Bab 3: Taktik Buka Tutup Pintu dan Kopi Sisa

616 Words
Angin malam Perumahan Grand Arcadia berhembus lumayan kencang. Hawa dingin perlahan mulai menusuk tulang. Menusuknya ngalahin jarum suntik mantri puskesmas pas lagi musim imunisasi anak sekolah. Namun postur Vino tetap tegak paripurna di teras rumah nomor tujuh. Mantan sultan ini sedang menjalani hukuman sebagai penangkal hantu jalur mandiri. Udah persis kayak sesajen penolak bala, bedanya yang ini wangi dan pake seragam rapi. Wajahnya setenang air danau. Sama sekali tidak ada raut keberatan. Ceklek. Pintu mahoni setinggi tiga meter di belakangnya terbuka lima sentimeter. Sebuah kepala menyembul dari balik celah pintu. Nyembulnya pelan-pelan macam kura-kura malu yang baru keluar dari cangkangnya. "Kamu masih di situ?" "Masih, Nona." "Bagus. Saya cuma mau ngecek cuaca." "Suhu malam ini dua puluh derajat, angin dari barat daya, dan tidak ada anomali cuaca." "Siapa yang nanya anomali?! Saya nanya cuaca biar tahu besok nyuci atau nggak!" Alasan klasik kayak emak-emak kalau udah kepepet jemurannya numpuk segunung. Brak. Pintu ditutup rapat. Vino tersenyum tipis. Gengsi nona besar ini ternyata jauh lebih tebal dari pintu rumahnya. Lebih tebal dari bedak dempul penyanyi dangdut keliling yang mau manggung kondangan. Sepuluh menit kemudian, suara kunci kembali diputar dari dalam. Ceklek. Pintu terbuka sepuluh sentimeter. "Masih melek?" "Mata saya belum dilengkapi mode tidur otomatis." "Bagus. Saya cuma mau nyari sinyal." "Router WiFi Nona ada di ruang tengah, bukan di teras." "Sinyal operator saya lemot kalau di dalam!" "Nona sedang memegang remote AC, bukan handphone." Clara menunduk menatap benda putih di tangannya. Skakmat yang bikin jantung serasa copot pindah ke dengkul. Wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus. Kepiting rebus bumbu saus padang yang baru diangkat dari wajan saking matengnya. "Ini... ini remote pintar! Bisa nangkap sinyal satelit luar angkasa! Kamu diam saja!" "Sekalian aja tuh remote dipake buat mesen ojek online ke planet mars." Ucap vino dalam hati (tentu saja, kalau diucapkan udah pasti perang dunia langsung meletus). Brak! Pintu dibanting lebih keras dari sebelumnya. Lima belas menit berlalu. Engsel pintu kembali berdecit. Kali ini Clara melangkah keluar sampai ke teras. Tangannya membawa selembar kertas kosong yang baru saja diremas-remas. Kayak bocah TK yang nyerah ngerjain tugas menggambar benang kusut. "Arah mata angin, Nona?" sapa Vino mendahului dengan nada kelewat sopan. "Sok tahu! Saya mau buang sampah!" "Tempat sampah organik dan anorganik ada di dekat pagar depan, jaraknya sepuluh meter dari sini." "Saya mau buangnya pelan-pelan sambil cari angin!" Cari angin kok bawa-bawa kertas lecek, mending bawa layangan sekalian biar asyik nariknya. "Kertas kosong yang baru Nona remas sepuluh detik lalu tidak akan membusuk kalau dibiarkan di dalam rumah sampai besok pagi." Clara menelan ludah. Skakmat lagi. "Kalau Nona takut sendirian di dalam, Nona bisa jujur." "Enak aja! Saya ini pemberani!" "Pemberani tidak memutar kunci pintu sampai lima kali putaran setiap habis masuk. Udah kayak sipir penjara Alcatraz yang takut narapidananya kabur lewat lubang kunci." "Saya cuma waspada sama maling!" "Maling tidak akan berani mendekati rumah yang dijaga oleh satpam tepat di depan pintunya." Wajah Clara kini semerah tomat matang. Tomat mateng yang siap diulek jadi sambel terasi buat teman makan pecel lele. Napasnya naik turun menahan emosi dan rasa malu yang meledak jadi satu. Semua alasan bohongnya diruntuhkan dalam hitungan detik. Satpam baru ini terlalu jeli, terlalu tenang, dan terlalu menyebalkan. "Kamu itu satpam paling nyebelin sedunia!" "Terima kasih atas pujiannya, Nona Clara. Silakan masuk, udara semakin dingin." Brak! Pintu dibanting paripurna untuk yang keempat kalinya. Bunyinya kenceng bener macam bedug maghrib ditabuh pas hari pertama puasa. Terdengar langkah kaki dihentakkan dengan kesal menjauh ke arah tangga lantai dua. Vino membetulkan kerah seragam birunya. Senyum simpul yang sangat elegan terlukis di wajah tampannya. Hiburan malam ini ternyata jauh lebih menyenangkan daripada rapat pemegang saham. Atau nonton acara lawak di tivi yang pelawaknya cuma modal main bedak tabur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD