Malam itu belum benar-benar usai bagi mereka. Setelah pintu rumah tertutup dan sunyi kembali memeluk ruang-ruang yang mereka lewati, Seno menyalakan lampu ruang keluarga. Cahaya hangat menyebar, memantul di lantai, membuat segalanya terasa lebih akrab. Inggrid melepas tasnya, menaruhnya sembarang, lalu berdiri memandangi Seno seolah baru menyadari sesuatu. “Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “aku masih ngerasa ini mimpi.” Seno mendekat, berhenti tepat di hadapannya. “Mimpi yang mana?” “Mimpi di mana aku nggak lagi merasa kecil,” jawab Inggrid jujur. “Di mana aku nggak perlu mengecilkan diri supaya terlihat pantas.” Seno mengangkat tangan Inggrid, menempelkannya ke dadanya. “Kamu pantas dari awal. Aku yang terlambat sadar.” Kalimat itu seperti membuka pintu lain di dalam diri Inggrid. Ia

