21. Pertemuan Terencana

1050 Words
“Hati-hati di jalan, Kak. Nanti jangan tunggu gue pulang!” Mendengar hal tersebut, Regina yang awalnya melangkah dengan tenang diselimuti aura kebahagiaan itu pun langsung mengernyit bingung. “Lo mau ngapain lagi?” “Biasa, Kak. Ada yang harus gue selidiki lagi.” “Ya, sudah. Jangan larut malam, dan tidur lebih cepat. Kamu harus datang besok pagi agar bisa membawa sarapan dan mandi.” “Baiklah, Kak. Aku akan mengingat semua pesanmu nanti.” Rafif mengangguk singkat, lalu mengkode pada sang kakak untuk segera masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh salah satu pengawal Zyrach. Tentu saja semua pelayanan itu dilakukan oleh Jarvis membuat Regina bisa mengambil mobil tanpa harus repot turun kembali ke parkiran bawah tanah. Setelah memperhatikan sang kakak yang keluar dari pekarangan rumah sakit, Rafif pun kembali masuk ke dalam. Namun, kebetulan sekali lelaki itu bertemu dengan seseorang yang ia kenali beberapa saat lalu. “Lho, Rafif, sedang apa kamu di sini?” tanya Theo melebarkan matanya terkejut sembari tersenyum ramah. Rafif mengangguk singkat demi menghormati lelaki yang ada di depannya ternyata bos dari sang kakak. Ia tidak mungkin mempengaruhi keberhasilan sang kakak yang selalu sukses dalam hal karir. “Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Rafif membalikkan tubuhnya pergi, tetapi sebelum itu Theo sudah mencegahnya lebih dulu. “Tunggu, Rafif! Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” “Ada apa, Pimpinan Vald?” “Apa kamu masih sibuk? Aku ingin mengatakan banyak hal.” “Tidak juga.” “Itu bagus! Ayo, kita ke kantin rumah sakit. Biar aku yang mentraktir.” “Tidak perlu, Pimpinan Vald. Itu akan sangat merepotkan.” “Jangan banyak bicara. Ayo, kita segera ke sana!” ajak Theo mendorong pundak seorang lelaki muda yang begitu gagah kembali masuk ke dalam. Kantin rumah sakit memang tidak terlalu jauh dari lobi. Sebab, letaknya cukup strategis di dekat tangga arah kamar pasien. Membuat lokasinya cukup pas untuk dijadikan sebagai tempat beristirahat. Selain menenangkan diri setelah menerima pemberitahuan yang mengejutkan, kantin juga bisa dijadikan sebagai tempat pelepas penat akibat menghadapi lelahnya dunia. Kini Theo dan Rafif tampak berdiri di sebuah mesin makanan dengan banyak sekali menu di sana. Dan benar saja ucapan Theo tadi, ternyata kantin tersebut tengah kedatangan menu baru yang cukup enak. Karena mengangkat tema kedai yang ada di luar rumah sakit. “Aku akan membelikanmu menu baru. Mau?” tanya Theo meminta persetujuan. “Apa pun tidak masalah, Pimpinan Vald,” jawab Rafif mengangguk singkat. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan memesan dua makanan berat, satu set cuci mulut, dan dua gelas teh alami,” ucap Theo menggerakkan jemari telunjuknya dengan menyentuh satu per satu kotak berwarna biru yang bertuliskan angka serta harga tertera di sana. Selesai memesan makanan, kedua lelaki itu pun mendapatkan kertas yang isinya nomor meja serta nomor antrian untuk mendapatkan makanan. Karena malam itu kantin cukup ramai dengan beberapa pengunjung dan penjaga pasien untuk mengisi perut. Pilihan Rafif mengarah pada salah satu meja yang terdapat tidak jauh dari kotak minum. Memudahkan mereka untuk mengambil air ketika kehabisan. “Pimpinan, Vald, sepertinya kita lebih baik duduk di sini saja!” usul Rafif menunjuk satu set meja dan kursi kosong di depannya. “Tidak buruk. Ada tempat air minum isi ulang juga,” balas Theo mengangguk setuju. Tak lama kemudian, makan malam mereka berdua pun sampai. Cukup lama sampai akhirnya makanan tersebut datang. Sehingga keduanya sama sekali tidak bersuara membuat Rafif hampir saja mati kebosanan. Karena ia juga masih memiliki sesuatu yang harus diselidiki. “Rafif, aku baru saja berkenalan denganmu. Aku harap kita bisa berhubungan dengan baik,” ucap Theo mengangguk singkat, lalu kembali mengambil alat makannya yang sempat ia taruh kembali pada saat ingin berbicara dengan lelaki muda di hadapannya. “Bukankah ini cukup baik? Kita berdua makan di tempat umum dengan posisiku sebagai seorang polisi. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang nanti? Mengetahui apparat keamanan mereka malah bersantai ria mengisi perut,” balas Rafif santai. “Kamu benar! Tapi, ini di luar pekerjaan. Tidak akan ada yang berani mengusikmu, Rafif,” imbuh Theo begitu percaya diri. Apalagi ketika mengatakan kalimat terakhirnya. Seakan lelaki itu mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan. Setelah itu Rafif pun memilih untuk diam, selain menyibukkan diri dengan mengisi perut. Lagi pula dirinya memang jarang sekali bisa makan teratur tanpa adanya Regina. Pasti wanita itu akan berteriak kesal dan mengambil ponsel dan laptop ketika sulit diajak betengkar yang menggelak tawa. “Masalah apa yang ingin Pimpinan Vald katakan?” tanya Rafif menyeka kuah yang berada di bibir serta dagu milik lelaki tersebut. “Wah, kau bukan tipe orng yang gampang membicarakan banyak hal. Padahal aku bisa mengdengar yang cukup keras semua perkataanmu pada Regina. Dia menjenguk temannya, ‘kan?” Rafif mengernyit curiga. “Dari mana kau tahu Pimpinan Vald? Padahal aku sma sekali tidak memberi tahu siapa pummengenai masalah ini.” “Tenang saja. Aku hanya mendengar ketika hendak masuk kantin. Jadi, wajar saja jika memenukan sepasang kakak beradik tengah berargumentasi cukup lama dan tidak mudah goyah. Untungnya Regina mengalah dan membiarkanmu tetap berada di luar.” “Baiklah. Aku tahu!” pungkas Rafif mengangguk singkat. Selama makan bersama di kantin, mereka berdua pun saling berkomunikasi dan menceritakan banyak hal. Tidak hanya mengenai semua pekerjaan sang kakak, melainkan Theo kembali mengajak Rafif untuk bekerja di bawahnya dengan iming-iming uang lebih banyak. Tepat setelah mengatakan hal tersebut, tiba-tiba Lizian datang sembari berlari cepat ke arah merela berdua. Dengan cepat Rafif mengangkat pamggilan tersebut yang terlihat tidak asing. Hanya saja ia lumayan luna untuk membersihkan namamu yang sudah berubah lumayan banyak. “Astaga, Raf! Ayo, ikut gue! Mendesak!” keluh Lizian sembari berdecak kesal sampai menatap dingin sekali datar pada dua lelaki yang ada di hadapannya tengah makan bersama. Memang hanya orang bo*doh yang tidak menyadari seorang pemimpin paling berpengaruh di dunia pengiriman luar negeri maupun dalam negeri. Hanya Rafif saja yang tidak mengenal Theo dengan baik. “Bukankah ini Pimpinan Valder Logistic?” tanya Lizian mengernyit penasaran. Theo tertawa lepas, lalu menjawab, “Iya, benar. Itu aku.” “Wah, senang bisa bertemu denganmu,” sapa Lizian tersenyum lebar, lalu berjabat tangan. Membuat Rafif yang berada di samping sahabatnya mengernyit bingung. Kemudian, ia lebih memilih membiarkan lelaki itu bertindak sesuka hati daripada mereka berdua terlibat pertengkaran lagi. Akibat dirinya yang tidak terlalu mengetahui banyak hal, termasuk perkembangan perusahaan di lingkungan sekitar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD