17. Salah

2364 Words
Sinta POV. “RENG!!, WAIT!!” jedaku pada Rengga yang beranjak keluar kelas saat kami akhirnya masuk sekolah lagi. Aku menoleh dan lihat Rengga bertahan di muka kelas menungguku. “Jadi nengok Noni, Sin?” tegur Roland yang masih membereskan buku sama sepertiku. “Iya, elo udah nengokkan?” jawabku lalu menuruti Roland yang sudah selesai dengan tasnya. “Udah, elo bareng Nino aja, dia tiap hari ke rumah sakit” katanya lalu berlalu setelah menegur Rengga. “Ayo!!” ajakku merangkul lengan Rengga. Dia tertawa pelan melihat kelakuanku dan membiarkan. Aku harus begini, kalo tidak mau Rengga lepas dariku. Gara gara Marco kemarin, aku baru lihat amarah seorang Rengga yang aku pikir selalu tenang. Memang sialan kalo Marco sih. Aku jadi mengerti kenapa Rengga marah. “Tunggu di parkiran aja deh, Nino bawa mobil juga” kata Rengga. Aku menurut dengan mengangguk. Menemui Nino di kantin takut jadi makan waktu dan membuat jam besuk takut habis. Tak lama Clara, Putrid an Andi datang di ikuti Karin yang merangkul lengan Nino di belakang mereka trio curut, Obi, Omen dan Roland. “Lah Obi gak ikut Kar?” tegurku melihat Karin masuk mobil Nino. “Jangan tanya gue” jawabnya galak. Aku tertawa berdua Rengga. “Udah biar aja, lagi berantem kayanya” kata Rengga lalu masuk mobilnya. Aku sengaja tidak bawa mobilku karena tau mau ke rumah sakit, jadi aku masuk mobil Rengga. Sementara Clara, Putri masuk ke mobil Andi. “Elo kok tau mereka berantem?” tanyaku. “Kan elo suruh gue cari tau, dan gue akhirnya jadi kepo urusan orang” jawab Rengga. Aku tertawa. “Lalu hasilnya?” tanyaku. Rengga menghela nafas. “Salah faham dong sih. Karin sebenarnya suka juga sama Obi, maksudku on the ways suka” jawabnya. “Serius?” tanyaku. Rengga mengangguk waktu menoleh ke arahku. “Cuma terlalu gengsi” kata Rengga lagi. “Kok elo bisa nebak kalo Karin suka Obi sih?, kalo Obi sih ketahuan udah lope parah” jawabku mengingat Obi selalu menggoda dan perhatian pada Karin. “Lihat bahasa tubuhnya dong Sin. Mimik juga berpengaruh. Kalo di analogikan dengan seni acting, itu terlihat banget” jawab Rengga. Aku tertawa lagi. “Tetap ya harus banget di tarik ke arah itu” ejekku. Gantian Rengga tertawa. “Loh memang benar kok. Kalo seni itu soal rasa. Kalo seni lukis, rasa lewat gambar. Seni buat puisi, rasa dalam rangkaian kata. Kalo seni music, rasa lewat nada dan lirik. Kalo seni acting, rasa lewat gerak tubuh dan mimic, dan semua seni itu bermuara pada seni teater. Itu kenapa gue suka seni teater, karena mencakup semua” kata Rengga lagi. “Dan karena elo jago acting, bikin elo seperti punya banyak karakter?, dan jadi buat karakter dan sifat asli elo susah di tebak orang” potongku. Rengga tergelak. “Perasaan elo aja kali” sanggahnya. Aku mengangkat bahu. “Mungkin…” jawabku tak yakin. Lalu pembicaraan kami jadi berlanjut dan melebar kemana mana. Aku jadi tidak focus pada kondisi Queen. Dia juga sudah kelihatan sehat, karena Nino menyumbang darahnya untuk dia, saat Queen ternyata harus transfusi darah. “Nino niat amat ya Reng sampai nyumbang darah begitu buat Queen?” tanyaku saat kami menjauh dari ranjang Queen. Pusing mendengar Nino terus mengomel karena Noni bulenya susah untuk makan, karena sibuk mengobrol dengan Karin, Clara, Putri dan Andi, sampai Nino mesti banget menyuapinya makan dan tidak berhenti ngomel. “Nino tuh gimmick atau pencitraan gak sih Reng?” tanyaku gemas sendiri karena kelakuan Nino yang aku nilai berlebihan sekali pada Queen. “Kalo Nino artis, dia pasti dapat piala citra” jawab Rengga dengan tatapan yang sama denganku. Jauh menatap Nino. Aku sampai menoleh padanya. “Artinya?” tanyaku. “Dia pasti jadi actor dengan kemampuan acting yang mumpuni” jawab Rengga. Aku tertawa. “Berarti dia lagi gimmick dong?” tanyaku lagi. Rengga tertawa pelan. “LIhat ekspresinya” kata Rengga tanpa menunjuk. Aku menurut menatap Nino lagi dari kejauhan. “Urat dahinya mencuat keluar. Matanya terbelalak, terus rahangnya mengeras, itu di kenali sebagai ekspresi orang marah kalo dalam seni peran. Tapi elo lihat sorot mananya tetap redup lihat Noninya” kata Rengga lagi. “Semakin menyakinkan untuk di bilang gimmick dong” komenku. “Dia gak lagi mengpresentasikan sebuah scenario film, atau naskah seni, untuk apa dia gimmick?” jawab Rengga. Aku menoleh lagi padanya dengan dahi berkerut. “Gak ngerti?” tanyanya. Aku mengangguk. “Nino gak gimmick Sin, semua yang dia tunjukan sama Noni itu yang dia rasakan. Ada amarah, ada khawatir karena lewat sorot matanya yang redup tadi. Tadikan gue bilang, Nino walaupun menunjukan ekpresi seperti orang marah tapikan dia gak sedang menjalankan sebuah proses syuting” jawab Rengga. “Jadi maksud elo Nino gak lagi gimmick atau pencitraan?. Apa elo narik kesimpulan kaya gitu karena tau Nino habis sumbang darahnya buat Queen?” cecarku. “Gak juga, masa elo gak bisa baca bahasa tubuhnya Nino ke Noni sih?. Jangan bohong Sin, elo pun pasti sependapat sama gue kalo Nino suka Noni bukan?, terlepas soal sumbang darah tadi” katanya kalem. Benar sih yang Rengga bilang, gak cuma aku, semua orang di sekolah juga selalu berpikir Nino itu udah jadian sama Noni, karena terlihat beda aja. “Mereka berdua terkadang terlihat canggung. Gak all out macam Nino ke Karin atau elo, Noni pada Omen, Obi, atau Roland. Kenapa begitu?, karena baik Nino atau Noni, pasti merasa takut apa yang mereka bicarakan atau mereka lakukan, akan menjadi kesan buruk untuk satu sama lain. Kalo orang suka pada seseorangkan suka takut terlihat buruk di mata orang yang dia suka. Itu kenapa gue berani bilang, hubungan yang paling jujur antara lelaki dan perempuan itu, adalah hubungan pertemanan. Kalo pacaran sih, biasanya selalu jaim dan gak jujur. Dan biasanya lagi, hubungan pacaran itu lebih bisa bertahan lama kalo di mulai dari pertemanan, karena sudah tau baik buruknya dari awal” jelas Rengga. “Jangan jangan itu kenapa elo nahan diri buat nembak gue lalu memilih temanan dulu sama gue?, elo lagi cari tau baik dan buruknya gue ya?” ejekku. Rengga tertawa. “Jangan buruk sangka” jawabnya. Gantian aku tertawa. “Karena hubungan paling jujur antara laki dan perempuan itu adalah pertemanan tadi, jadi jangan heran kalo terkadang malah jadian sama comblangnya di banding sama gebetan. Kalo udah sama sama tau baik dan buruknya lalu bisa saling menerima, pasti timbul rasa nyaman. Dari rasa nyaman itu pasti timbul rasa simpatik lalu berkembang jadi rasa suka” lanjut Rengga mengabaikan ejekanku. Benar juga. Rengga tipe perasa bukan?, jadi dia bisa mendalami sampai situ. “Belum dari sorot mata Nino, dan sorot mata Noni juga untuk Nino. Lalu Noni yang selalu membicarakan Nino, dan Nino sebaliknya. Walaupun Noni selalu terdengar kesel dan Nino terkadang konyol kalo bicara soal Noni. Tapi mau apa pun yang jadi bahan pembicaraan, baik Nino atau Noni, pasti akan berujung pada Noni yang ujung ujungnya Nino, dan Nino yang ujung ujungnya Noni. Itu bukti kalo tanpa di sadari, mereka sebenarnya saling memikirkan satu sama lain” kata Rengga lagi balik ke soal Nino dan Noni. Masuk akal untukku. “Sekarang kalo gak punya rasa suka, pasti tidak akan di pikirkan secara berlebihan. Buat apa juga?, paling sepintas lalu. Kalo punya rasakan gak mungkin juga mengabaikan begitu aja. Macam Nino, ngapain Sin mesti repot temani Noni setelah dia antar pulang ke rumah setelah sadar dari pingsan?. Omen yang dekat sekalipun sama Noni, seperti yang kita tau, dan perduli juga sama Noni dengan sering bantu dan kawal Noni di sekolah, milih pulang kok. Bukan Omen gak perduli, tapi dia tau kalo itu batasan empati dia sama Noni, hanya sampai antar Noni pulang ke rumahnya. Gak ada dorongan yang bisa buat Omen bertahan tinggal menemani Noni seperti Nino yang karena di dorong rasa suka, jadi buat diri dia tidak mungkin membiarkan Noni sendiri, apalagi dalam kondisi yang sakit. Itu bahasa kasih sayang yang Nino belum sadarin” lanjut Rengga. “Kenapa gak dia sadarin Reng?” tanyaku. Rengga menghela nafas. “Ya karena jaim. Nino ada rasa takut kalo rasa yang dia punya di tolak Noni, atau di anggap hal biasa sama Noni, kan Noni juga jaim, dan takut juga salah mengartikan perhatian Nino, mengingat Nino yang gampang dekat dan akrab sama perempuan lain dan Nino yang selalu di kejar kejar cewek. Intinya sih saling menjaga hati dari rasa kecewa” jawab Rengga. Aku jadi menatapnya. “Jangan jangan elo juga menjaga hati elo dari rasa kecewa, takut gue tolak elo ya?” ejekku. Rengga tertawa. “Loh kok jadi bacain gue” protes Rengga. Aku ikut tertawa. “Habis kalo dengar analisis elo soal Nino dan Noni, kok kaya gambarin elo sama gue” jawabku. Rengga diam tapi dia menatapku. Aku bertahan balas menatapnya. “Kita selalu canggung, kadang gue juga ngerasa elo gak all out bergaul sama gue, gak kaya elo ke Karin, atau Noni, eh Queen maksud gue” ralatku. Rengga tertawa lalu melengos. Aku tau dia tau maksudku. “Lalu gue juga ngerasa terkadang elo berhati hati sekali ngomong atau bersikap sama gue. Itu jaim jugakan?” cecarku. Rengga tertawa lagi. “Jadi beneran gue yang di bacain” keluhnya. Aku abaikan. “Apa sih Reng yang elo rasain sama gue sebenarnya, sampai elo pun kaya Nino ke Noni yang punya julukan khusus?” lanjutku. Rengga baru menatapku lagi. “Ini elo serius kita mau bahas soal ini?” tanyanya. Aku mengangguk. “Gue mau tau aja, gue mesti bertahan atau gue harus tinggal pergi” jawabku. Rengga menatapku lekat. “Tinggal!!” cetusnya lalu menunduk. Kok aku gak rela ya dia ngomong gini?. “Yakin?” tanyaku. Dia menoleh menatapku lagi. “Tinggal bertahan dekat gue maksudnya” jawabnya. “Sampai kapan?” tanyaku balas menatapnya. Dia menggeleng pelan. “Gak tau, sampai elo nyerah karena cape nemenin gue, atau sampai elo ketemu yang lebih baik dari gue” jawabnya lalu menunduk lagi menghindari tatapanku. “Kalo gue akhirnya nyerah nemenin elo, atau gue ketemu orang lain, terus elo bakalan gimana?” tanyaku. Kali ini dia bertahan menunduk. “Paling kembali dengan sendiri gue. Bisa apa?, gak mungkin juga maksa elo tetap tinggal kalo elo gak lagi nyaman” jawabnya. Aku menarik nafas. Kok ya ada laki sepasrah Rengga, dan celakanya aku sendiri tidak punya keberanian untuk benar benar menjauh apalagi meninggalkannya. Aku jadi ikutan diam. Bingung sendiri untuk bicara apa lagi. “Balik yuk!!, lama lama pusing nonton orang ribut mulu. Biar bule istirahat juga” jeda Karin mendekat. Rengga langsung bangkit berdiri. “Elo balik bareng siapa Kar?” tanyanya. Karin menatapku lalu menatap Rengga. “Bareng Kendi deh” jawabnya yang mulai memanggil Andi dengan sebutan Kendi. “Okey…” jawabku lalu ikutan bangkit. Kami pamitan pada Noni dan Nino lalu mulai canggung itu terasa antara aku dan Rengga. Jadi aneh aja diam begini, padahal kami jalan beriringan parkiran mobil Rengga, dan sudah terpisah dengan yang lain karena beda parkiran. “Elo marah ya Sin?” tanyanya menegurku setelah kami diam dalam perjalanan pulang ke rumahku. “Gak, ngapain marah, kalo gue marah, elo taukan bakalan gimana?” jawabku. Rengga tertawa pelan. “Kalo buat gue, emosi marah terbesar seseorang itu adalah diam” jawabnya. Aku menghela nafas. Benar kali ya aku marah, habis aku tidak mendapat jawaban dari pertanyaan sederhana yang coba aku cari tau. Suka gak sih Rengga sama aku?, ya kali mesti aku tanya sefrontal itu, emang aku cewek apaan. Jadi aku memilih diam menghadapi komennya. “Macam Obi ke Karin sekarang. Dia diamin Karin, kasihan sih mereka berdua” lanjut Rengga. Dan membuatku tertarik untuk bicara lagi. “Masa sih Reng?” tanyaku. Rengga mengangguk. “Karin terlalu jaim, Obi kayanya cape. KItakan tau, Obi beda sama Nino yang takut bilang suka sama bule. Obi jelas sekali bilang suka terus sama Karin, dan itu bukan gimmick. Setujukan lo?, di balik candaan Obi, di tuh selalu berusaha buat Karin happy. Karin baru sadar rasa kehilangannya karena diamnya Obi. Karin gak sadar kalo diamnya Obi, itu amarah atau kekecewaan terbesar Obi. Seperti gue yang akhirnya diam karena kecewa gue sama keadaan yang tidak berjalan sesuai harapan gue” jawab Rengga. Aku menghela nafas ingat lagi dengan kondisi sepi yang Rengga rasakan selama ini. “Benar elo jadi kasihan Karin sama Obi ya” komenku mencari aman. Rengga mengangguk. “Tapi jangan suruh gue bantu mereka supaya jadi baik lagi ya. Gue gak mau ikut campur, karena gue gak tau apa yang mereka rasakan dan mereka jalanin. Yang paling bisa gue lakukan jadi pendengar kalo Obi atau Karin curhat. Selebihnya semangatin supaya mereka gak kena mental” jawab Rengga. Aku tertawa lalu diam. “Sin, gue serius tanya, elo marah sama gue?” tanya Rengga setelah sampai rumahku. Aku menggeleng. “Gak tau, gue bingung” keluhku lalu melengos. Terdengar helaan nafas Rengga. “Gue emang payah, gue minta elo tetap tinggal nemenin gue, tapi gak berani kasih alasan kenapa minta elo tinggal buat gue” keluhnya. Aku jadi tertawa, emang susah ngomong sama Rengga tuh. Seperti narik sesuatu dari cangkramnya. “Gue masih belum butuh alasan kok, tenang aja. Gue akan tetap tinggal buat elo, karena gue juga belum punya alasan untuk ninggalin elo. Udah ya gue masuk dulu, cape Reng mau mandi trus molor” pamitku lalu memberanikan diri mencium pipinya. “Hei!!” protesnya mencekal tanganku. Aku tertawa lalu batal turun walaupun sudah membuka pintu mobil. “Apa?, kurang ongkos antar jemputnya?” ejekku. Dia menggeleng. “Makasih” jawabnya. Aku mengangguk lalu melepaskan cekalan tangannya lalu turun dari mobil Rengga. Aku awasi sampai dia berlalu dari rumahku. Kalopun harus pergi, tolong tetap tinggalkan wangi agar tetap bisa aku hirup. Karena kamu seperti udara yang akan tetap membuatku hidup. Tinggalkan juga bayanganmu, agar tetap bisa aku dekap. Maafkan aku, kalo memilih diam saat kamu beranjak menjauh. Bukan aku tidak mau menjeda langkah menjauhmu, tapi aku tidak berani mencegahmu, kalo harus membuat pendar indah putihmu meredup, karena hitamku yang semakin pekat. Hadeh…Rengga tuh masih salah sangka soal Marco bukan sih?. Kok ya dia mikir aku mau menjauh?. Padahal aku hanya cari tau soal kebenaran perasaannya sama aku. Sekarang siapa yang gak meleleh atau baper kalo semakin hari semakin kelihatan kalo dia punya rasa sama aku. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD