Malam yang tak pernah pulang

1687 Words

Surabaya, malam yang kelam. Hujan turun gerimis membasahi jendela kamar hotel tempat Barra menginap. Di dalam sana, suasana tak kalah muram. Lampu kamar hanya menyala redup, sementara tubuh lelaki itu meringkuk di sudut ruangan. Bajunya kusut, rambutnya acak-acakan, dan matanya sembab—tak ada lagi wibawa seorang pria yang pernah berdiri tegak di samping Aulia. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa pernikahan yang telah ia impikan… harus kandas sebelum dimulai. Aulia, perempuan yang ia perjuangkan dengan seluruh tenaga dan cinta, memilih orang lain. Barra terdiam, lalu tiba-tiba berdiri, mendekati tembok dengan napas memburu. "AULIAAAA!!" teriaknya, memecah sepi malam. Dentuman keras terdengar saat kepalan tangannya menghantam tembok berkali-kali. Dar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD