Makan Malam Bersama [Part 6]

2411 Words
Ding Dong! Suara bel rumah, mengalihkan perhatian keluarga Miya Louren. Apalagi Elen, Ibu Miya dengan semangat langsung saja berlari untuk membukakkan pintu. "Silahkan masuk...." ujarnya. Sedangkan sang tamu, yaitu keluarga Reanold Zake, masuk dengan senyum lebar di wajah masing-masing. Apalagi, keluarga Rean membawa berbagai macam barang yang terbungkus dengan rapi. Siera, Mama Rean memakai dress panjang berwarna merah maroon, yang senada denfan Theo. Sedangkan Rean seperti biasa, setelah jas hitam yang khas. "Hai," sapa Rean, ketika melihat Miya yang juga ikut datang menyambut. Mendengar sapaan Rean, Miya hanya tersenyum tipis. Masih malu jika terlalu banyak bereaksi didepan keluarga. "Miya, ajak Rean duduk di taman aja, soalnya makanan belum siap. Nanti kalau udah siap bakal Ibu panggil," ujar Elen. Di sambut dengan anggukan paham dari Miya. "Ayo," ajak Miya. Tapi Rean dengan kepekaannya, langsung menggandeng tangan Miya erat. Kemudian pergi ke taman belakang rumah. "Alah alaahh, yang mau menikah," gumam Theo, Ayah Rean. Theo merasa sangat senang melihat reaksi antara Rean dan Miya, apalagi Miya yang malu-malu. Sedangkan di taman belakang, Miya dan Rean saling duduk berhadapan. Rean dengan diam, menatap bagaimana cantiknya Miya ketika memakai dress feminim berewarna mint itu. Karena untuk hari-hari biasa, Miya hanya memakai kaos atau kemeja untuk pergi kuliah. "Jangan ngeliatin terus, aku tau aku cantik," cetus Miya yang merasa gugup. Entah kenapa, Miya selalu takut jika ada pertemuan keluarga besar seperti ini. Jika hanya bertemu Rean saja, Miya tidak akan terlalu gugup. "Bener, kamu cantik," papar Rean sembari menyelipkan helaian rambut panjang Miya. Membuat wajah Miya langsung bersemu merah. "Aku jadi nggak sabar ngeliat kamu pake gaun pengantin nanti," deg, jantung Miya seperti berhenti beberapa saat ketika mendengar apa yang Rean katakan. Nafas Miya naik – turun tidak normal. Ketakuan Miya tentang pernikahan, tiba-tiba muncul kembali. "Hei... jangan takut kayak gitu," ucap Rean yang memang sangat peka terhadap keadaan Miya. Miya menggeleng cepat, "Nggak kok." "Sebenernya, apa yang kamu takutin? apa kamu pernah dikasarin sama seseorang?" tanya Rean. Miya pun menggeleng lagi. "Aku nggak pernah dikasarin orang. Kalopun ada yang kasar, bakal langsung aku bales. Tapi yang aku takutin bukan itu aja.... aku takut aku nggak bisa jalanin tanggung jawab aku dengan baik," papar Miya. "Tanggung jawab apa? kamu nggak perlu masak, soalnya aku emang selalu pesen catering makanan dari dulu. Kalo bersih-besih, tergantung kamu. Mau pakai pembantu juga boleh kok," papar Rean. "Bukan masalah itu aja, Rean. Soal masak, aku bisa belajar. Soal bersih-bersih tentu aja aku bisa, zemua orang wajib bisa dan mau bersih-bersih. Yang aku takutin, aku ini orangnya emosian dan egois, bahkan buat hal sepele. Gimana kalo Egois dan nggak bisa ngertiin kamu?" Miya menunduk. Namun, Rean segera mengangkat wajah Miya, lalu menatapnya dalam. "Kalau kamu nggak bisa ngertiin aku, yaudah, aku yang bakal ngertiin kamu," jelas Rean dengan nada rendah. Membuat air mata Miya membendung dengan sendirinya. "Semalem, aku abis bertengar lagi sama Ibu. Cuma gara-gara masalah uang... aku jadi ngga paham diri aku sendiri," isak Miya. "Kalau masalah uang, memang sangat sensitif, Miya. Apalagi kamu masih kerja part time," sahut Rean. "Rean, andai aja pernikahan tetep lanjut. Kamu bisa janji sesuatu nggak sama aku?" mendengar pertanyaan dari Miya, Rean langsung mengangguk setuju. "Kamu harus janji, kalo suatu hari aku bikin kesalahan, toong bilang aja. Jangan diem-diem marah dan bikin aku bingung. Aku bukan cewek yang lembut, dan bisa luluh sama gombalan atau semacamnya. Aku bahkan cuma nikah karena dijodohin. Tapi siapa yang tau takdir. Kalo kamu perlakuin aku dengan baik, aku juga bakal perlakuin kamu dengan baik, sangat baik." Miya menunjukkan jari kelingkingnya, untuk membuat janji dengan Rean. "Tapi jangan bentak-bentak, aku juga bisa nangis," lanjut Miya. Membuat Rean langsung terkekeh gemas melihat tingkah Miya. "Janji," tukas Rean dengan mantap. Kemudian memeluk Miya erat, sembari berbisik, "Aku sayang kamu, Miya." "Rean.... Miya..., ayo masuk," teriak Ibu Miya dari dalam rumah. Harum makanan, langsung menyambut indra penciuman Miya. Apalagi, ada Mie dan ayam goreng yang jadi makanan kesukaan gadis berambut panjang itu. "Duduk.... duduk," ujar Elen kembali. Sementara yang lain masih saling mengobrol, Miya berinisiatif menuangkan minuman ke semua gelas. Kemudian, mereka mulai makan bersama. "Miya, ambilkan Rean dulu," ujar Vani. "Iya, Kak. Rean... kamu mau makan apa?" tanya Miya pelan, tak mau jadi bahan perhatian. Padahal, acara makan bersama itu memang ditujukan untuk Miya dan Rean. "Apa aja," jawab Rean singkat. Dia bingung ingin makan apa, sebab semua makanan terlihat sangat menggoda. "Kamu ada alergi udang atau seafood nggak?" Rean menggeleng. Dengan sigap, Miya mengambilkan beberapa udang goreng tepung, ke piring Rean. "Apa lagi?" "Udah, aku pengen makan kue-kue an aja ntar," jelas Rean. Kemudian, baik dari keluarga Rean dan keluarga Miya, langsung memulai acara makan bersama. Walaupun sedikit ricuh karena Axel tengah rewel-rewelnya akibat demam. Bahkan, Vany sendiri tidak bisa mengatasi anaknya. "Sini, Kak. Aku bakal ajak Axel jalan-jalan kekuar bentar biar dia tenang," ujar Miya setelah selesai makan. Miya merasa tidak enak, jika ada suasana gaduh ketika ada keluarga Rean. "Aku ikut," tukas Rean. "Nggak usah, kamu makan aja dulu," ujar Miya. Namun Rean, tidak mengindahkan permintaan gadis berambut pajang itu. Rean masih mengikuti Miya, sampai ke gerbang rumahnya. "Aku bilang, 'kan kamu ngga usah ikut. Nanti kalo masuk angin gimana? ini udah malem," cetus Miya. "Justru udah malam, jadi aku harus nemenin kamu. Mana bisa aku ngebiarin calon istri aku keluyuran sendiri malem-malem," papar Rean, kemudian melepaskan jas hitamnya, untuk menutupi lengan Miya yang terekspos karena memakai dress pendek. Lalu, pandangan Rean menangkap anak laki-laki kecil, yang berada di gedongan Miya. "Namanya siapa?" "Axelion Haward. Maaf tadi dia rewel, soalnya lagi demam dari 3 hari yang lalu," jelas Miya sembari menenangkan Axel yang masih sesegukan. "Kok dia langsung diem pas kamu gendong? bukannya anak kecil lebih tenang kalo sama Mama–nya, 'ya?" tanya Rean yang penasaran. Sebab, setelah keluar dari rumah bersama Miya, Axel langsung diam walau masih sesegukan. "Mungkin karena aku nggak terlalu neken dia. Maksudnya... ah, aku jadi bingung jelasin gimana. Jadi, Kakak aku emang sering kesusahan nyuapin Axel makan. Emang Axel susah makan, jadi Kakak aku sedikit keras pas nyuapin dia. Nah, mungkin karena itu Axel jadi tertekan dan rewel," jelas Miya. "Padahal kalo sama aku, dia nggak pernah rewel. Sekali nangis, aku liatin doang nanti dia diem sambil minta maaf. Barulah aku tanya kenapa dia nangis. Kalo makan sama aku, dia tenang. Soalnya aku cuma kasih makanan dia, sendok sama garpu. Terus aku makan bareng dia. Udah, dia pasti abis makanannya tanpa rewel," lanjut Miya. Membuat Rean tersenyum tipis, mendengar penjelasan mantap dari Miya. "Kayaknya kamu bakal jadi Ibu yang hebat, 'ya?" gumam Rean. Membuat Miya yang awalnya fokus pada Axel, langsung mengalihkan pandangannya. "Jangan mulai ngegombal lagi. Kamu mau aku pukul?" cetus Miya. "Pukul aja, paling juga nggak kerasa," ejek Rean. Miya yang terpancing emosi, langsung menurunkan Axel dari gendongannya. "Ayo Xel, pukul Uncle Rean," ujar Miya. Kemudian, Axel yang memang sangat aktif, mulai berjalan dengan tegas menghadang Rean. "Uncle... don't hurt my Mama," gumam Rean yang belum terlalu lancar bicara. "Hey, aku bukan Mama kamu," cetus Miya tidak terima. "Mama kamu itu namanya Vani, okay?" Axel mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya pda Rean. Lalu beberapa detik kemudian, Axel berlari dengan kaki kecilnya mendekati Rean, dengan kepalan tangan yang sudah siap menghantam siapapun. Tapi sayangnya, Axel malah tersandung batu sebelum sampai ke tempat Rean berdiri. Entah karena malu atau memang sakit, Axel sontak menangis. "Ayo berdiri," titah Miya. Sambil membantu Axel berdiri. "Rean, kamu tau? aku selalu ngajarin Axel buat berdiri sendiri kalau jatuh," jelas Miya. "Kenapa?" heran Rean. "Biar dia belajar, kalo dia harus berusaha sendiri. Karena kita ngga bisa selalu berharap bantuan irang lain, 'kan?" lanjutnya. Dan benar saja, Axel berdiri sendiri walau masih sambil menangis. "Bagian mana yang sakit?" tanya Miya. Axel menunjuk telapak tangannya, "Disini sakit." "Sini biar aku tiup, fyuuhh." Lucu, pikir Rean ketika melihat Miya yang meniup-niup lembut lelapak tangan Axel. "Ayo, kita beli ice cream, terus pulang." "Aku rasa, kamu lebih cocok jadi Mama Axel," gumam Rean ketika mengantri di toko Ice cream. "Aku cocok jadi Mama siapa aja," tukas Miya dengan sombong. "Termasuk Mama dari Anak-anakku?" Rean menatap Miya dalam. Namun karena malu di tempat umum, Miya akhirnya mengalihkan pandangannya. Miya tadak mau Rean tau, bahwa wajahnya tengah memerah. "Uncle," panggil Axel dengan suara kecilnya. "Ya?" "Mau ice cream?" tanya Axel. "Tidak. Uncle mau Aunty kamu aja," ujar Rean. Axel yang tidak terima, langsung memeluk Miya erat. Padahal, Miya sedang fokus berbicara dengan kasir. "No!" "Aku mau Aunty Miya...." "Nooooo!" "Reaann, Axeeel, ya ampun kalian," keluh Miya yang merasa pusing karena pertengkaran si tua dan si kecil. Sedangkan Rean langsung terkekeh pelan, apalagi setelah melihat bagaimana wajah marah lucu dari Miya. "Ayo pulang. Nanti aku pula yang kena marah," ujar Miya. Selama diperjalanan pulang, Miya di buat gemas dengan Rean dan Axel yang tidak ada henti-hentinya berkelahi. Entah dengan omongan, atau pukul-pukulan. Namun, Miya tersenyum lebar ketika Rean pura-pura kesakitan dengan pukulan Axel. Sesampainya di rumah, mereka langsung disambut oleh masing-masing keluarga. "Axel, sini. Jangan ganggu Aunty Miya dulu, dia lagi ada tamu," jelas Vani sembari mengambil Axel dari gendongan Miya. Sedangkan Axel yang sudah tenang, mau-mau saja untuk duduk dan menonton televisi sambil memakan ice cream. "Kenapa beliin Axel Ice Cream, sih? kamu tau sendiri dia lagi demam," cetus Vani setelah Miya dan Rean masuk ke dalam rumah. "Ya mau gimana lagi, Kakak aja ngga bisa bikin Axel diem," tukas Miya yang merasa tersingggung. Padahal, Vani saja sepertinya tidak terlalu paham bagaimana mau Axel. Mungkin karena Axel lebih banyak menghabiskan waktu bersama Neneknya, ataupun Miya. "Kalau batuk gimana? emang kamu mau tanggung jawab jagain dia?" tanya Vani. "Emang biasanya aku yang jagain, kok. Jangan ngilang-ngilangin deh. Kakak tinggal nonton tv sama masak aja udah. Ngga usah bikin ribet keadaan," cetus Miya. Kemudian, Miya berjalan menjauh agar bisa menenangkan emosi. Tidak mau ada kegaduhan selama ada keluarga Rean. Sedangkan Rean yang paham situasi, langsung duduk didekat Miya. "Kalian sering berkelahi, ya?" tanya Rean penasaran. Lalu Miya mengangguk, menanggapi pertanyaan dari Rean. "Udah biasa. Sekarang kami berantem, nanti akur. Kalopun kami abis berantem hebat, pas nonton tv atau makan malem ya akur lagi. Biasa lah," ucap Miya yang langsung mendapat kekehan pelan dari Rean. "Emang siklus Kakak—Adek kayak gitu, 'ya? Aku juga dulu sering berantem sama Kakak aku," ucap Rean. Kemudian, Rean melihat sekitar. Memastikan bahwa tidak ada yang mengawasi mereka. Dan benar saja, seluruh keluarga sedang sibuk berbincang-bincang. "Kamu punya Kakak?" heran Miya. Sebab, Miya tidak pernah melihat Kakak Rean selama beberapa kali pertemuan mereka. Rean mengangguk, "Punya, tapi dia sudah meninggal." Sontak, Miya menutup mulutnya kaget. "Maaf, aku nggak bermaksud—" "Hhaha, santai aja, Miya. Kamu kan cuma nanya dan pertanyaan juga kamu bukan yang aneh-aneh," sahut Rean, ketika melihat Miya yang panik. "Kakak aku, dulu juga cerewet banget. Dia suka ngatur ini itu, dan marahin aku kalo aku berantakan. Tapi abis dia marah, dia pasti ngerasa bersalah dan langsung beliin aku makanan atau mainan. Nah, hal-hal kayak gitu yang bikin aku kangen banget sama dia," jelas Rean. Membuat Miya yang ikut sedih, jadi menunduk. "Tapi kalian udah baikan, 'kan?"tanya Miya. Rean mengangguk, "Berbaikan, kok. Sebelum dia pergi aja, dia bilang kalo dia sayang banget sama aku." "Kalau boleh tau, Kakak kamu meninggal karena apa? eum... kalo boleh tau aja," lirih Miya. Dia merasa tidak enak menanyakan hal sensitif seperti ini. Tapi Miya juga ingin tau lebih banyak, tentang latar belakang Rean dan keluarganya. "Dia sakit," jawab Rean dengan suara parau. Membuat Miya yang awalnya menunduk, langsung menatap wajah sedih dari Rean. Terlihat jelas sekali, bahwa Rean tengah menahan tangis disana. Tangan Miya terulur, menarik tengkuk leher Rean agar mendekat padannya, agar Rean bisa bersener di bahunya. "Nangis aja, nggak apa apa. Aku nggak bakal ngejek, kok." Rean terkekeh pelan, kemudian menarik tubuh Miya dan memeluknya erat. Rean menumpahkan semua kesedihan yang telah dia pendam sejak dulu. Jangan tanya bagaimana para anggita keluarga sekarang. Bahkan, mereka mungkin tidak menyadari ada Miya dan Rean disofa pojok ruangan. Sampai akhirnya, Elen berteriak mencari keberadaan Miya dan Rean. Membuat Rean segera mengelap air matanya, lalu begegas berdiri. "Duduk, Nak," ujar Elen pada Rean. "Ayo kita mulai pembicaraan inti, soalnya ini udah malam. Kasian Rean pasti capek abis ngantor." Semuanya mengangguk, yaaa kecuali Axel. Anak itu sibuk menonton chanel kesukaanya sambil menghabiskan Ice Cream dengan tenang. Sedangkan Miya tengah benar-benar gugup karena suasana sangat hening tiba-tiba. "Rean, kamu bisa ngomong sendiri, 'kan? apa perlu Ayah wakilin?" tanya Theo. "Aku bisa sendiri," sahut Rean. Kemudian, Pria itu menghela nafasnya panjang. "Om... sama tante Louren. Malam ini, di acara khusus yang kita adakan. Aku Reanold Zake, dengan serius dan hati yang berharap banyak, ingin melamar anak kedua kalian, Miya Louren. Aku pengen mempererat hubungan kami ke jenjang pernikahan, nantinya setelah Miya sendiri siap." Rean menatap Miya, yang tengah gugup sembari memainkan jemarinya sendiri. "Beritahu aku kalau kalian bersedia, terutama Miya, apabila kamu mau menerima lamaran aku dengan segenap hati. Hahaha, aku bakal kecewa banget loh kalau ditolak," Rean terkekeh pelan. Begitupun keluarga Miya. "Miya, gimana?" tanya Elen. Miya tersenyum tipis, namun sebenarnya Miya sedang mengumpat dalam hati. Kalau sudah keadaan seperti ini, mau menolakpun Miya tidak bisa. Andai Miya punya banyak waktu, sehingga dia bisa memikirkan cara untuk menghentikan perjodohan ini. Tapi apalah daya, kedua belah pihak keluarga memepet waktu bahkan sampai Miya merasa tertekan. Miya mengangguk, "Iya." Tanpa basa-basi, Rean memeluk Miya erat didepan keluarga-keluarga. Rean tersenyum lebar, lalu mengecup bibir Miya pelan. Dimana hal tersebut membuat Miya terkejut hebat. Miya benar-benar jarang, berciuman bibir seperti ini. Tangan Miya mengepal kesal, ingin sekali menampar pria berkacamata dihadapannya itu. Namun, melihat betapa tulusnya senyum Rean, niat Miya jadi terkurung. Acara berlanjut, keluarga Rean menghabiskan waktu mereka dengan menonton televisi dan mengobrol. Sedangkan Miya dan Rean, menghabiskan makanan dan cemilan karena keduanya memang suka makan. Miya juga mengajak Rean untuk bermain Game bersama, walau keduanya harus emosi karena jaringan yang rendah. Tapi melihat senyum lebar di wajah Miya, membuat Rean tenang disituasi apapun, seperti sekarang. Kalau Axel, jangan tanya, anak itu sudah tertidur lelap sambil masih memegang Ice Cream yang sudah meleleh. "Maaf nyium kamu tadi, habisnya aku seneng banget. Miya... aku pikir kamu bakal nolak," Miya membaca text yang ada dilayar ponselnya. Kemudian Miya memutar bola matanya malas. "Ya niatnya emang mau aku tolak, tapi kasian kamu nanti malu," balas Miya sambil terkekeh pelan, begitu juga Rean yang tengah menatap layar ponselnya dan membaca pesan dari Miya. Setelah saling mengucapkan selamat malam, Miya berguling-guling di kasurnya. Lalu membayangkan apakah yang akan terjadi ke depannya. Apakah Miya akan menjadi romantis dan mencintai Rean dengan segenap hati? entahlah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD