Chapter 5 "Pembelaan Dionald dan Surprise dari Arashi"

1227 Words
"Pak, please! Hanya satu kali. Aku mohon. Kartu tanda perawatku tertinggal." pinta Ersya pada seorang satpam yang berdiri di depan ruangan rapat. "Maaf, suster. Tapi perintah dari Dokter Dionald, yang hendak masuk ke ruangan, harus memperlihatkan kartu identitas di rumah sakit ini." tolak satpam tadi Ersya menghela nafasnya. Dia meremas berkas yang ada di tangannya dengan gusar. Pasalnya, file berisi topik pertemuan para dokter siang ini, ada di tangannya. Dia juga yang ditunjuk oleh para perawat senior untuk bertanggung jawab menjelaskan kondisi pasien pada dokter senior yang ada di dalam ruangan. Tapi siang ini, dia terlambat datang ke rumah sakit untuk memulai shift dan melupakan kartu identitasnya yang dipakai sebagai jaminan di sekolah Elit saat menjemput Arashi, anak dari dokter Dionald. "Kenapa kau tidak masuk?" Ersya tersentak kecil, dia menatap terkejut dokter Dionald yang berdiri di muka pintu. Dari ekspresinya, Ersya tahu jika dokter senior yang satu itu sedang marah. 'Pasti karena aku terlambat.' keluh Ersya "Maaf, Pak. Saya meninggalkan kartu identitas saya." sesal Ersya Dahi Dionald berkerut, dia menatap Ersya yang terlihat sedikit berantakan. Belum lagi dengan nafas perempuan itu yang sedikit terengah. "Masuk." perintah Dionald sambil menggeser tubuhnya, mempersilahkan Ersya untuk masuk ke dalam ruang rapat. "Tapi sebelumnya rapi kan dulu rambut mu." lanjut pria itu "B-bapak mau kemana?" tanya Ersya saat melihat Dionald hendak keluar dari ruangan "Mengambil berkas untuk rapat. Entah kemana orang yang bertanggung jawab untuk membawa berkas rapat hari ini." jawab Dionald dengan nada sedikit ketus Ersya menipiskan bibirnya, dia menyodorkan berkas yang ada di dekapannya pada Dionald. "Apa ini?" tanya Dionald "Saya yang bertugas untuk berkas nya, Pak. Sekali lagi, saya minta maaf." ucap Ersya Dionald menghela nafasnya dan meraih berkas yang disodorkan Ersya padanya. Pria itu berbalik dan masuk ke dalam ruangan. Meninggalkan Ersya yang meringis dan segera merapikan rambutnya. Perempuan itu menghembuskan nafasnya sebelum akhirnya mengikuti langkah Dionald. Dia menunduk kecil, meminta maaf pada semua yang hadir sebelum akhirnya bergabung dengan para perawat yang berdiri di barisan belakang para dokter. "Kau kemana saja?" bisik rekan kerja nya Ersya tersenyum dan menggeleng kecil. Tidak berani berbicara di dalam ruangan itu. "Kemana file nya?" tanya Profesor Edward "Disini." balas Dionald sambil menyodorkan berkas tadi pada profesor yang terkenal angkuh itu "Kau perawat yang bertanggung jawab membawa file ini? Kau tahu seberapa pentingnya file ini untuk rapat kami? Kau terlambat lebih dari lima menit!" sembur Profesor Edward pada Ersya yang tersentak kecil setelah dimarahi di hadapan banyak orang. "Ma-" "Bukan salahnya. File ini tertinggal di mobilku. Jadi aku memintanya untuk mengambil file ini dimobilku." potong Dionald sebelum Ersya meminta maaf "Jadi, bisa kita mulai? Aku tahu ini sudah terlambat, jadi tidak perlu ditambah dengan mendengarmu memarahi asistenku, Profesor. Jika kau melanjutkannya, rapat ini jadi tertunda lebih dari delapan menit." ujar Dionald acuh Ersya menelan ludahnya. Dia melirik ekspresi tenang dokter satu itu dengan penuh rasa bersalah. Tapi dia juga tidak menyangka jika Dionald akan membantunya keluar dari situasi rumit itu. Jika pria itu tidak membantunya, bisa bisa Ersya kehilangan pekerjaan nya saat ini. Profesor Edward terkenal akan sikap buruknya. Entah sudah berapa perawat dan office boy yang kehilangan pekerjaan karena sikapnya. Satu satunya orang yang bisa melawannya hanya Dionald. Dokter sekaligus keluarga Legiond, donatur terbesar rumah sakit tempat Ersya bekerja saat ini. Karena itu, dia sangat berterima kasih Dionald mau membantu nya lepas dari kemarahan Profesor Edward. Ersya melihat profesor itu menahan amarahnya. "Baik, mari kita mulai rapat kali ini. Operasi dengan resiko table death diatas lima puluh persen." *** "Kau tahu kesalahanmu kali ini?" "Tahu, Pak." jawab Ersya dengan kepala tertunduk "Lalu? Setelah kau tahu, kau tidak mau intropeksi dan malah meminta izin untuk keluar sebentar?" sarkas Dionald "Hanya sebentar, Pak. Lima menit. Saya janji." pinta Ersya "Sebenarnya kau mau kemana?" tanya Dionald "Mengambil kartu tanda perawat saya. Saya sangat membutuhkannya." jawab Ersya "Jika kau sangat membutuhkannya, kenapa kau meninggalkan nya?" desak Dionald. Dia memijat dahinya, bingung dengan tingkah asistennya yang dinilainya sedikit tidak profesional. "Saya tidak meninggalkannya, Pak. Tadinya, sebelum masuk bekerja, saya mau mengambilnya. Tapi saya ingat, saya membawa file penting untuk rapat. Jadi tanpa pikir panjang, saya langsung masuk ke rumah sakit dan melupakan kartu identitas saya. Dan sekarang, saya ingat jika saya membutuhkan kartu itu untuk membuka loker saya, juga sebagai identitas resmi saya di rumah sakit ini." jelas Ersya Dia tahu, ini bukan salahnya. Kartu identitasnya dia jadikan jaminan di sekolah Arashi saat menjemput anak itu kemarin. Dan dia tidak mau mengungkapkan alasan ini pada Ayah dari Arashi, yaitu Dokter Dionald. Dia tidak mau jika dokter satu itu menganggap jika dia menyalahkan Arashi atau menjadikan anak itu sebagai alasan. "5 menit dari sekarang." putus Dionald pada akhirnya Ersya menyunggingkan senyuman lebarnya, "Terima kasih, Pak! Tapi jika boleh, saya meminta tambahan waktu 5 menit. Jadi totalnya 10 menit." Dionald menatap sebal Ersya yang ada di hadapannya. "Terserah. Lebih dari itu, kau harus presentasi di depan Profesor Edward." ketus nya Ersya mengangguk, "Saya janji, hanya 10 menit." Perempuan itu berbalik dan berjalan cepat dari ruangan pribadi dokter Dionald. Dia terperanjat kecil saat melihat pintu yang dibuka dari luar. "SURPRISE, PAPA!" pekik Arashi sambil menyunggingkan cengiran lebarnya "Oh? Aunty?" beo Arashi yang melihat Ersya hendak keluar dari ruangan "Eh? Apa Papa mu sedang sibuk? Seingat Mommy, ini jam istirahat." Ersya terkesiap saat melihat Joyceline memasuki ruangan bersama dengan seorang anak di gendongannya. "Selamat siang, Aunty!" sapa Arashi riang "Siang, Achi." balas Ersya sambil menyunggingkan senyuman canggung nya "Achi, jangan tahan dia. Ada yang harus dia ambil dalam waktu 10 menit." tegur Dionald yang langsung membuat Ersya tersadar dari keterpakuannya Perempuan itu tersenyum menyapa Joyceline dan segera berlari keluar dari ruangan Dionald. "Siapa dia? Pacarmu?" goda Joyceline "Asistenku." jawab Dionald datar "Kenapa Arashi bisa mengenalnya?" tanya Joyceline "Kemarin dia yang menjemput Arashi ke rumah sakit." jawab Dionald. Pria itu membenarkan posisi duduknya dan menatap sebuah kotak makan yang disimpan Joyceline diatas meja kerja nya. "Papa, apa yang mau Aunty itu ambil?" tanya Arashi sambil duduk di kursi yang bersebrangan dengan meja Dionald "Kartu identitasnya." jawab Dionald singkat. Dia menghirup dalam dalam aroma makanan dari kotak makanan dan hendak membuka nya sebelum tangannya di tepis oleh Joyceline. "Cuci tangan dulu!" ujar perempuan itu ketus Dionald berdecak sebal. Dia melepas snelli yang dipakainya dan kartu identitas miliknya ke atas meja. Benda kotak dengan tali itu memancing atensi dari Arashi. Bocah itu mengambil kartu identitas milik Dionald dengan dahi berkerut lucu. "Papa, apa kartu identitas milik Aunty juga seperti ini?" seru Arashi pada Papa nya yang ada di dalam kamar mandi "Ya. Mirip seperti itu." jawab Dionald sambil kembali melangkah keluar dari kamar mandi "Papa, papa menyuruhnya kembali dalam sepuluh menit?!" pekik Arashi terkejut "Ada apa, Achi? Kenapa kau berteriak seperti itu?" tanya Joyceline "Mommy, Aunty tadi menyimpan kartu ini di sekolah Achi. Katanya, untuk jaminan jika dia tidak punya maksud menculik Achi." jelas Arashi Dionald terdiam mendengar penjelasan dari anaknya. Dia mencerna ucapan Arashi selama beberapa saat sebelum akhirnya berlari keluar dari ruangannya. Meninggalkan Joyceline, Arashi dan Izekiel begitu saja. "Astaga, Dionald. Aku tidak tahu dia sekejam itu." decak Joyceline Beberapa saat setelahnya, perempuan itu melirik Arashi yang terlihat cemas. "Kenapa?" tanya Joyceline "Kemarin Aunty dimarahi Papa karena menjemput Achi. Tapi Aunty tidak salah apa apa! Achi yang meminta nya menjemput Achi. Apa tadi Aunty juga dimarahi Papa karena Achi?" ujar Arashi cemas "Eummm, jika Papa mu melakukan itu, Mommy akan memarahinya. Bagaimana? Kau puas dengan keputusan ini?" "Puas! Thankyou, Mommy."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD