Aulia menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. “Aku nggak pernah berhenti sayang kamu. Tapi aku juga capek, Ran. Capek nunggu kamu ada. Capek nunggu kamu sadar kalau aku masih di sini…” Ia menahan air mata yang hampir jatuh. “Dan ketika kamu datang sekarang... setelah semua yang aku lalui sendirian... kamu tiba-tiba mempertanyakan Barra? Tanpa pernah nanya, aku baik-baik aja atau nggak?” Rafandra terdiam. “Aku bukan Aulia yang dulu, Ran,” ucapnya pelan. “Aku sekarang kerja, pegang tanggung jawab Papah, bangun klinik dari nol. Dan ya... Barra selalu ada saat aku butuh bantuan, bahkan sekadar buat dengerin keluhanku.” “Jadi… kamu lebih milih dia?” Aulia menatap Rafandra. Bukan dengan amarah, tapi dengan luka yang tak sempat sembuh. “Aku belum tahu. Tapi yang aku tahu… kamu udah terlalu

