Punggung gadis berkacamata itu menghilang bersama keempat sahabatnya. Meninggalkan Kyra yang penuh dengan tanda tanya. Ada rasa yang berbeda. Hatinya bergetar menyakitkan. Namun, perasaan itu ia tepis agar pergi. Ia tak ingin menyimpan rasa tak nyaman dalam hati. Jepit rambut itu banyak ragamnya. Tak hanya satu. Bahkan jika memang Gezra membelinya untuk Zevia, hal itu tak mungkun terjadi. Ya, ia percaya bahwa itu tak mungkin terjadi. Di lain sisi, Zevia pun sama. Menyimpan berbagai pertanyaan tentang sikap Kyra yang aneh akhir-akhir ini. Gadis itu lebih sering menanyakan tentang Gezra padanya. "Tadi Kyra ngapain minjem lo sebentar doang, Cla?" celetuk Eliz yang membuyarkan lamunannya. "Nggak biasa banget si Kyra minjem-minjem si Ketua Geng Angkuh kita ini." "Cuma nanyain tentang Gezra."

