2. Romanticism 3.50

1490 Words
Refleksi diri Ruth di cermin membuat perempuan itu tersenyum puas. "Aih. Cantik banget sih aku." Ia mematut dirinya sekali lagi di hadapan cermin sebelum benar-benar beranjak dari sana. Melepas ikatan rambut yang sudah terikat rapi. Menghapus riasannya dengan asal-asalan. Lalu menaburkan sedikit bedak tabur di wajahnya. Ia tersenyum sembari membuat beberapa pose narsis kala melihat pantulan dirinya di cermin. Sejauh ini, seingat Ruth sudah ada tiga orang yang mengatakan bahwa dirinya cantik. Yang pertama Bunda, kedua cermin, dan ketiga dirinya sendiri. Bahkan Karina pun kerap kali mengatai Ruth dengan mengatakannya mirip bekantan atau segala sesuatu yang sering digunakan Bunda sebagai bahan pelengkap masakan. Perempuan itu melirik ke arah meja belajarnya. Sudah pukul 7.15 PM. Buru-buru Ruth memasukkan gawai kesayangannya ke dalam tas berwarna putih yang didapatkannya dari Karina sebagai hadiah ulang tahun lalu beranjak keluar kamar. Karina dibuat terperangah melihat penampilan adiknya, Ruth kala memasuki mobil. Ia bahkan nyaris saja mengeluarkan kata-kata jahat andalannya. Jika saja Ayah dan Bunda tidak ada di sana, sudah pasti Karina akan mengumpati Ruth habis-habisan. "Niat banget ya kamu ngebatalin perjodohannya," bisik Karina. Ruth bersedekap. Menaikkan dagu menatap Karina. Jangan lupa dengan seringaiannya itu yang malah membuat Karina bergidik melihatnya. Sungguh, ingin sekali Karina melempari Ruth ke sungai sss yang terletak di Amerika Selatan sana. Biar dililit dan dimakan habis-habisan oleh anakonda. Tiba-tiba saja Karina meringis. Sepertinya itu hal yang sangat keterlaluan. Ternyata benar apa kata Ruth selama ini, Karina memang memiliki pemikiran yang sangat tidak manusiawi. "Ayo, Yah. Kita berangkat sekarang," ujar Ruth. Bunda berdecak karenanya. "Kamu tuh ... padahal Bunda udah siapin dress buat kamu. Yang bagus. Yang biasa dipake sama anak-anak gadis. Kenapa malah baju itu yang kamu pake?" Ruth tampak tak acuh. "Yang penting aku ke sananya masih berpakaian, Bun. Sopan juga kan ini pakaiannya." ucapnya. "Ya 'kan, Ayah?" Bunda menggelengkan kepala, tidak habis pikir melihat kelakuan si bungsu. Apa yang dikatakan Ruth memang tidak ada salahnya. Tapi hal yang sangat membuat wanita itu terkejut adalah ... Ruth mengenakan kaos lengan panjang yang bertulis 7 Dream juga beberapa nama orang yang sama sekali tidak dikenal Bunda. Bahkan Ruth tidak terlalu memperelok wajahnya. Ruth benar-benar terlihat biasa-biasa saja. Jauh dari kata yang disebutnya tatkala melihat refleksi diri di cermin tadi. "Biarin aja, Bun. Kita juga jadi bisa liat gimana reaksi anaknya Purnama nanti. Kalau reaksinya kurang bagus—" "Perjodohannya batal 'kan, Yah?" sela Ruth. "Iya, batal. Tapi Ayah sama Bunda bakalan cari pengganti yang lain." Ruth menghela napas, mengerucutkan bibirnya lalu melihat ke arah luar kaca mobil. Meski awalnya tampak kecewa, namun Ruth kini tidak ambil pusing soal itu. Dia bisa mengkhawatirkannya nanti. * Ruth mendudukkan diri di sebelah Bunda setibanya di tempat tujuan. Perempuan itu menoleh ke segala penjuru lalu fokusnya terhenti menatap lelaki yang baru saja duduk di sebelahnya. Ingin rasanya Ruth mengumpat karena harus duduk bersebelahan dengan lelaki yang sama sekali belum pernah ditemuinya itu. Suara notifikasi ponsel milik Ruth membuat atensi perempuan itu teralihkan. Ruth mengernyit. Untuk apa Karina mengirimkan pesan padahal mereka bisa berbicara langsung meski terpisah dengan keberadaan Ayah dan Bunda? Kak Karin Dia duduk di situ karena udah ga ada kursi kosong lain. Jadi jangan kepedean kamu. Ruth menoleh memperhatikan. Rupanya benar. Itu satu-satunya kursi yang kosong. Seperti biasa, acara seperti itu selalu dimulai dengan perkenalan diri. Ruth memperkenalkan dirinya dengan enggan. Tangannya terus bergerak ingin memainkan ponsel. Namun cubitan demi cubitan yang ia terima dari sang bunda secara diam-diam sangat membuatnya tersiksa. Ruth pasrah. Tahu saja bundanya bahwa ia ingin bersikap layaknya orang yang minim akhlak di depan calon besan orang tuanya. Ruth benar-benar sulit memahami jalan pikir orang tuanya. Bukankah itu acara pertemuan untuk membahas perjodohannya? Tapi mengapa sedari tadi hanya para orang tua yang asyik mengobrol? Bahkan lelaki yang duduk di sebelahnya itu, setelah memperkenalkan diri kembali sibuk dengan makanan. Sudahlah. Itu bukan hal yang harus dipusingkan Ruth. "Loh? Karina?" Kedua keluarga itu mengalihkan atensi menatap kedatangan seseorang yang menyapa Karina. "Shia?" Karina terkesiap. "Wah ... apa kabar? Udah lama ga keliatan. Ngapain aja?" Sosok yang dipanggil Shia itu mengedarkan pandangan, menatap satu-persatu ke arah mereka. "Eh? Kamu lagi ada acara keluarga ya? Maaf ganggu. Maaf ya Tante—" "Eh eh? Santai aja, santai aja." Karina beralih membisikkan sesuatu pada sang ayah. Ayah tampak mengangguk. "Saya permisi duluan ya, Om, Tante, dan ... kamu," ucap Karina seraya menatap ke arah lelaki yang duduk tepat di sebelah Ruth. Karina juga berpamitan pada kedua orang tuanya, tidak terkecuali Ruth lalu pergi bersama Shia dari sana. Ruth mengumpat di dalam hati menyadari betapa liciknya Karina. Udah lama ga keliatan? Huh! Ruth mengenal dengan baik perempuan yang dipanggil Shia itu. Nyatanya Karina dan Shia nyaris tiap hari bertemu. Demi menghindari acara formal, Karina rela meminimumkan akhlak baiknya. Dari pada pusing memikirkan kelicikan Karina, lebih baik Ruth menikmati makanannya saja. Sayang juga kalau makanan gratis begini dianggurin. Ruth beralih menyeruput minumannya. Tiba-tiba saja napas Ruth tercekat. Ia meletak kembali gelas minuman itu dengan spontan hingga membuat ketukan dengan suara yang cukup keras. Bahkan air yang ada di gelas itu nampak meruak ke mana-mana. "Bunda ...." Ruth memegangi lehernya. Membelalak menatap Bunda. Seolah tengah mengirimkan sinyal. Bunda benar-benar tampak panik. Sementara Ayah dan yang lain mengerutkan dahi menatapnya. "Kamu—" Ruth berlari tanpa mendengar lebih lanjut ujaran bundanya. Tubuh gadis itu bahkan bertabrakan dengan beberapa orang yang ada di sana. "Tadi Ruth minum minuman yang saya pesan, Tante ... jus apel. Kayaknya Ruth salah ambil," ujar lelaki yang akan dijodohkan dengan Ruth itu seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ayah dan Bunda menjatuhkan rahang mendengar hal itu. "Ruth alergi apel. Duh, bisa-bisanya dia ga ngenalin musuhnya sendiri," ucap Bunda. "Sebentar ya ... aku liatin Ruth dulu." "Gimana kalau Arka aja yang gantiin?" usul sang ibunda lelaki yang dipanggil Arka itu. Ayah mengangguk beberapa kali. "Boleh juga. Nak Arka, tolong kamu liatin Ruth ya. Kalau kondisinya udah ga memungkinkan langsung kasih tahu Om." Arka menurut saja. Ia mengiyakan titah para orang tua dan beranjak dari sana. Lelaki itu berjalan menuju toilet. "Permisi, Mbak. Mbak ada lihat perempuan yang pake kaos lengan panjang warna abu-abu?" "Yang pake celana jeans hitam ya, Mas?" "Iya." "Ada sih di dalam toilet," ujar OG tersebut. "Siapanya, Mas?" Arka terdiam sesaat. "Suaminya, Mbak." Sang OG mengangguk beberapa kali. "Istrinya lagi sakit ya, Mas? Eum ... masuk aja deh, Mas. Mumpung di dalam cuma ada mbaknya. Biar saya yang jaga di sini, soalnya ga enak kalau ada orang lain yang liat." "Makasih ya, Mbak." Arka melangkah memasuki toilet. Seumur hidup, baru kali ini Arka menginjakkan kaki di toilet yang berlawanan gender dengannya. Ternyata kebohongannya pada OG tersebut tidak sia-sia. Benar kata orang-orang, hasil tidak akan mengkhianati usaha. "Gimana? Udah baikan?" Ruth terperanjat. Tubuhnya bahkan menubruk wastafel. Perempuan itu terbelalak menatap Arka. Tatapannya tampak menyiratkan suatu pertanyaan umum. Paham dengan keterkejutan Ruth, Arka beranjak berdiri di belakang Ruth. "Aku bohongin mbaknya tadi. Aku ngaku sebagai suami kamu." Ruth mendorong Arka spontan tatkala lelaki itu menyentuh rambutnya. Orang yang aneh. Bisa-bisanya lelaki berkulit putih itu menyentuh memegangi rambutnya? Arka tertawa pelan. "Jangan khawatir. Aku bukan orang mesum." Ia menyerahkan suatu benda yang sangat identik dengan perempuan. "Ini scrunchie punya Yumi, adikku. Kamu pake buat ikat rambut kamu. Kalau lagi kambuh begitu bukannya agak risih sama rambut yang digerai?" Ruth terdiam sembari menatap scrunchie berwarna merah muda itu dan Arka bergantian. Sesaat setelahnya ia mengambil scrunchie yang diberikan Arka untuknya. Ruth mengucapkan terima kasih tanpa mengeluarkan suara. "Sama-sama." Arka tersenyum. "Udah baikan? Kita keluar aja gimana? Kasian mbaknya musti jagain di depan." Sembari mengikat rambut, Ruth mengangguk. Ia berjalan lebih dahulu sementara Arka berjalan tepat di belakangnya. Tidak lupa pula Arka berterima kasih pada OG tadi tatkala keluar dari toilet. "Argh ...." Ruth mengerang seraya memegangi perutnya. Ia nyaris terduduk jika saja Arka tidak menahan tubuhnya. Perempuan itu merutuki diri di dalam hati. Bisa-bisanya di tengah keadaan genting begini ia malah kepikiran ide untuk lanjutan novel. Padahal nyawanya tengah berada di mulut singa. Tersadar dengan betapa canggungnya posisi mereka saat ini, Ruth segera menjauhkan diri dari Arka. "Mau aku anterin pulang sekarang?" Ruth terdiam memikirkan tawaran dari Arka. Pulang? Boleh juga. Itu sama sekali bukan ide yang buruk. Akhirnya Ruth mengangguk. "Ayo. Kita ke parkiran sekarang." Arka memegang Ruth spontan. Ruth menahan lelaki itu, membuat Arka berbalik menatap padanya. "Bunda ...." "Nanti kutelepon Mama. Buat ngasih tau kalau kita pulang duluan." Ruth mengangguk. Keduanya kembali berjalan dengan langkah kecil meninggalkan tempat itu. Ruth bahkan membiarkan Arka menggenggam tangannya. Meski kurang nyaman, Ruth tidak ingin berpura-pura sok kuat dengan melepas pegangan Arka padanya. Tadi, jika saja Arka tidak menahannya sudah pasti tubuhnya ambruk menubruk lantai. Perempuan itu diam-diam melirik ke arah Arka sebentar. Hanya dengan melihat figur wajah lelaki itu saja para kaum hawa pasti berdecak kagum. Tidak terkecuali Ruth Anasthasia. Tadinya, ia sempat tertegun kala melihat sosok Arka ... itu sebelum dia kembali ke kenyataan bahwa ia akan dijodohkan dengan lelaki itu. Iya sih, Arka itu menawan, tapi 'kan bukan itu yang Ruth inginkan saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD