Sedikit kisah

1026 Words
Angin malam semakin berhembus kencang, udara dingin membawa gadis yang kini tengah berdiri di depan rumah kos Daniel menarik lengan sweaternya lebih turun untuk menutupi punggung tangannya yang kedinginan. Niat hati ingin menyambangi sahabatnya yang sudah beberapa minggu tidak menemuinya, namun melihat mobil yang kini terparkir rapi membuat Savana mengurungkan niatnya. Namun sebelum dia beranjak, Raken keluar dari rumah kosnya dan melihat Savana yang hampir beranjak pergi. "Savana!." Savana menoleh melihat Raken dengan satu tangan menenteng kantong sampah dan satu tangannya melambai ke arah dirinya, Savana tersenyum lalu menghampiri Raken. "Kenapa tidak masuk?." tanya Raken penasaran, Savana hanya menggeleng lalu pandangannya beralih ke mobil yang ada di sampingnya. Raken mengikuti arah pandangan Savana, lalu tertawa pelan. "Oh ini?." tunjuk Raken pada mobil CR-V berwarna hitam itu. Savana mengangguk sedikit malu. "Mobil ini sering di bawa Daniel, nonanya tidak ada di sini. Kata Daniel nona Xia memberinya mobil ini agar tidak terlambat pergi bekerja saat hujan turun." jelas Raken pada Savana. Sedikit lega mendengar penjelasan dari Raken, namun lagi lagi dia harus meringis melihat betapa perdulinya Alexia pada Daniel. Bahkan dia memberikan Daniel mobil hanya karena tidak ingin Daniel kehujanan, Savana tidak bodoh untuk mengerti maksud Alexia pada sang sahabat. Dari hal ini Savana sudah buru buru menyimpulkan pasti Daniel semakin menyukai Alexia, sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk mendapatkan hati Daniel, rasa putus asa menyelimuti hatinya yang kian ngilu tiap kali di tatap hanya sebagai seorang sahabat oleh Daniel. Jujur Savana masih berharap dengan Daniel, meskipun tidak lagi menunjukan bahwa dia akan berjuang namun hatinya seratus persen masih milik sahabat sedari kecilnya itu. "Masuklah Daniel mungkin belum tidur." Raken memberi saran. Savana menggeleng, moodnya sudah terlanjur rusak padahal dia sendiri yang merusaknya, dia merogoh tasnya mengambil sebuah kotak kecil yang entah berisi apa lalu dia berikan pada Raken. "Tolong berikan ini saja pada Daniel, aku harus segera kembali karena sudah larut mungkin lain kali aku akan kemari lagi." Raken mengedip bingung lalu mengangguk "Kau benar benar tidak ingin masuk?." tanya Raken memastikan. Savana menggeleng. "Selamat malam Ken." raken melambaikan tangannya lagi, membiarkan Savana terus pergi menjauh. "Betapa beruntungnya seorang Daniel, sayang sekali dia hanya boleh memilih satu di antara dua." Raken tertawa garing. Ya karena sejatinya manusia tidak bisa sekaligus mencintai dua orang dalam satu waktu, kalau ada yang mengatakan bisa itu semua hanya sebuah kebohongan belaka. Hanya satu yang benar benar mereka cintai dan yang lain adalah sebuah sandaran semu yang mereka butuhkan ketika di terpa rasa sepi. •••••• Tinggal 3 hari sebeleum pesta kantor di adakan, semua karyawan Alexia masih fokus dengan pekerjaan mereka masing masing, beberapa sudah ada yang heboh membicarakan gaun yang mereka beli utuk datang ke pesta tahunan itu. Alexia tidak sengaja lewat mendengarkan mereka yang tengah membicarakan betapa excitednya mereka membuat Alexia menaikkan pipinya, tersenyum lebar. Xia tidak lupa memberitahu sang kakek, pembangun kantor yang kini sukses membuat semua orang iri pada keturunan Gilbert. Semua butuh usaha, bukan hanya omong kosong belaka, tidak ada kata sukses bagi mereka yang enggan bekerja keras. Alexia juga sudah memberitahu kerabatnya yang lain untuk hadir, sengaja agar mereka iri dengan Alexia. Keluarga Gilbert memiliki beberapa perusahaan besar, dan itu semua sudah di wariskan oleh Gilbert pada anak anaknya, namun perusahaan terbesar di wariskan kepada Alexia sebagai cucu perempuan satu satunya. Syukur Alexia adalah gadis pekerja keras, kemampuannya sudah tidak perlu di pertanyakan lagi. Sebagai cucu yang paling di cintai oleh Gilbert, Alexia tidak henti hentinya membuat sang kakek terkagum dengan hasil kerjanya. Memenangkan tiap proyek, pembangunan hotel baru, dan investasi dari perusahaan luar yang terus menerus memberikan keuntungan besar membuat Alexia selalu mendapat peringkat satu di mata Gilbert. Alexia menaiki lift khusus menuju ruang kerjanya, sesampainya di sana dia terkejut melihat sang kakek yang tengah membaca koran dengan santai. "Kakek." mendengar suara sang cucu Gilbert meletakkan korannya, lalu mengembangkan senyum lebar. "Selamat pagi nona." ucap Gilbert dengan nada bercanda, Xia terkekeh pelan. Dia berlari kecil menghampiri Gilbert lalu memeluk kakeknya manja. Gilbert membalas perlakukan cucunya, lalu menepuk punggung Alexia sayang. "Kenapa tidak memberi tahuku sebelum kemari?." Xia melepas pelukannya sambil protes. Gilbert terkekeh pelan, pipi Alexia menggembung lucu saat marah. "Tidak ada yang serius, kakek hanya ingin berkunjung kemari untuk menemuimu." Gilbert mengusap puncak kepala Xia lembut. "Kakek ingin mengunjungi makam ibumu setelah ini." Alexia mengangguk paham, namun sedetik kemudian wajahnya berubah sedih. "Aku tidak bisa menemani kakek, pekerjaanku sangat banyak sekali." Gilbert mengangguk paham, tidak masalah. Lagi pula Gilbert memiliki beberapa bodyguard yang setia di sampingnya, itu semua juga suruhan Alexia. "Kakek bisa sendiri sayang, jangan merepotkan dirimu." Gilbert selalu tidak tega dengan Alexia, sebagai seorang ayah Gilbert sangat mengerti dengan kondisi Hellen, tentang tempramentalnya dan segala kelakuan buruk sang putri pada Alexia. Sejak kematian Hellen Gilbert yang mengambil alih mengasuh cucu kesayangannya itu, Alexia sering pulang kerumah Gilbert setiap kali Leon memarahinya. Leon tampak seperti orang gila setelah kematian Hellen, entah karena alasan sang istri yang meninggal atau alasan lainnya tidak ada yang tahu. Di didik secara kasar membuat Alexia tidak suka dengan semua orang yang mendekat, dirinya selalu saja beranggapan bahwa orang tuanya saja bisa menyakitinya apalagi orang lain. Sejak itu Xia tidak pernah bergaul dengan dunia luar, hidupnya monoton semua orang di perlakukan sama tidak memandang umur dan gender. Kekasaran Alexia dalam berucap sering kali membuat teman sekolahnya geram, berakhirlah dia dengan di buli. Meskipun di buli Alexia tidak pernah mengeluh, bahkan dia tidak mengadu sama sekali dengan ayah maupun kakeknya. Namun karena Gilbert memiliki kaki tangan yang banyak, setiap anak yang membuli Alexia dia singkirkan dengan cara apapun. Selama setahun Alexia masih memiliki Galen sebagai temannya, namun setelah Gema di persunting oleh Leon, Alexia tak lagi mau berteman dengan Galen dia bahkan sering sekali menghina Galen dengan kata kata yang menohok. Dia kecewa, dia marah, dan dia ingin dimengerti. Lagi lagi Leon memilih untuk egois, membiarkan putrinya hidup dalam rasa benci dan dendam. Alexia tidak bersalah, yang salah adalah yang membiarkan dia menjadi salah. "Kek." panggil Alexia lembut, Gilbert tersadar dari lamunannya. "Kakek akan pergi sekarang." ucap Gilbert berusaha berdiri di bantu oleh Alexia. Alexia mengantar sang kakek hingga ke dalam mobilnya, meminta Gilbert untuk hati hati dan menghubunginya setelah sampai di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD