Bab.5 Tes Masuk Universitas

1111 Words
  “Kenapa tidak dirapikan sekalian?” hardik Feli ketika menyaksikan setumpuk tas belanja teronggok pasrah di atas tempat tidurnya.   “Maaf!” sahut Kissia cepat-cepat. “Aku pikir Kakak mau merapikannya sendiri ....”   “Alasan,” sungut Feli sembari mendorong kening Kissia, membuat adik angkatnya itu seketika mengaduh kesakitan.   “Konyol, cuma begini saja sudah merintih!” hujat Feli dengan kedua tangan terlipat ke d**a.   “Ada apa ini ribut-ribut?” Ivanka bergegas mendatangi saat mendengar suara gaduh di kamar putri angkatnya. “Kissia, kamu kenapa?”   Ivanka cepat-cepat mendekati Kissia yang terduduk di lantai sambil memegangi keningnya. Dia sibak rambut Kissia yang menghalangi pandangannya dan terlihatlah lebam itu.   “Luka ini ... Feli, kamu apakan adikmu sampai seperti ini?” tanya Ivanka sambil membatu Kissia berdiri.   Feli melirik Kissia dengan tatapan tidak suka.   “Aku nggak melakukan apa-apa, Bu.” Feli mengelak. “Kissia saja yang reaksinya berlebihan, dia nggak membentur sesuatu saat jatuh.”   Ivanka tentu tidak percaya begitu saja dengan ucapan Feli.   “Ini apa?” tunjuk Ivanka saat Kissia berusaha menutupi kembali lebam itu dengan rambutnya.   “Jadi Ibu menuduhku?” tanya Felu dengan nada tidak terima.   Kissia yang tidak ingin masalah ini tambah berlarut-larut, segera menyela pembicaraan ibu dan kakak angkatnya.   “Aku jatuh sendiri kok, Bu.” Kissia meralat. “Kak Feli sama sekali nggak salah.”   Ivanka memandang Kissia lurus-lurus, tapi Kissia mengangguk untuk meyakinkannya.   “Suruh asisten ke kamarku untuk membereskan ini semua,” suruh Feli lagi kepada Kissia.   “Iya,” angguk Kissia buru-buru sebelum Ivanka menegur Feli.   “Kissia, jujur sama ibu. Itu dahi kamu kenapa?” tanya Ivanka ketika Kissia pergi meninggalkan kamar Feli bersamanya. “Kalau kakak kamu sudah keterlaluan, katakan pada ibu. Biar ayah kamu yang ....”   “Aku tertabrak mobil,” sahut Kissia dengan suara rendah. “saat aku mau ke panti. Tapi untunglah aku tidak apa-apa, hanya lebam biasa.”   Ivanka mengusap dadanya karena terkejut mendengar penuturan Kissia.   “Astaga, Sayang! Kenapa kamu tidak langsung memberi tahu ibu?” tanya Ivanka dengan suara lemah. “Kamu serius tidak terluka yang lain?”   Kissia menggeleng sambil tersenyum.   “Aku baik-baik saja,” katanya. “Aku mau cerita sama Ibu, tapi aku takut kalau Kak Feli akan mengadu sama ayah.”   Ivanka mengusap-usap punggung Kissia saat mengantarnya ke kamar.   “Kakakmu itu memang ...” Isabelle menghentikan kalimatnya. “Maafkan ibu yang tidak bisa memperlakukan kamu dengan adil ....”   Kissia diam, dia teringat betapa Helvin tidak segan bertindak kasar kepada Ivanka jika dia   memperlakukannya samarata dengan Freya.   "Bukan salah Ibu," ucap Kissia sungguh-sungguh. "seharusnya aku yang tahu diri karena aku hanya anak angkat ... Tapi aku janji, aku akan cari kerja pekerjaan agar bisa membayar uang kuliahku sendiri."   Ivanka tersenyum dan menggenggam jemari putri angkatnya dengan mata merebak.   "Ibu doakan semoga kamu berhasil." Ivanka berkata sembari mengusap puncak kepala Kissia.   Hari terus bergulir dan tibalah saatnya tes masuk universitas, Kissia terpaksa mengarang beberapa alasan jitu agar bisa keluar rumah demi mengikuti tes seleksi.   Karena kalau Feli sampai tahu, kemungkinan besar dia akan menghalangi Kissia untuk pergi.   Hari itu Kissia mengerjakan ujian masuk universitas dengan lancar, setelah itu dia pulang dengan membawa dua cup jus jambu agar Feli tidak curiga.   "Dari mana kamu?" tanya Feli ketika melihat Kissia tiba di rumah. "Tumben bawa jus."   "Ini buat Kakak," jawab Kissia sambil tersenyum sambil menyerahkan dua cup jus sekaligus. "Aku habis jalan-jalan sama temanku tadi."   Feli menerima jus itu dengan wajah curiga, tapi dia tidak berkata apa-apa ketika Kissia memilih pergi dari hadapannya.   Bilang terima kasih juga tidak.   "Bu, aku sudah selesai tes!" bisik Kissia saat melihat Ivanka membantu asisten rumah untuk bersih-bersih.   Ivanka melirik asistennya yang sibuk memindahkan barang pecah belah dari lemari ke bak cucian.   "Ibu yakin kamu pasti lulus," kata Ivanka dengan suara rendah. "karena kamu anak yang pintar."   Kissia mengedipkan matanya dan segera pergi ke kamar. Dia merebahkan diri di atas tempat tidur dan memandang langit-langit dengan hati yang seringan kapas.   Sementara itu di kamarnya sendiri, Feli sedang meminum jus pemberian Kissia dengan pikiran curiga. Dia merasa bahwa adik angkatnya itu memiliki maksud tertentu dengan memberinya jus.   Aku harus menyelidikinya, kata Feli dalam hati.   Ketika Kissia sedang membantu asisten rumah tangga mereka menyiapkan makan malam, diam-diam Feli pergi ke kamar Kissia dan memeriksa setiap sudut ruangan dengan teliti. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang sedang Kissia sembunyikan di belakangnya.   "Ayah mau aku ambilkan teh?" Kissia menawari ketika Helvin datang dan duduk di salah satu kursi.   "Boleh," angguk Helvin. Ivanka melirik Kissia dengan perasaan kagum, putrinya itu memang tidak pernah menaruh benci sedikitpun meski sering mendapatkan perlakuan berbeda dari sang ayah angkat.   Kissia sedang mengambil cangkir ketika Feli muncul dengan langkah-langkah cepat.   "Ayah, lihat apa yang aku temukan di kamar Kissia!" lapor Feli kepada Helvin.   Kissia yang mau menuang air teh ke cangkir ayahnya jadi berganti fokus saat Feli meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja.   "Apa ini?" tanya Helvin dengan kening berkerut sementara Ivanka ikut memandang ke arah lembaran kertas itu dengan ekspresi ingin tahu.   "Ini tanda terima pembayaran uang tes," tunjuk Feli sambil melambaikan salah satu kertas. "kalau yang ini brosur jurusan yang ada di universitas."   Wajah Kissia memucat saat tahu bahwa Feli telah mengacak-acak kamarnya dengan sengaja.   "Masalahnya apa?" sela Ivanka yang keberatan dengan sikap provokatif putrinya terhadap Kissia. "Kamu sendiri juga masuk universitas kan, Feli?"   Kedua lutut Kissia seketika lemas.   "Tapi masalahnya ayah sudah melarang Kissia untuk masuk universitas, Bu." Feli membela diri, sama sekali tidak terlihat rasa bersalah di wajahnya. "Kissia mau dinikahkan, kenapa harus sekolah tinggi-tinggi?"   Kali ini Kissia tidak mau hanya berdiam diri saja.   "Memangnya cuma Kakak yang boleh sekolah tinggi?" kata Kissia sambil memandang kakak angkatnya.   "Diam kalian," sela Helvin dengan suara datar. "Kissia, kamu tidak paham juga dengan rencana yang sudah ayah rancang untuk masa depan kamu?"   Kissia terpaku ketika Helvin menatapnya tajam.   "Yah, tolong jangan lakukan itu!" Kissia histeris saat Helvin dibantu Feli sibuk mengeluarkan beberapa buku penting dan dokumen sekolahnya yang berharga.   "Kamu sudah berani menentang ayah," sahut Helvin tajam sembari membawa semua buku Kissia ke halaman belakang rumah.   "Helvin, kamu berlebihan!" Ivanka berusaha menyadarkan suaminya. "Kissia juga berhak kuliah!"   "Aku sudah bilang kan kalau keuangan perusahaan sedang kacau?" tukas Helvin tajam. "Kamu pikir kuliah tidak pakai uang?"   "Aku akan membayar uang kuliahku sendiri, Yah!" seru Kissia dengan air mata mengalir deras. "Aku tidak akan minta Ayah ...."   "Memangnya kamu bisa cari uang?" sergah Helvin sembari menjatuhkan buku-buku Kissia ke tanah. "Ayah sudah putuskan kalau kamu akan menikah dengan putra Pak Alanzo, jadi kamu tidak perlu kuliah!"   Feli tersenyum samar ketika menyaksikan Helvin memantik korek api gas setelah terlebih dahulu menyiramkan sebotol bensin di atas buku-buku Kissia yang teronggok pasrah di tanah.   Bersambung -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD