11. Keluarga Militer

1094 Words
Selama di perjalanan pulang, Rafif lebih banyak diam sembari memikirkan semua perkataan Zyrach yang mulai melingkupi perasaannya. Namun, lelaki itu benar-benar tidak ingin bekerja terlalu mengikat. Sebab, masih ada sesuatu yang harus ia lakukan sebelum semuanya berakhir. Saat lelaki itu hendak membanting stirnya memutar arah tiba-tiba ponsel yang tergeletak di dashboard berdering pelan membuat Rafif meraih salah satu earphone untuk mengangkat panggilan tersebut. “Rafif, lo di mana? Jemput gue dong!” pinta seorang wanita terdengar sangat manja. “Di jalan,” jawab Rafif datar. Ia bisa menebak suara seseorang di seberang sana tanpa melihatnya sama sekali. “Bagus, gue tunggu di lobi!” putus Regina bersemangat. Bahkan tanpa menunggu jawaban dari Rafif, wanita itu sudah memutuskan secara sepihak. Sedangkan Rafif mengembuskan napasnya panjang sembari meletakkan kembali earphone yang baru saja ia pasang untuk mengangkat panggilan dari kakak angkatnya. Sebab, selama ini Rafif bukanlah anak kandung dari keluarga Regina. Namun, wanita itu sama sekali tidak menganggap canggung akan hubungan keduanya yang berbeda. Sehingga Rafif merasa nyaman sekaligus tenang. Apalagi ketika dirinya benar-benar membutuhkan hiburan akan kesuntukan dari sibuknya bekerja. Walaupun terkadang ia merasa kesal akan tingkah Regina yang begitu ajaib. Tak lama kemudian, mobil berwarna abu-abu yang kendarai oleh Rafif pun terhenti di sebuah gedung pencakar langit berbahan dasar kaca dengan terhiasi nama sekaligus logo perusahaan dengan hologram. Rafif menghentikan mobilnya tepat di hadapan seorang wanita yang terlihat sibuk memainkan ponsel sembari mengabaikan panggilan seorang lelaki di sampingnya. “Sayang!” panggil Rafif sedikit keras. Mendengar suara yang cukup mengejutkan dan tidak asing itu pun membuat Regina mengangkat kepalanya, lalu mengernyit bingung melihat seorang lelaki tampan tersenyum lebar sembari melambaikan tangan ke arahnya. “Wah, cepat sekali!” balas Regina tersenyum lebar, lalu bergegas memasukkan ponselnya kembali. Lelaki tampan yang sejak tadi menatap kepergian Regina pun mendengkus pelan, kemudian tatapannya terhenti pada Rafif. Namun, sayang sekali pemuda yang berprofesi sebagai polisi itu menaikkan alisnya pertanda bertanya membuat lelaki tersebut mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Tunggu apa lagi, Raf? Ayo, jalan!” ajak Regina memakai sabuk pengaman dan bersiap menatap lurus ke depan. Rafif menuruti ajakan wanita cantik di sampingnya, tetapi ia masih penasaran dengan lelaki tadi pun bertanya, “Itu siapa, Kak? Sepertinya dia suka sama lo.” “Oh, itu atasan gue namanya Malvenus. Gue juga enggak tahu sejak kapan dia udah ada di samping tadi,” jawab Regina mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Lo suka sama dia, Kak?” tanya Rafif cukup mengejutkan. “Astaga, Rafif, gue baru patah hati semalam! Dan sekarang, lo malah jodohin gue sama dia. Sebenarnya lo itu adik gue atau adiknya,” keluh Regina dramatis membuat lelaki tampan yang ada di samping meringis tidak percaya. “Mau makan apa?” tanya Rafif mengalihkan pembicaraan membuat Regina yang awalnya merasa tersanjung langsung terdiam sesaat. “Nasi goreng aja, Raf. Tapi, jangan lupa mampir beli martabak dulu.” “Ada lagi?” “Minimarket juga. Gue mau beli sesuatu di sana.” “Lagi?” “Apa, ya? Kalau bisa ... sekalian beli makanan buat sarapan besok. Gue bosen mau menu baru.” “Bukannya kemarin lo udah beli sereal, Kak?” “Iya, Raf. Untuk sekarang gue belum bisa makan sereal dulu, nanti bisa-bisa gue tumbang di kantor.” “Oh, ya udah. Berarti nanti sekalian beli minuman isotonik biar lo enggak lemah.” “Ide bagus!” Sementara itu, di sisi lain, Zyrach masih berada di kantor polisi pun memilih untuk duduk di ruangan Lizian daripada bersama Pak Andri yang jelas-jelas sedari tadi meminta gadis itu untuk datang. ”Zian, menurut lo, apa Rafif bakalan nerima?” tanya Zyrach menatap seorang lelaki tampan yang terlihat sibuk menyantap makan malamnya. “Itu tergantung sama pilihannya, Zyrach. Karena dia baru aja pindah tiga hari yang lalu, jadi wajar aja kalau dia masih berpikir lebih lanjut daripada menyakiti banyak pihak,” jawab Lizian masuk akal. “Benar juga. Tapi, posisi ini juga penting buat dia, Zian. Seharusnya Rafif paham kalau masa depan dia lebih terjamin.” “Terjamin udah jelas, tapi tidak menutup kemungkinan resiko lebih banyak, Zyrach. Apalagi selama ini yang gue tahu, Rafif punya tujuan tersendiri mengambil profesi sebagai detektif investigasi penyelidikan.” “Apa maksud lo?” “Entahlah. Gue juga belum tahu apa yang dia maksud, tapi setahu gue selama ini dia diam-diam nyelidikin sesuatu.” Zyrach mengernyit dalam, lalu bergumam, “Kira-kira apa yang dia selidiki, ya?” Selama ini memang tidak ada yang tahu mengenai keluarga atau pun orang tua Rafif, selain Regina. Itu pun karena mencari adiknya yang tak kembali sampai sebulan penuh. Membuat wanita itu nekat mendatangi kantor polisi layaknya seorang wanita ditinggal menikah lagi. Memang pada saat itu, kantor polisi sedang ramai akibat kasus pembunuhan yang terjadi di sebuah sekolah. Sehingga Rafif pun tidak bisa kembali atau pun mengabari sang kakak mengenai keadaannya. Sehingga tepat hari itulah para polisi tahu bahwa Rafif memiliki seorang kakak cantik yang bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan ternama. Selain itu, tidak ada lagi yang tahu. Bahkan Rafif tidak pernah cerita kalau tidak dipancing oleh beberapa rekan kerja yang penasaran sekaligus tertarik. Namun, dari mereka tidak ada yang benar-benar mengejar Regina membuat Lizian tahu bahwa Rafif memiliki aura berkharisma tersendiri. Membuat orang-orang di sekitarnya merasa segan dan ketakutan dalam waktu bersamaan. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Zyrach pun bangkit mengenakan jaket dan membawa berkasnya kembali. Mengalihkan perhatian Lizian yang awalnya sibuk menatap monitor sembari sesekali mencatat sesuatu di buku agenda miliknya. “Mau pulang atau ke BIN lagi, Zy?” tanya Lizian kembali menatap monitor. “Ke apartemen. Tenang aja di bawah udah ada Kakak, jadi lo enggak perlu khawatir,” jawab Zyrach tersenyum lebar. “Yakin lo? Gue bisa nyempetin buat antar ke bawah,” tanya Lizian menatap penuh. Seakan pemuda itu benar-benar ingin meyakinkan gadis cantik di hadapannya. “Jangan. Lo kerja lagi aja, gue bisa ke bawah sendiri. Lagi pula ini kantor polisi bukan playground yang harus diawasi biar enggak hilang,” jawab Zyrach setengah bercanda, lalu melenggang keluar dengan ringan tanpa beban. Lizian yang melihat hal tersebut hanya tersenyum ringan antara percaya dan tidak percaya. Sebab, Zyrach memang bukanlah tipe seorang gadis yang membutuhkan perhatian. Sebab, ia sudah mengalami banyak situasi yang cukup menenangkan. Namun, tetap saja untuk ukuran seorang perempuan seperti Zyrach membutuhkan pengawasan lebih. Karena tidak ada yang tahu kejahatan akan terjadi. Apalagi gadis itu bisa dikatakan benar-benar beruntung. Memiliki keluarga kepolisian dengan sang ayah komisaris dan sang kakak perwira. Tentu saja menjadi Zyrach cukup terlindungi dengan keluarga yang penuh akan darah militer. Hanya sang ibu yang memutuskan menjadi peneliti di salah satu lab ternama bersama seorang temannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD