Bab.2 Pertunangan yang Ditunda

1079 Words
  “Ini ide gila !” komentar Giordano ketika dia dan Virghi berjalan di halaman rumah mereka usai makan malam. “Aku tidak akan mau menikah dengan perempuan yang tidak aku kenal asal-usulnya. Sebagai salah satu penerus perusahaan ayah, aku mau memilih sendiri calon pendampingku.”   Virghi diam selama beberapa detik sebelum menanggapi.   “Ini hanya pernikahan lelucon, apa harus seserius itu kamu menghadapinya?” komentar Virghi tenang. “Aku akan tetap datang, karena aku harus lihat dulu seperti apa tunanganku itu.”   Sementara di rumah, Kissia memandangi wajahnya sendiri di cermin meja riasnya. Kedua alisnya melengkung lesu, sementara dahinya berkerut menandakan kepalanya sedang berpikir keras soal rencana perjodohan itu.   “Aku harus membatalkannya,” gumam Kissia kepada dirinya sendiri. Tapi dia tahu bahwa itu adalah hal yang sangat mustahil. Sejak kapan dia bisa menggagalkan keinginan ayah tirinya?   “Kissia!” hardik Feli sambil mendorong pintu kamar adiknya hingga terbuka. “Kamu belum menyetrika bajuku juga?”   “Baju ...?” Kissia menoleh sambil mengernyitkan keningnya.   “Baju yang akan aku pakai di hari pertunangan nanti!” jelas Feli tidak sabar. “Jangan sembarangan menyerahkan bajuku kepada asisten rumah tangga ayah, aku nggak suka.”   Kissia menarik napas, keberadaan asisten di rumah mereka nyaris tidak ada artinya lagi karena Feli selalu lebih senang menyuruhnya untuk melakukan banyak hal.   “Kelihatannya Kakak gembira sekali dengan rencana perjodohan yang diatur ayah,” ucap Kissia pelan sambil berdiri dari duduknya.   “Tentu saja,” sahut Feli dengan melipat kedua tangannya di depan d**a. “Cuma cewek bodoh yang menolak dijodohkan dengan CEO tampan dan mapan seperti mereka ....”   “Aku bahkan belum sempat melihat seperti apa wajah mereka karena Kakak tidak memberiku kesempatan,” potong Kissia lugas.   “Aku sudah bilang itu tidak penting,” kata Feli dengan sebelah bahunya terangkat tinggi. “Setelah ini, kamu pergi ke tempat cucian dan cari baju paling bagus yang sering aku pakai di acara-acara penting. Ingat, jangan suruh asisten ayah.”   Tanpa menunggu jawaban apa pun dari Kissia, Feli berbalik pergi meninggalkan kamar adik tirinya dengan langkah-langkah ringan.   Saat Helvin pulang kerja, Feli sengaja mendahului ibunya untuk menyambut kedatangan sang ayah.   “Yah, aku mau bicara!” bisik Feli dengan suara rendah. “Sebelum ibu lihat Ayah pulang ....”   “Ada apa?” tanya Helvin sambil memandang sang putri dengan ekspresi ingin tahu di wajahnya.   Feli menoleh ke sekelilingnya untuk memastikan Kissia atau ibunya tidak ada di sekitar mereka.   “Aku mau tanya sama Ayah,” kata Feli dengan nada serius. “Aku dijodohkan sama siapa di antara mereka berdua?”   Helvin mengangguk paham.   “Kamu lebih tua dari Kissia, jadi kamu akan ayah jodohkan dengan putra pertama pemilik Universe Grup.” Helvin menjelaskan. “dan Kissia akan mendapatkan putra kedua yang bernama Virghi.”   Feli terpaku sejenak.   “Aku rasa itu ide bagus,” katanya sambil mengeluarkan ponsel. “Putra pertama itu yang ini bukan Yah, Giordano namanya?”   Feli menunjuk satu foto dengan jari telunjuknya yang berkuteks.   “Iya, itu Giordano.” Helvin membenarkan saat matanya menangkap sosok foto seorang pria dewasa muda yang tampak di layar ponsel Feli.   “Terima kasih Yah, aku senang sekali dengan perjodohan ini!” seru Feli sambil memeluk Helvin. “Sekarang Ayah bisa masuk rumah seperti biasanya biar ibu tidak curiga.”   Helvin mengangguk sementara Feli kembali ke kamarnya dengan hati gembira. Setelah puas memandangi foto Giordano, dia menjadi sangat penasaran dengan sosok Virghi.   “Tidak buruk,” komentar Feli sembari mengamati foto pria muda berambut hitam lebat dengan sorot mata dingin yang seolah menyiratkan bahwa dia tidak suka jika ada yang memandangnya seperti itu. “Kakak adik yang sama-sama punya pesonanya masing-masing.”   Feli meletakkan ponselnya dan berbaring dengan kedua mata terpejam, dalam pikirannya dia sudah membayangkan akan berkata apa saja ketika sudah bertemu dengan calon suaminya itu.   ***   “Yah, bisa tidak hari pertemuannya diundur? Aku tidak bisa kalau harus akhir minggu ini.”   Giordano menelepon ayahnya begitu dia masuk ke mobil.   “Aku sama cewek itu tidak akan bertunangan hari itu juga kan, Yah?” tanya Giordano memastikan.   Terdengar suara tawa tipis dari seberang sana.   “Tentu tidak, ayah hanya ingin memperkenalkan kalian berempat dulu akhir minggu ini.” Alanzo menjelaskan.   “Akhir minggu ini aku tidak bisa,” tolak Giordano tegas. “ada rekanku yang mengajak bertemu untuk membicarakan proyek perhotelan di kantornya. Aku tidak bisa menunda hari pertemuan, jadi lebih baik Ayah tunda saja urusan pertunangan itu.”   Sunyi sebentar.   “Baiklah, kali ini alasan kamu bisa ayah terima.” Alanzo setuju. “Jangan lupa pamit ibumu kalau kamu tidak pulang beberapa hari ke depan.”   Giordano menarik napas lega ketika mendengar jawaban ayahnya, lalu dia menutup teleponnya setelah mengucapkan terima kasih.   Setelahnya Giordano meletakkan ponselnya di dasbor dan menyalakan mesin mobilnya, sambil berpikir bahwa ada kemungkinan Virghi yang akan disuruh menemui calon istrinya lebih dulu.   Masa bodoh, kata Giordano dalam hatinya sambil menginjak gas dan mobil yang dikendarainya langsung melaju kencang membelah jalanan di depan apartemen.   Setengah jam setelah mobilnya melaju, ponsel Giordano kembali berbunyi. Sadar jika dirinya sedang berada di tengah-tengah jalan bebas hambatan, dia sengaja mendiamkan ponsel itu terus berdering di atas dasbor.   Tidak berapa lama kemudian, deringan itu berhenti dan Giordano bisa fokus mengemudikan mobil.   Sembari mengurangi kecepatan mobilnya, perlahan Giordano membelokkan setir dan menuju jalan yang lebih kecil tapi padat kendaraan. Saat itulah ponsel di atas dasbor berdering kembali dan mengalihkan perhatian Giordano sedikit.   Akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.   “Halo? Aku sedang di jalan!” seru Giordano kepada seseorang melalui ponselnya sementara satu tangan memegang kendali setir. “Sudah aku atur, aku akan datang untuk proyek itu! Ayahku sudah setuju – argh!”   Jalanan yang sedikit tidak rata membuat mobilnya bergoncang lebih keras dan ponsel itu terlepas dari tangan Giordano.   “Sial,” gumam Giordano dengan pandangan terarah lurus ke depan, untuk beberapa detik lamanya dia kembali fokus menyetir.   Setelah keadaan dirasa aman, Giordano sesekali menundukkan pandangan ke bawah untuk mencari-cari ponselnya yang jatuh. Dia membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya sembari mendongak untuk tetap mengontrol kemudi.   Baru beberapa saat tangan Giordano meraba-raba ke bawah, ada minibus lain yang melaju kencang menghantam bagian belakang mobilnya tanpa kendali. Detik itu juga dia menegakkan diri dan keadaan di depannya sudah berubah menjadi semrawut tak keruan.   “Argh!” Giordano membanting setir, berusaha untuk menghindari sepeda motor yang terguling agar tidak terlindas olehnya. Namun, sebuah truk bermuatan puluhan sak semen yang melaju luput dari penglihatannya dan tabrakan karambol pun tidak dapat terhindarkan lagi.   Praang!   Bersambung –
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD