Syafiq masih terasa sedikit kaku dan canggung karena berduaan di dalam kamar inap bersama Julia. Sebelum itu, Julia sudah mengakuinya bahwa dia merupakan kekasih sekalian tunangan Syafiq.
Namun, hal itu membuat Syafiq sedikit tidak percaya karena getaran hatinya merasa tidak suka melihat Julia. Syafiq juga sedikit berpikir tentang ucapan tentang istri pertama Syafiq.
Kamu sudah mempunyai istri sah namanya Aisyah tetapi istrimu sulit untuk dibicarakan, apalagi di saat kondisi kamu berada di rumah sakit, dia sama sekali tidak pernah datang menjenggukmu Nak. Ibu sudah mencari tahu hal kenapa dia bersikap seperti itu, ternyata benar dugaan ibu, Aisyah hanya menginginkan uangmu dan berfoya-foya bersama pria lain di luar sana.
Ucapan itu masih terngiang-ngiang di dalam benak Syafiq. Rasa marah mulai menyuluti dirinya hingga tanpa sadar dia menepis gelas kaca yang berada di atas nakas kecil bersebelahan dengan brankernya.
Julia berjenggit kaget ketika bunyi pecah memecah ruang inap Syafiq. Dia segera mendekati Syafiq.
"Mas kamu kenapa?" tanya Julia cemas.
"Apa benar, istri sahku tidak pernah peduli dengan diriku selama aku berada di sini?" jawab Syafiq dengan kembali bertanya.
Julia menghela nafas panjang, sedikit kesal karena Syafiq mengungkit tentang Aisyah tetapi dia sebaik mungkin memasang raut sendu, agar terlihat semua yang dikatakan Ibu Ratma benar.
"Maaf Mas, setiap hari aku berada di ruang ini. Hanya sekali, sewaktu Mas Syafiq baru saja di larikan ke rumah sakit ini. Itu juga, Aisyah tidak lama berada di sini, malah kami sempat bertengkar karena Aisyah tidak mau menginap untuk menjaga Mas di sini," jelas Julia.
Raut wajah Julia sangat menyakinkan, membuat Syafiq begitu kecewa. Walaupun dia tidak mengingat sama sekali wajah Aisyah tetapi dari perkataan Ibu Ratma dan Julia mencerminkan bahwa Aisyah menganggapnya tidak ada.
'Baiklah, akan aku buat kau menderita Aisyah!' ucap Syafiq dalam hati.
Syafiq kembali menatap lurus ke depan dengan tatapan yang tajam. Dalam benak Syafiq sungguh tidak sabar menemui Aisyah. Tanpa sadar Syafiq telah menanam bibit benci kepada Aisyah.
Sementara itu, Aisyah tiba-tiba saja rasa merinding membuat d**a Aisyah berdebar karena merasa firasat tidak baik akan berlaku.
Aisyah mengusap dadanya agar tenang dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Setelah merasa mulai tenang, Aisyah mengemasi pakaian Syafiq yang baru untuk di bawa ke rumah sakit.
Suasana hati Aisyah berubah menjadi ceria apabila mengingat tentang suaminya yang telah siuman. Walaupun, harus berhadapan dengan masalah yang dialami Syafiq, Aisyah berusaha tetap tegar.
Setelah selesai memasukkan pakaian bersih Syafiq ke dalam tas, tiba-tiba Aisyah mendengar seseorang memasuki pintu rumahnya. Sebenarnya, Aisyah tidak terkejut karena tahu siapa sosok yang datang.
"Wanita sialan di mana kamu! Keluar sekarang!" teriak Ratma.
Ya hanya Ratma saja yang selalu memasuki apartemen milik Syafiq dan Aisyah. Awal pernikahan, Ratma sengaja memberi alasan kepada Syafiq untuk selalu mengunjungi Aisyah dan mengajarnya memasak agar dia bisa mendapatkan kunci cadangan apartemen mereka.
Namun, apabila Ratma telah menerima kunci pencadang tersebut dia malah keluar masuk seenaknya untuk memarahi kelakuan Aisyah selama berada di apartemen.
Ratma tidak pernah puas dengan hanya memarahi, malah Ratma berani memukuli fisik Aisyah mau dengan tangan atau pun dengan benda.
Oleh itu, Aisyah sudag menduga setiap kali Ratma sang Ibu mertua datang pasti dia akan terkena amukan.
Kembali ke situasi awal, Aisyah berlari kecil untuk menemui Ratma yang sudah berkacak pinggang di ruang tengah.
"I-iya Bu," jawab Aisyah.
Ratma mendekati Aisyah yang berdiri agak jauh darinya. Dengan wajah bengis Ratma dan tangan yang bergerak cepat menjangkau leher Aisyah. Ratma mencekik leher Aisyah seperti ingin membunuhnya.
"Kau hanya pembawa sial! Seharusnya kau jangan muncul lagi di sini!" bentak Ratma.
Aisyah coba melepaskan tangan Ratma tetapi kekuatan Ratma sungguh berada jauh di atasnya. Wajah Aisyah mulai memerah karena kekurangan oksigen. Tenaga Aisyah juga semakin berkurang, untuk mengangkat tangan saja dia merasa payah.
Ratma tersenyum senang karena Aisyah tidak bisa melawan dirinya. Dia melepaskan tangannya lalu mendorong Aisyah hingga jatuh tersungkur di atas lantai ruang tengah.
"Sekarang cepat siapkan pakaian bersih Syafiq." Ratma kembali mendekati Aisyah yang terbaring di atas lantai lalu menampar pipi Aisyah.
"Ba-baik Bu," jawab Aisyah terbata-bata.
Aisyah merasa tubuhnya lemas dan ngilu. Kalau bisa dilihat secara mata kasar, pasti tubuh Aisyah sudah dipenuhi lebam akibat benturan ketika jatuh dan di siksa.
"Cepat!" teriak Ratma lagi.
Ratma kini duduk di sofa ruang tengah sambil menunggu Aisyah menyiap pakaian bersih untuk Syafiq.
Aisyah hanya membutuh waktu 5 menit, karena memang pakaian bersih milik Syafiq sudah disiapkannya tinggal memasukkan saja ke dalam koper kecil.
Dengan jalan yang sedikit kesusahan, Aisyah menyeret koper kecil itu.
"Ini Bu," ucap Aisyah tertunduk.
"Ok," sahut Ratma.
Ratma ingin berlalu saja tetapi penampilan Aisyah memancing amarahnya kembali.
"Kau mau ke mana?" tanya Ratma sinis.
Sebenarnya Ratma sudah menebak bahwa Aisyah akan seperti biasa datang ke rumah sakit menemani Syafiq. Namun, saat itu Syafiq belum sadar, sedangkan sekarang Syafiq telah sadar dan mengalami amnesia.
"Mau jenguk Mas Syafiq Bu," jawab Aisyah jujur.
"Tidak! Kau tidak boleh menjenguk Syafiq lagi. Mulai hari ini dan selanjutnya jangan berani memijakkan kakimu di rumah sakit!" tegas Ratma.
"Tapi Bu-" kata Aisyah segera disela oleh Ratma.
"Kau tahu, aku bisa saja membuatmu semakin sakit. Jadi, jangan beraninya kamu membantah!" hardik Ratma.
Aisyah terdiam, dia tidak bisa melawan ucapan sang ibu mertua lagi. Aisyah hanya berharap Syafiq akan datang mencari dirinya walaupun itu sangat mustahil.
Ratma keluar dari apartemen Aisyah dengan mulut yang memaki dan menggerutu. Ingin sekali dia menghapuskan jejak Aisyah di dalam keluarga tetapi dia tahu membunuh merupakan tindakan kriminal.
Ratma hanya bisa menyiksa Aisyah, dia yakin suatu saat Aisyah pasti menyerah dan meninggalkan Syafiq. Oleh itu, dia harus menyakinkan Syafiq agar membenci Aisyah.
"Saat mu akan datang wanita sialan!" gerutu Ratma.
Di samping itu, Aisyah masih berdiri kaku menatap kepergian Ratma. Ucapan Ratma terus berputar-putar di dalam pikirannya hingga membuat Aisyah sedikit pusing.
Mata Aisyah terlihat sembab karena kebanyakan menangis ditambah lagi dengan larangan Ratma, Aisyah menjadi semakin sedih dan stress.
Ingin sekali memberontak dan membantah tetapi dia takut Ratma akan berbuat lebih dari sekadar menyiksa dirinya.
"Mas, maafkan Aisyah. Aisyah belum bisa menemui Mas, Aisyah harap Mas datang menemui Aisyah. Aisyah rindu," lirih Aisyah disela-sela tangisannya.
Aisyah kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya bersama Syafiq. Aisyah mulai mengusap banral yang selalu digunakan oleh Syafiq.
"Mas, apakah Mas rindu Aisyah?" tanya Aisyah sendiri.
Bersambung...