Beberapa hari mulai ramai sekali karyawan yang keluar masuk ke dalam ruangan Windi, ya mereka orang orang terpilih dan terpercaya yang akan membantu menangani pelaksanaan acara ulang tahun kantor. Sejauh ini sudah ada beberapa yang mereka lakukan, proposal kegiatan juga sudah siap di garap, tujuh puluh lima persen sudah hampir rampung sembari menunggu hari H datang.
Xia tidak mau ambil pusing, selagi ada bawahan yang cekatan dia tidak perlu menyusahkan diri ikut andil, karena dia adalah pemilik kantor ini jadi dia hanya mau menerima bersih segala hal. Tapi jangan lupakan bahwa sokongan dana yanh Xia berikan juga tidak main main sama sekali.
Seperti biasa kantor masih menjadi tempat yang kadang menenangkan, kadang membosankan, dan kadang pula mampu membuat orang penderita darah rendah menjadi darah tinggi.
Mereka yang bekerja setiap hari memiliki tanggungan mereka masing masing, Alexia tidak pernah mau tahu dengan urusan orang miskin. Begitulah tiap kali di tanya soal pendapatnya tentang permasalahan beban karyawannya. Meskipun begitu Alexia tidak pernah membeda bedakan karyawan, kecuali Daniel.
Sebenarnya ini juga termasuk membedakan, iya kan?
Dia memberi gaji yang layak bagi seluruh karyawannya, berharap uang yang tidak seberapa itu bisa membantu mereka. Setiap ada hari perayaan agama, Alexia tidak lupa memberi mereka bonus atas kerja keras mereka selama ini.
Jujur dia bos yang baik, hanya saja mulutnya selalu menjadi pedas dan menusuk saat dia berhadapan dengan orang yang kurang ajar. Xia tidak segan segan mempermalukan siapapun yang berani menyentuhnya terlebih dahulu, bahkan Alexia akan membalas dengan sama. Siapa yang membawa bawa soal keluarganya maka akan Xia selidiki sampai ke kakek neneknya, dia sangat pendendam sekali.
Alexia duduk tegak di kursi kerjanya, beberapa dokumen sudah selesai dia kerjakan, dari tempat duduknya Xia melihat Daniel yang berdiri dengan sikap tegap sempurna layaknya pengawal kerajaan saat menjaga putri raja.
Daniel yang tidak sadar di perhatikan tetap diam memasang wajah datar.
Jujur, Alexia akui wajah Daniel berkali lipat lebih tampan saat diam seperti sekarang, tampak jelas garis tegas di rahangnya, bibirnya yang penuh dan juga matanya yang kelam.
Xia meregangkan tubuhnya, kemudian menggeser kursinya agar lebih leluasa menatap Daniel. Saat iris mereka bertabrakan Xia mengulum senyum cerah, membuat Daniel bingung.
"Aku lelah sekali, jujur aku bosan hidup seperti ini bagaimana kalau aku mati saja? Ya sepertinya itu jalan terbaik." Xia berbicara dengan nada cepat.
Mata Daniel langsung melotot, tidak setuju dengan pemikiran tidak jelas sang nona.
"Mati bukan piliha yang tepat, memangnya kau sudah memiliki tabungan amal yang begitu banyak? Nona maafkan aku, tapi aku rasa tangungan uangmu lebih banyak daripada amalmu, jadi apa kau siap masuk ke neraka?." Daniel menjelaskan panjang lebar.
Wajah Alexia mendadak meringis ngeri membayangkan betapa panas tempat beranama neraka itu, manusia mana yang menjawab siap dimasukan ke neraka? Kalau ada maka dia adalah manusia paling angkuh di muka bumi ini.
"Aku hanya ber--canda." Alexia nyengir merasa tidak bersalah.
"Kau ini--
Daniel memijat pangkal hidungnya pening, kelakuan sang nona membuatnya geleng geleng kepala. Setiap hari selalu saja begitu, mirip sekali dengan perkiraan cuaca yang salah.
Kadang Alexia tampak cerah saat masuk kantor, mendadak mendung dan badai petir saat dia kehilangan moodnya, kadang Alexia tampak mendung saat datang lalu menjadi cerah atau gerimis tiba tiba.
Wanita memang sangat sulit di mengerti.
"Kau tahu Daniel mengapa rumah sakit menerima pasien?." Daniel memasang wajah cengo, dia tidak tahu maksud pembicaraan sang nona yang mulai melenceng jauh.
"Ya, karena rumah sakit di buat memang untuk menerima pasien." jawab Daniel seadanya.
"Ya karena yang menerimamu apa adanya, hanya aku."
Tawa Alexia menggelegar, mendadak wajah Daniel panas. Alexia random sekali, kali ini anak bujang orang di buatnya salah tingkah.
"Wajahmu lucu sekali Daniel." Xia terpingkal, dia terus memukuli pegangan kursinya sembari tertawa.
Daniel membuka satu kancing kemejanya yang teratas, dia mencoba untuk tidak tampak begitu salah tingkah.
"Maaf nona, aku bukan pria yang gampang luluh dengan gombalan semacam itu."
Wajah Xia berubah seakan akan bertanya 'benarkah?'
"Aku juga tidak begitu, aku melakukannya karena hal ini menyenangkan dan membuat pikiranku sedikit fresh."
Alexia berdiri, berjalan ke arah sofa lalu menjatuhkan dirinya.
"Aku mengantuk, kalau ada yang mencariku jawab saja kita tengah bercinta."
"NONA!!." Xia kembali tergelak sebelum matanya tertutup masuk semakin dalam ke alam bawah sadarnya.
Hari ini hari yang lumayan menyenangkan, batin Daniel.
••••••
Kata orang hal paling menyakitkan adalah patah hati karena mencintai tanpa di cintai, berbeda dengan orang lain menurut Alexia patah hati paling menyakitkan adalah di tolak oleh orang tua sendiri, di perlakukan beda setelah mereka menjalani rumah tangga yang baru dan dilupakan padahal belum benar benar pergi.
Kehilangan kedua sosok orang yang harusnya menjadi tameng dan juga penghangat adalah hukuman yang begitu menyakitkan, sungguh itu hanya dapat di lakukan oleh orang orang kuat.
Sudah terbiasa dengan keadaan rumah yang sepi, tak pernah di tegur sapa ketika kembali kerumah, dan juga di abaikan dalam setiap kesempatan membuat Alexia merasa tidak lagi membutuhkan mereka.
Jujur, setiap malam Alexia menatap langit langit kamar berharap hidupnya layak seperti kebanyakan anak gadis lainnya. Dalam segi keuangan Alexia sudah sangat sangat layak, namun dari segi kasih sayang dia bahkan belum pernah di peluk sang ayah selama hidupnya.
Dunia yang jahat membuat Alexia berfikir bahwa dia harus menjadi jahat pula, memaki setiap yang melakukan kesalahan padanya, tidak segan mengatai saudara atau ayahnya sekalipun.
Apa Alexia seorang pembangkang?
Tentu saja tidak, semua yang Alexia lakukan adalah ungkapan kekecewaannya selama ini, dia berharap ada yang bisa mengerti rasa lelahnya.
Sepulang bekerja, pintu utama terbuka lebar, beberapa pelayannya terlihat tangah membersihkan rumah. Alexia melenggang masuk, dia berhenti untuk bertanya.
"Kenapa pintu utama di biarkan terbuka?." tanya Xia meskipun sudah tahu.
"Karena sebantar lagi nona Bianca dan orang tuanya akan segera datang nona." jawab salah satu pelayan jujur.
Sedikit menjengkelkan, namun Alexia tengah lelah saat ini tidak ada tenaga untuk berdebat dengan ayah maupun mantan kepala pelayannya itu.
Alexia melanjutkan langkahnya, irisnya bertubrukan dengan iris sang ayah ketika dia hentak menaiki anak tangga. Wajah lelah Alexia mengatakan segalanya, bahwa dia sudah terlalu lelah menghadapi Leon yang selalu hidup sesukanya tanpa memikirkan Alexia.
"Kau sudah pulang?."
Alexia membuang nafas kasar.
Dia tidak menjawab pertanyaan sang ayah, memilih melanjutkan langkahnya untuk segera sampai di kamar, tubuhnya sangat butuh istirahat saat ini.
Masuk ke dalam kamar, Alexia melempar tas yang ada di tangannya. Emosi menggebu di d**a, rasa rasanya ingin mengusir mereka semua dari dalam rumahnya kalau saja Alexia sejahat itu pasti mereka benar benar sudah menjadi gelandangan.
"Kenapa mereka tidak mati saja!!." pekiknya bertambah emosi.
Xia melepas jas yang dipakainya, dibuang ke sembarang arah lalu dia menjatuhkan diri di atas ranjang empuk miliknya. Kembali menatap langit langit, memijit pangkal hidungnya pening.
"Apa aku perlu membunuh mereka? Begitu kan satu satunya cara membuat mereka mati?."
Alexia mendadak tertawa pelan dan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tidak tidak, aku kan bukan seorang pembunuh."
Iya kan?