“Jangan lakukan itu, Yah!” cegah Kissia sambil memegang lengan Helvin dengan pandangan memohon. “Aku akan kerja apa saja demi bisa membayar uang kuliahku sendiri ... aku tidak mau menikah sekarang!”
“Kamu membantah ayah?” tanya Helvin sambil menoleh tajam ke arah Kalila. “Kuliah bisa kapan saja kalau kamu mampu, tapi tidak sekarang. Pertunanganmu dengan putra Pak Alanzo Rico jauh lebih penting daripada pendidikanmu.”
Ivanka ikut maju untuk membantu putrinya.
“Helvin, kalau kamu bermaksud menunda kuliah Kissia ... jangan begini caranya,” komentar Ivanka. “Buku-buku dan dokumen itu sangat penting artinya untuk putri kita ....”
“Itu karena Kissia tidak menuruti keinginanku, Ivanka.” Helvin berbalik menatap istrinya tajam. “Kamu tahu betul kalau aku tidak suka ditentang, tapi Kissia sengaja tidak menuruti keinginan ayahnya. Jadi aku terpaksa akan membakar buku-bukunya biar dia tahu apa kesalahannya.”
Sebelum sempat dicegah, Helvin memantik koreknya dan melemparnya di atas buku-buku Kissia yang sudah basah terkena bensin.
“Tidak!” pekik Kissia sambil melepas lengan Helvin ketika api membubung tinggi dan melahap cepat semua buku dan dokumen penting miliknya.
Ivanka cepat-cepat menahan Kissia agar tidak mendekati sumber api.
“Bahaya, Kissia!” bisik Ivanka sambil mendekap Kissiaa erat. “Suatu saat nanti kamu pasti bisa mendapatkan kembali dokumen-dokumen itu di sekolah, mereka pasti dengan senang hati membantumu.”
Helvin langsung berlalu pergi meninggalkan halaman, diikuti Feli dengan ekspresi puas di wajahnya.
Kini Kissia hanya mampu pasrah, tidak ada yang bisa dia lakukan selain membiarkan api melahap semua buku-bukunya dengan rakus. Sama seperti Helvin yang memupus semua mimpi Kissia tanpa rasa kasihan sedikitpun.
“Bu, aku nggak akan menuruti keinginan ayah untuk menikah sama orang pilihannya.” Kissia memandang Ivanka dengan mata sembab. “Ayah terlalu tega sama aku, karena aku hanya anak angkat ....”
“Kissia ....” Isabelle mengusap wajah putrinya. “Kamu tahu seperti apa ayahmu, untuk kali ini, turuti ayahmu demi kebaikan kamu sendiri.”
“Kapan aku tidak menurut apa kata ayah?” balas Kissia sakit hati.
“Kissia, ibu tahu kalau ayahmu sudah keterlaluan.” Ivanka menggenggam tangan putrinya. “Tapi ibu rasa tidak ada salahnya kamu bertemu dulu dengan putra Pak Alanzo Rico, siapa tahu dia orang baik dan kamu bisa minta waktu untuk kuliah dulu. Ayahmu tidak akan menolaknya kalau calon suamimu saja mengizinkan.”
Kissia terdiam cukup lama setelah mendengar penuturan ibunya. Namun, dia tetap merasa ragu karena sampai sekarang dia belum pernah melihat seperti apa calon suaminya itu.
Benarkah dia adalah laki-laki yang baik dan penuh belas kasih?
“Aku ...” ucap Kissia dengan suara yang tertahan di kerongkongan. “aku takut, kalau tunanganku punya karakter seperti ayah.”
Ivanka memandang Kissia dengan wajah miris saat mendengar kejujuran putrinya.
“Maaf kalau aku lancang,” ujar Kissia sambil menarik napas panjang. “Aku seharusnya tahu diri kalau aku hanya anak angkat , Bu.”
Isabelle menggelengkan kepala.
“Ibu akan antar makanan ke kamar kamu,” katanya sambil menepuk bahu Kissia lembut.
Kissia masuk kamar dan berbaring telungkup sembari membenamkan wajahnya di bantal. Meski semua mimpinya baru saja dibakar habis oleh Helvin, sejujurnya dia tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkannya.
***
Beberapa bulan berlalu setelah kecelakaan itu dan serangkaian operasi telah Giordano jalani, hingga akhirnya dia pulih seperti sedia kala bahkan nyaris tanpa cela.
Dan Alanzo Rico tidak membutuhkan waktu lama untuk membahas kembali tentang rencana pertunangan putra-putranya.
“Ayah mau akhir minggu ini juga kalian bertemu dengan tunangan kalian di rumah kita,” titah Alanzo dengan nada tidak menerima penolakan.
Giordano dan Virghi tidak berkata apa-apa.
“Kamu yakin kalau kondisi Giordano sudah benar-benar pulih?” tanya Levina memastikan.
“Tentu saja,” sahut Alanzo segera. “beberapa orang dokter yang menangani Giordano bilang kalau kondisi anak kita berangsur membaik."
Virghi tiba-tiba berdehem.
“Apa Ayah nggak ingin memberiku waktu libur?” tanya Virghi datar sambil memandang ayahnya. “Tambahan pekerjaan Giordano membuatku lupa rasanya libur ....”
“Kamu tidak tulus membantu kakakmu?” tukas Giordano sembari melirik Virghi yang duduk di sampingnya. “Yah, memangnya seperti apa sih calon tunangan aku dan Virghi Apa Ayah nggak punya foto mereka?”
Alanzo tersenyum tipis melihat ada sedikit ketertarikan dalam nada suara salah satu putranya.
“Foto bisa dimanipulasi, tapi tidak jika kalian bertemu dengan mereka langsung.” Alanzo menjelaskan. “Bisa atau tidak, kalian harus menyempatkan diri untuk datang dalam pertemuan itu.”
“Termasuk meninggalkan pekerjaan kami di kantor?” tanya Virghi mewakili suara hati Giordano. “Yah, memangnya CEO seperti kami ini punya banyak waktu luang untuk sekadar bertemu perempuan ....”
“Mereka bukan sembarang perempuan, tapi mereka adalah tunangan kalian.” Alanzo menegaskan. “Mereka akan menjadi istri kalian kalau prosesnya berjalan lancar.”
Giordano dan Virghi memilih untuk tidak berkomentar, mereka tidak lupa bahwa perintah ayah mereka bagaikan titah raja yang harus mereka lakukan tanpa banyak protes.
“Kalau dari cara ayah bicara tadi,” kata Giordano lambat-lambat ketika dia dan Virghi meninggalkan ruang keluarga. “sepertinya kita nggak perlu menikah dengan dua perempuan itu kalau kita beruntung. Mungkin ada semacam seleksi tambahan, syukurlah. Mereka pikir gampang apa mendapatkan jodoh seperti kita?”
Virghi terdiam sejenak.
“Pengetahuan mereka mungkin hanya sebatas jika CEO akan mengambil perempuan mana saja yang dijodohkan dengannya asalkan dia dari keluarga miskin dan kesusahan seperti di novel-novel roman,” komentar Virghi angkuh. “Padahal kalau saja mereka tahu, CEO sudah pasti pilih-pilih perempuan yang berpendidikan tinggi ....”
“... dan fisiknya harus sempurna khusus diriku,” timpal Giordano percaya diri.
Virghi melirik kakaknya dari atas kepala hingga ke ujung sepatunya yang beradu dengan lantai.
“Kamu kan baru saja kecelakaan parah,” kata Virghi datar. “apa kamu seyakin itu kalau fisikmu masih sempurna?”
“Yang jelas aku nggak lumpuh!” sergah Giordano tersinggung. “Kamu sendiri, apa akan datang ke pertemuan itu?”
Virghi mengangguk sambil lalu.
“Tentu saja aku harus lihat dulu seperti apa tunanganku itu,” katanya. “Kalau ayah tetap memaksaku menikah dengan perempuan itu, maka aku akan menawarkan kontrak pernikahan padanya dan sejumlah uang sebagai tanda jadi. Perempuan mana sih yang akan menolak uang?”
Setelah mengucapkan kalimat itu, pikiran Virghi justru melayang kepada seorang perempuan yang pernah menolak uang pemberiannya beberapa bulan yang lalu.
Bersambung –