Rafif langsung membanting tubuhnya begitu saja di sofa yang berada di ruangannya. Tubuh lelaki itu benar-benar lelah tidak bertenaga. Matanya menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih dengan pendingin ruangan masih menyala. Padahal malam ini terasa sangat dingin, tetapi rasa bangkit untuk mematikan benda tersebut mengalahkan Rafif untuk tetap merebahkan diri.
Tentu saja di ruangan itu hanya ada Rafif seorang. Karena kebetulan sekali Veera dan Franky yang biasa melakukan lembur mendadak ada urusan. Sehingga keduanya tidak berada di ruangan membuat Rafif sedikit merasa sepi.
Ingin sekali ia meminta Lizian berkunjung, tetapi sifat kerahasiaan kasus departemen sangat dijaga ketat demi mempersempit ruang lingkup kejahatan. Sehingga Rafif tidak bisa melakukan apa pun, selain tetap merebahkan diri.
Baru saja Rafif hendak memejamkan mata tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja berdering pelan membuat lelaki itu meraba sekitar, lalu menatap singkat layar ponsel yang menampilkan nama Lizian di sana.
“Kenapa? Lo kesepian sampai nelepon gue begini?”
“Enggaklah! Ngapain gue kesepian. Gue cuma mau ngasih tahu kalau malam ini balik. Ternyata apartemen gue udah hampir mirip gudang saking lamanya ditinggalin. Lo enggak masalah gue tinggal, ‘kan?”
“Jadi, lo mau balik!?” tanya Rafif terkejut sampai mendudukkan diri.
“Iya. Kalau lo enggak keberatan bisa ikut sama gue,” jawab Lizian santai.
“Enggak mendingan gue berada di sini. Lagi pula gue ikut lo pun percuma, sebentar lagi pagi. Pasti tim gue udah pada datang.”
“Ya sudah, gue mau ngabarin itu aja. Takutnya pagi-pagi lo nyari gue. Tenang aja nanti gue bawain sarapan.”
“Jangan, nanti gue mau pulang nemuin Regina. Lo dengar sendiri kalau dia bakal buat sarapan.”
“Iya, benar juga. Kalau begitu, selamat tidur dan mimpi indah,” putus Lizian mematikan sambungan teleponnya.
Sedangkan Rafif tengah mengembuskan napasnya kasar. Kemudian, lelaki itu bangkit dari sofa menuju lemari pendingin kecil yang berada di ruangan. Ia mengambil salah satu botol minum isotonik dan membukanya sembari menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 1 pagi.
Tepat ketika lelaki itu menaruh botol kosong di atas meja tiba-tiba pintu ruangan terbuka membuat Rafif terkejut sesaat, lalu melebarkan matanya tidak percaya menatap seorang gadis ber-hoodie merah dengan tudung yang ia kenakan masuk ke dalam.
“Lo belum tidur, Raf?” tanya Veera yang baru saja masuk, lalu meletakkan plastik putih di meja. Kemudian, ia membuka hoodie tersebut tepat di depan Rafif.
“Awalnya gue ngantuk, tapi lama kelamaan diganggu. Akhirnya, gue enggak ngantuk lagi,” jawab Rafif jujur.
“Ya udah, bagus! Gue bawa makanan, lo mau?” Veera menaruh hoodie tersebut di sandaran sofa, lalu mendudukkan diri.
“Lo bawa apa?” tanya Rafif penasaran.
“Intinya makanan enak buat dimakan malam-malam begini.”
Rafif menggeleng pelan, lalu mendudukkan diri samping gadis yang kini membuka satu per satu bungkus penutup makanan tersebut. Kini tampaklah satu set makanan berisikan mie dan kuah yang berisikan potongan ayam.
“Pacar lo ke mana, Ra? Biasanya dia enggak ngebolehin lo nginap lagi di kantor,” tanya Rafif sembari menyiapkan makan malam tersebut.
“Siapa bilang? Gue boleh kok nginap, karena pacar gue juga bisa tahu kalau pacarnya sibuk,” jawab Veera santai sembari mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Jadi, malam ini lo tidur di sini?”
“Enggak kok, gue udah bilang sama pengurus asrama.”
“Bagus! Gue pikir lo tidur di sini, lantas gue tidur di mana.”
“Tenang aja, Raf. Gue masih waras buat tidur sekamar sama cowok, sedangkan gue sendiri udah punya pacar.”
Setelah itu, keduanya pun menghabiskan makan tengah malan yang nyatanya sampai hampir pukul 2 pagi. Membuat Rafif menyuruh Veera untuk segera tidur, sedangkan dirinya membereskan semua bungkus hasil sisa makan malam.
Kemudian, ruangan tersebut kembali gelap dengan Rafif merebahkan diri sembari menatap langit-langit kamar yang berwarna putih akibat sinar rembulan dari luar. Di tengah merebahkan diri itu, Rafif mendadak teringat akan seorang wanita yang pernah ditemuinya.
Sementara itu, di sisi lain Theo dan Ethan tampak menuruni anak tangga yang terbuat dari susunan batu bata dengan dilapisi semen kasar menuju lantai bawah tanah. Keduanya berjalan hanya disinari lampu remang berwarna kuning membuat siluet tubuh mereka jauh lebih besar.
Sesampainya di sebuah pintu berwarna putih, Ethan mendorong pelan menampilkan beberapa set alat penelitian lengkap dengan objek yang terbaring tidak sadarkan diri. Sedangkan di sampingnya terdapat seorang professor berambut memutih dengan kacamata tebal bertengger di pangkal hidungnya.
“Pimpinan Theo,” sapa seorang professor berbalik sembari menghampiri lelaki tersebut dengan pandangan penuh kode.
“Ethan,” panggil Theo mengkode pada bawahannya agar menelisik sesuatu di ruangan.
Seakan mengerti, lelaki berjas hitam formal itu pun mengangguk. Kemudian, melenggang pergi meninggalkan bosnya yang berbicara serius di sisi ruangan sembari menatap objek terbaring tak berdaya di depannya.
“Bagaimana perkembangan objek yang kita miliki, Professor Rowinski?” tanya Theo menatap serius.
“Masih dalam tahap pengembangan. Memang tidak secepat ketika kita mengembangkan objek sebelumnya, tetapi aku akan tetap berusaha,” jawab lelaki tua berambut memutih itu dengan suara serak basah.
“Apakah kamu tidak mempunyai cara lain lagi mengembangkan benda itu? Semua pihak klien terus menanyakan hasilnya. Kalau kita tidak memberikan mereka produk yang memuaskan, maka jangan harap aku akan terus memberikan dana pada lab ini.” Theo menatap tajam sekaligus bernada mengancang yang begitu serius.
Professor Rowinski tertawa pelan, lalu membalas, “Aku pasti akan mengembangkan objek yang sama, tetapi kamu juga jangan lupa untuk tetap memberikan pasokan objek kepadaku. Karena ini akan membutuhkan waktu cukup lama, kecuali kamu menemukan kembali bocah dua puluh tahun lalu yang pernah tanpa sengaja memakai objek milikku.”
“Baiklah. Aku akan berusaha, tetapi sampai sekarang belum menemukan kabar apa pun,” putus Theo mengembuskan napasnya berat.
Jujur saja, semua organisasi LUCA hampir saja menyerah hanya karena tidak menemukan bocah yang pernah memecahkan segelas cairan untuk pengembangan objek. Akan tetapi, siapa sangka jika cairan itu malah berkembang begitu pesat sampai mereka tidak mengetahuinya.
Alhasil bocah laki-laki dua puluh tahun lalu itu pun menghilang dengan cairan objek yang mengalir kental pada tubuhnya. Membuat ia berbeda daripada manusia biasa.
Setelah pembicaraan cukup serius itu, Theo dan Professor Rowinski tidak berbicara lagi. Keduanya menatap EKG yang menandakan masih ada kehidupan di sana, tetapi sudah tidak terhitung berapa bulan bocah laki-laki berpakaian putih itu tidak sadarkan diri. Salah satu objek yang sulit didapat. Karena tidak mudah menemukan bocah laki-laki ketika semua panti asuhan ditutup secara mendadak.