.”
Angel dapat
menghela nafasnya. “Tapi ngomong-ngomong ada apa yah anda menghubungi saya
sepagi ini?” tanya Angel.
“Saya ada pekerjaan untukmu. Ini pekerjaan
pertamamu. Kamu datanglah ke kantor 15 menit lagi. Langsung ke ruangan saya,
saya tunggu.”
“Apa? 15
menit? Bagaimana bisa?” pekiknya.
“Bisa saja. Apa kamu keberatan? Atau
waktunya terlalu lama. Baiklah, bagaimana kalau 10 menit?”
“Jangan
bercanda Pak. Bagaimana mungkin saya sampai di sana dalam 10 menit. Saya tidak
punya sayap untuk terbang,” seru Angel merasa kesal.
“Tidak ada alasan. Kalau tidak ingin di
pecat cepatlah datang dalam waktu 15 menit, telat satu menit saja gajimu akan
saya potong. Saya tunggu!”
Angel merasa
dongkol menatap layar handphone nya dimana sambungan telponnya baru saja di
putus sepihak oleh Regan.
“Apa
maunya Pencuri sialan ini,” gerutunya seraya beranjak menuruni ranjang menuju
kamar mandi.
***
Hosh
hosh hosh
Angel
sudah sangat ngos-ngosan karena berlari menuju ruangan Regan. Di sana ia
melihat Nickolas dan mempersilahkan Angel untuk masuk ke dalam ruangan Regan.
Benar
saja kalau Regan sudah berada di kantor. Ia sudah berada di kantor lebih pagi
bahkan masih jauh di jam kerja.
“Oh
kamu sudah datang,” serunya dengan santai duduk di atas sofa dan bersandar ke
sandaran sofa. Terlihat menawan, elegan dan sangat mempesona sampai Angel
sempat terpaku beberapa saat melihat ketampanan bak dewa Yunani di depannya
ini.
“Terlambat
dua menit, kamu terlalu lambat,” seru Regan membuat Angel ingin menjambaknya
dan mengatakan bahwa dia gila.
Kalau
dia gila kerja, kenapa harus ngajak-ngajak Angel sih. Dia jadi rugi karena dua
jam lebih awal dari jam kerja biasanya.
“Duduklah,”
perintah Regan.
Angel
pun duduk di hadapan Regan tanpa berkata apapun.
“Nic,”
panggil Regan dan tak lama Nicholas datang dengan membawa nampan berisi dua
mangkuk dan dua gelas minuman.
Nicholas
menyajikannya di hadapan mereka berdua dan kemudian berpamitan keluar ruangan.
“Ayo
temani aku sarapan,” seru Regan dengan santai mengambil bagian.
“Anu
Pak, pekerjaan apa yang harus saya kerjakan?” tanya Angel seraya menengok ke
kanan dan kiri.
“Kamu
hanya perlu menemani saya sarapan,” jawab Regan dengan tenang dan santai.
“A-apa?”
“Kenapa?
Apa ada masalah? Cepat makan sarapanmu sebelum dingin,” seru Regan menyuapkan
makanan ke dalam mulutnya.
“Jadi
anda membangunkan saya pagi-pagi sekali dan meminta saya untuk secepatnya
datang kemari hanya untuk menemani anda sarapan?” serunya.
“Iya.”
Jawaban
Regan yang santai dan seakan tidak merasa bersalah membuat Angel merasa
dongkol. Ia rasanya ingin sekali menjambak rambut indah Regan yang berkilau dan
membuatnya menjadi botak. Setelah itu ia juga ingin sekali mencukur alis tebal
milik Regan yang indah, menjadi botak juga. Biar pria di depannya ini tidak
tampan lagi dan di ejek orang.
Angel
menghentikan sumpah serapah di dalam hatinya. Ia mengambil mangkuk makanan
miliknya dan meraup makanannya dengan sedikit keras hingga menggigit sendoknya.
Regan
yang sadar kekesalan Angel hanya tersenyum kecil bahkan samar di sudut
bibirnya. Ia senang sekali menggoda wanita di depannya ini. Terlihat sangat
imut saat Angel marah menurut Regan.
Kucing kecilku….
***
Angela baru saja masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kubikelnya. Melihat kedatangan Angela, Rosie yang tengah berhias langsung berdiri dari duduknya dan mengintip ke kubikel Angela.
"Baru datang? Kenapa wajahnya kucel gitu. Gak mandi yah?" seru Rosie membuat Angela mendelik ke arahnya.
Ini semua karena CEO pemaksa itu, jam kerjanya jadi bertambah.
"Sepertinya kau tidak baik-baik saja. Mau ngopi?" tawar Rosie.
"Boleh. Kebetulan aku juga sedikit mengantuk," seru Angela.
Mereka berdua pun beranjak dari duduknya dan berjalan berdampingan menuju lobby kantor dimana coffee break ada di sana.
Ting...
Pintu lift terbuka, Angela dan Rosie berjalan keluar lift. Dan saat itu juga mereka berpapasan dengan Regan yang juga baru keluar bersama Asistennya Nickolas dari lift yang berhadapan dengan lift yang di tumpangi Angela dan Rosie.
Tatapan mereka beradu satu sama lainnya. Angela hanya menampilkan tatapan biasa saja dan Regan seperti biasanya dengan tatapan tajamnya yang selalu berhasil membuat pertahanan Angela runtuh.
"Selamat Pagi, Direktur," sapa Rosie dan Angela secepat kilat memalingkan pandangannya, kemudian sedikit membungkukkan badannya.
Regan hanya mengangguk kecil, kemudian dia berjalan terlebih dulu meninggalkan mereka berdua.
"Oh God! Kenapa ada pria setampan itu di dunia ini," seru Rosie membuat Angela kembali mendelik ke arahnya.
"Ayo cepat kita beli kopi," seru Angela berjalan terlebih dulu meninggalkan Rosie yang masih terkagum-kagum oleh Regan.
"Ck, dasar wanita es," seru Rosie berjalan menyusul Angela.
***
Angela baru saja selesai mandi. Ia sudah berpakaian rumahan dan tengah mengeringkan rambutnya yang basah. Ia berjalan menuju pantry dan membuka kemasan mie di dalam cup. Makan malamnya sekarang adalah mie rebus. Dia sudah terbiasa makan makanan siap saji seperti ini.
Bip bip
Ia menoleh ke arah pintu saat mendengar suara bel rumahnya.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini," gumamnya.
Ia berjalan menuju pintu dan tanpa merasa takut sedikitpun, ia langsung membuka pintu rumahnya.
"Anda?" pekiknya saat melihat seseorang berdiri menjulang di depan pintunya.
"Malam, kau belum tidur?" sapa seseorang yang tak lain adalah Regan.
"A-apa yang anda lakukan di sini?" tanya Angela menatap Regan yang masih lengkap dengan setelan kerjanya.
"Aku ingin makan malam di sini bersamamu," seru Regan dan begitu saja menyelonong masuk tanpa permisi. Angela hanya melihat dongkol ke arahnya.
'Apalagi yang akan di lakukan iblis tampan ini,' batin Angela.
"Kucing kecil, aku ingin makan. Apa kamu bisa memasak?" tanya Regan melepaskan jas nya dan menyampirkannya ke sofa yang ada di sana.
"Tidak! Aku sama sekali tidak bisa masak," seru Angela dengan pasti.
Regan berjalan menuju pantry dan melihat mie cup milik Angela.
"Kau makan malam hanya dengan ini?" seru Regan menatap Angela dengan tatapan kaget, sedangkan Angela hanya menampilkan tatapan santainya.
"Memangnya kenapa? Aku kenyang kok hanya makan itu," ucap Angela dengan polosnya.
"Ck, dimana bergizi nya. Ah pantas saja badanmu lurus seperti itu," ucap Regan dengan santai membuat Angela membelalak lebar.
"Anda mengatakan bahwa saya kurang gizi, begitu?" seru Angela.
"Kamu yang mengatakannya sendiri," jawab Regan.
Angela semakin di buat gemas oleh Regan. Andai saja Regan bukan atasannya. Ia sudah habis di kuliti oleh Angela. Saat ini Angel hanya perlu sabar.
"Apa yang kau punya di dalam kulkas," seru Regan berjalan menuju kulkas.
"Tidak ada. Dan apa kedatangan anda kemari hanya untuk mengobrak abrik kulkas saya dan mengkritik makanan yang saya makan?" seru Angela.
"Sudah aku katakan, aku ingin makan malam di sini," seru Regan membuka kulkas yang ternyata memang kosong. Hanya berisi minuman saja.
"Apa anda tidak punya rumah? Kenapa ingin malah datang kemari. Padahal restaurant mahal dan enak banyak di luaran sana. Kenapa harus mengganggu istirahat seseorang," seru Angela panjang lebar membuat Regan menatap ke arahnya hingga tatapan mereka terpaut satu sama lainnya.
"Karena aku ingin makan malam denganmu."
Deg
Angela membeku di tempatnya mendengar penuturan Regan barusan yang entah kenapa membuat jantungnya berdebar.
Apa istimewa nya dia? Kenapa seseorang seperti Regan Danial ingin bersamanya.
Regan menghubungi Nickolas dan meminta membawakan beberapa jenis sayuran dan bahan untuk memasak lainnya. Ia juga meminta Nickolas menyuruh kurir yang mengirimkannya ke sana bukan oleh Nickolas.
"Apa yang akan anda lakukan? Aku sama sekali tidak bisa memasak. Jadi kalau anda mengharapkan sebuah makan malam yang mewah di sini, maka itu hanya mimpi saja!" seru Angela berjalan menuju meja pantry nya dan mengambil duduk di sana.
Ia menarik cup mie miliknya kemudian ia membuka mie nya yang sudah menjadi mekar dan tampaknya sudah tidak enak lagi untuk di makan.
Ini semua karena iblis tampan itu. Batin Angela.
"Siapa yang menyuruhmu untuk makan makanan gak bergizi ini," seru Regan menarik cup mie menjauh dari Angela membuatnya melotot kesal.
"Apa pernah ada yang mengatakan kalau kamu memiliki mata yang indah," seru Regan dan seketika amarah Angela menghilang entah kemana. Berubah menjadi sebuah keterkagetan dan rasa malu.
"Ehem.. jangan mengalihkan pembicaraan," seru Angela berubah menjadi gugup. "Sekarang tolong kembalikan mie milik saya. Saya sangat lapar," seru Angela.
"Tidak. Kau tidak perlu makan makanan ini. tunggu beberapa saat lagi baru bisa makan," jawab Regan menatap layar handphone nya dan mengotak atiknya.
Angela diam-diam memperhatikan pria tampan di depannya itu. Bohong kalau Angela tidak mengagumi direkturnya itu, kenyataannya dia sangat mengagumi sosok tampan nan sempurna di depannya itu. Angela bahkan masih merasa semua ini mimpi, dirinya dan direkturnya berada di dalam satu ruangan dan terasa begitu dekat juga akrab. Andai... andai saja Angela memikili hati, maka ia akan langsung jatuh cinta pada direkturnya itu.
"Ada apa?" tanya Regan yang kini sudah menatap ke arah Angela dengan menaikkan sebel alisnya.
"Tidak bukan apa-apa," jawab Angela.
----
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kurir yang mengantarkan pesanan Regan datang. Regan tampak santai membuka pintu dan menutupnya kembali dengan membawa kantong karton berisi bahan masak. Angela hanya duduk manis saja dan memperhatikan Regan tengah melipat kedua kemejanya di bagian tangan hingga siku.
"Anda yang masak?" tanya Angela menatap Regan yang masih sibuk melipat kemeja bagian tangannya.
"Ya."
"Serius anda mau masak?" tanya Angela sangat kaget.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" tanya Regan.
"Tidak. Bukan itu, cukup kaget saja mengetahui anda bisa memasak," jawab Angela.
"Asal kamu tau saja. Aku itu bisa melakukan segalanya. Jadi saat memiliki pasangan seperti kamu yang tidak bisa memasak, tidak akan repot lagi dan selalu makan di luar," jawab Regan semakin membuat Angela melongo dengan ucapan Regan.
Regan memakai celemek berwarna pink milik Angela. Tetapi sialnya kenapa malah terlihat macho dan semakin tampan. Bahkan kesal gagahnya tidak menghilang sama sekali.
Regan mulai sibuk memotong sayuran dan mempersiapkan peralatan masak lainnya. Ia terlihat sibuk dan focus dengan masakannya. Tanpa sadar Angela sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari sosok Regan di depannya yang sangat tampan.
Pria yang sangat sempurna... pikir Angela.
Setelah cukup lama berkutat dengan masakannya. Regan akhirnya menyajikkan beberapa menu makanan hasil masakannya di meja pantry tepat di hadapan Angela. Melihat semua itu, air liur Angela hampir saja menetes. Dari aroma --ya saja sudah tercium harum dan lezat dari makanan itu.
Regan sudah melepaskan celemeknya dan duduk di hadapan Angela.
"Kau sudah lapar, bukan? Kalau begitu ayo kita makan," seru Regan.
Angela dan Regan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut mereka.
'Astaga... ini enak banget. Duh berasa makan makanan dari restaurant mewah bintang 5,' batin Angela.
"Ada apa? Apa tidak enak?" tanya Regan.
"Tidak ada," jawab Angela tidak ingin memuji iblis tampan itu.
Mereka pun menikmati makan malam bersama tanpa bersuara.
***