▪️1▪️Wasiat Dadakan

1068 Words
‘Drrrtt’ Belum lama ponsel itu berdering, melihat nama yang tertera di layar ponsel sudah membuatnya sangat antusias untuk mengangkat panggilan, “Halo, Tante Fraya? Tante, Zev kangen banget sama Tante. Kok baru telfon, sih? Zev telfon tapi nggak diangkat terus.” “Halo, Zevia. Gimana kabar kamu?” Suara dari seberang sana membuat Zevia tersenyum lega, “Baik, Tan. Tante sehat? Kok nggak pernah main ke rumah?” “Tante sehat. Tapi Tante lagi nggak ada di rumah.” Gadis berkacamata itu mengerutkan keningnya heran, “Terus Tante lagi di mana? Zevia susul ya, boring, nih, nggak ada kuliah.” “Jangan. Kamu pulang aja. Tadi mama kamu telfon katanya ponselmu nggak bisa dihubungi.” “Ah, males, Tan. Mama marah-marah mulu. Ngebela si Rora terus. Zev kayak anak tiri rasanya,” jawab Zevia yang mengundang gelak tawa si penelpon. “Jangan bilang gitu. Udah sana kamu pulang. Tante ada urusan, nih. Bye, Zev!” ‘TUT’ Percakapan singkat itu membuat Zevia semakin merindukan sosok yang telah lama tak pernah ia temui. Berbagai alasan selalu terlontar dari sosok wanita paruh baya yang merupakan sahabat mamanya. Mereka sudah dekat sejak Zevia masih berumur tujuh tahun. Namun, tiga tahun terakhir, Zevia sama sekali tak bisa menghubungi wanita itu terlebih dulu. Hingga ia memutuskan untuk menunggu wanita itu menghubungi lebih dulu. “Kenapa, Zev?” sahut seorang gadis dengan wajah keturunan Belanda, Valentine Romella. Ketiga gadis lain –Vranda Shina, Eliz Sabeth, dan Angelina Emma yang menatapnya heran juga mengangguki pertanyaan Valen. Seolah mereka memikirkan hal yang sama dengan Valen setelah melihat raut wajah gelisah yang tercetak jelas di wajah Zevia. Zevia mendesah pelan lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia menatap satu persatu gadis yang duduk memutar, “Nothing. Kayaknya gue harus pulang, deh, Girls. Nyokap nungguin, nih.” “Emang ada apa? Tiba-tiba banget. Bukannya tadi bukan nyokap lo yang telfon?” sambar Vranda sembari menyesap Es Boba favoritnya. “Eh! Jangan-jangan lo mau dijodohin, Cla!” Dengan tiba-tiba Eliz menangkup wajah Zevia. “No! Ntar Ansel patah hati, Zev. Jangan mau dijodohin, oke?” sambung Emma yang membuat Zevia semakin gelisah. Ia melepas tangkupan tangan Eliz kemudian memijat keningnya yang mulai terserang pening. Sebenarnya bukan masalah apa yang akan disampaikan oleh mamanya. Namun, ia sangat merindukan sosok yang selama ini belum ia temui tiga tahun terakhir. Tante Fraya. Fraya baginya adalah sosok ibu kedua yang selalu mengerti Zevia bahkan melebihi ibu kandungnya sendiri. “Oke, Girls. Gue pulang duluan. Dan inget ... nggak akan ada perjodohan. Jadi, jangan mikir yang aneh-aneh. Oke, bye!” --000-- “Apa?! Nikah?!” Zevia Claretta, gadis berkacamata itu terkekeh pelan. Meski tak bisa dipungkiri jika dirinya juga amat sangat terkejut mendengar perintah kedua orang tuanya. Ya, perintah. Bukan permintaan. Hidupnya yang aman, damai, tenang, dan tak ada kerumitan sedikitpun itu mendadak berputar terbalik. Hidupnya dalam bahaya. Dan ia tak mampu berpikir jernih harus melakukan apa. Berlainan dengan Zevia, kedua orang tuanya itu hanya mengangguk dan tersenyum penuh bahagia. “Ini mimpi, ’kan? Papa sama Mama bercanda, ‘kan?” tanyanya memastikan. Ia mengigit bibir bawahnya takut dengan jawaban yang akan terlontar. Alhasil, kedua orang tuanya mematri sebuah senyuman lebar dan membuat Zevia bergidik ngeri. “Benar-benar mimpi buruk! Tuhan, Zev nggak mau mimpi buruk ini jadi nyata!” “Bukan mimpi dan bukan candaan.” Jawaban tegas dari papanya membuat pikirannya semakin tak karuan. Namun, ia masih menganggap bahwa kedua orang tuanya itu hanya bergurau. Ia bangkit dari sofa dan tersenyum kaku. “What happened?” tanyanya sedikit ragu, “Kenapa tiba-tiba nyuruh Zev nikah? Zev masih kuliah semester enam. Zev masih pengen kerja dan cari duit yang banyak, Ma, Pa. Pokoknya Zev nggak mau nikah dulu,” sambungnya penuh dengan alasan. Tak ada respon apapun dari kedua orang tuanya. Seolah tak terkejut jika Zevia akan melontarlan semua jawaban tadi. Semua penolakan tadi. “Kok Mama sama Papa nggak kaget kalau Zev nolak?” tanyanya penuh heran. “Wajar aja kalau kamu nolak. Kami sudah menyangka hal ini akan terjadi. Tapi, Papa sama Mama nggak akan menerima penolakan dari kamu, Zev,” sanggah Vicknan –papanya dengan ketegasan yang tersirat. Hingga membuat Zevia terheran apa yang terjadi dengan sikap papanya itu. “Zev butuh alasan kenapa Zev harus tiba-tiba nikah?” Pertanyaan itu membuat Grena –mamanya bangkit dari sofa dan merangkul pundak Zevia. Kemudian menuntun anak pertamanya itu hingga duduk kembali ke sofa dan bersikap tenang. Alih-alih semakin tenang, justru sikap mamanya yang mendadak lembut membuat Zevia semakin tak karuan. Jika sang mama sudah bersikap lembut dan hangat, biasanya akan mengeluarkan jurus andalan untuk merayu. Zevia benar-benar merasa dijebak. Seharusnya ia tak pulang lebih awal dari biasa jika harus menerima kenyataan bahwa ia akan segera dinikahkan dengan pria lain. “Tunggu. Mama jangan ngerayu Zev. Zev tetep nggak mau nikah kecuali Zev nikah sama Ansel,” tegas Zevia seolah mengetahui jika mamanya akan menggunakan jurus jitu yang bisa melunakkan keras kepalanya itu. Akan tetapi, mamanya justru hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Zevia semakin heran dengan apa yang telah terjadi. Biasanya Grena akan ngamuk besar jika Zevia menyebut nama Ansel. Namun kali ini Grena hanya memasang senyuman tanpa melontarkan satu patah kata pun. “Mama kok aneh? Biasanya mama bakal ngamuk-ngamuk nggak jelas kalau Zev sebut nama Ansel. Hmm, makin mencurigakan, nih.” Grena mendesah pelan, “Mama ngomel, salah. Mama diem, juga salah. Terus maunya kamu, tuh, mama harus gimana? Emang dasar kamu sukanya godain mama, sih. Jadi, mama makin suka ngomelin kamu.” “Loh? Kok malah Zev yang salah? Nah, kan. Mama mulai lagi, deh. Lagian kenapa Mama sama Papa, tuh, tiba-tiba nyuruh Zev nikah? Kenapa nggak nyuruh si Rora aja?” Mendengar pernyataan anak sulungnya, Vicknan terkekeh pelan. Sedangkan Grena justru mencubit lengan Zevia dan membuat sang empu meringis kesakitan. “Ini, nih. Kenapa mama gemes sama kamu, Zev. Kamu udah 21 tahun. Tapi kenapa gaya pikirmu itu belum juga dewasa? Kamu harusnya paham, Rora itu adik kamu. Masih SMA kelas dua. Masa kamu tega nyuruh adik kamu nikah muda?” celoteh Grena seperti biasa. Membuat telinga Zevia berdengung sebelah. “Aduh! Mama ngomel mulu, deh. Zev cuma kasih saran doang kok. Lagipula umur 21 tahun itu belum tentu udah dewasa sepenuhnya, Ma. Zev masih kayak anak kecil. Masih pengen main sama temen. Masih pengen ngelirik cogan sana-sini. Kalau udah nikah, kan, nggak bisa lirik cowok lain. Ah! Pokoknya kali ini Zev nggak mau nurutin Mama sama Papa. Titik.” “Sebenarnya semua ini bukan permintaan Mama sama Papa, Zev,” tandas Vicknan. Zevia kembali mengalihkan pandangannya. “So?” “Semua ini adalah wasiat dadakan dari seseorang yaitu –“ Vicknan memotong kalimatnya seolah ingin membuat Zevia penasaran. Lalu, ia dan Grena saling beradu tatap. Seakan bersepakat untuk mengatakannya bersamaan. “Fraya.” “What?! Tante Fraya?!” --000--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD