Bab.8 Hari Pertemuan

1061 Words
  Giordano meninggalkan pekerjaannya dan cepat-cepat kembali ke apartemen untuk bersiap-siap karena dia sudah telanjur berjanji kepada Alarico untuk datang menghadiri pertemuan istimewa dengan keluarga calon tunangannya.   Tidak berapa lama setelah Giordano selesai mengenakan pakaian lengkap dan sedang menyisir rambutnya, Virghi tiba dengan penampilan terbaik yang dia punya.   “Apa sopir pribadimu sedang libur?” tanya Virghi datar sambil berdiri di depan pintu kamar kakaknya yang terbuka sedikit. “Sampai aku harus menjemputmu ke apartemen ....”   “Kamu terpaksa menjemput kakakmu sendiri?” sahut Giordano seraya menyisiri rambutnya yang sudah rapi dengan jari tangan. “Kita bisa berangkat sama-sama dari apartemenku biar ayah dan ibu senang.”   Virghi tidak menanggapi dan berlalu pergi meninggalkan kamar kakaknya.   “Apa kamu tidak kepikiran untuk potong rambut?” tanya Giordano ketika dia menyusul Virghi ke bawah dan melirik rambut hitam lurus lebatnya yang mencolok. “Paling tidak rapikanlah sedikit seperti ini.”   Virghi berjengit saat Giordano mengulurkan tangan dan menyibakkan poni adiknya ke belakang. Tanpa ampun dia segera menepis tangan sang kakak dan mengangkat tinjunya sendiri dengan mata berkilat.   “Jangan sentuh-sentuh,” ancamnya dengan tatapan yang siap membunuh, membuat Giordano menyeringai tipis ke arah Virghi.   “Kamu yang menyetir,” perintah Giordano saat dia melangkah memasuki mobil sport milik Virghi. “Ayah dan ibu pasti sudah menunggu kita.”   Virghi tidak berkomentar dan memilih untuk melajukan mobilnya ke arah kediaman orang tua mereka. Di sepanjang perjalanan, Giordano tidak henti-hentinya mengoceh seperti apa rupa calon tunangannya nanti.   “Jangan berharap terlalu tinggi,” komentar Virghi datar sembari mengemudi. “Ayah sengaja minta kita untuk datang ke pertemuan, itu berarti ayah mau kita melihat seperti apa tunangan kita sesungguhnya."   Giordano mendongak menatap melewati atap mobil Virghi yang terbuka.   "Mungkin kamu benar," kata Giordano sependapat. "Seperti katamu, kita tidak mungkin asal menerima perempuan ibarat membeli kucing dalam karung."   Virghi tidak berkomentar dan terus menyetir dalam kebisuan.   Setibanya di kediaman orang tua mereka, Giordano dan Virghi harus mengakui betapa totalitas persiapan yang dilakukan Alanzo Rico demi menyambut kedatangan keluarga dari calon tunangan anak-anaknya.   Bahkan belasan pelayan dari mulai pria dan wanita sudah tampak siaga di beberapa titik tertentu.   "Apa menurutmu mereka berasal dari keluarga pejabat penting?" tanya Giordano sementara Virghi menyerahkan kunci mobilnya kepada salah satu penjaga rumah. "Atau mungkin keturunan bangsawan?"   "Aku kan sudah bilang, jangan berharap terlalu tinggi." Virghi menyahut dengan nada logis. "Apa yang menurut ayah baik, belum tentu baik di mata kita. Begitu juga sebaliknya, jadi lebih baik kita lihat dulu seperti apa tunangan kita nanti."   Giordano mengangkat bahunya, tapi dia setuju dengan ucapan yang dilontarkan adiknya.   "Putra kita sudah datang!" Levina memberi tahu suaminya kemudian berjalan anggun untuk menyambut Giordano dan Virghi. "Kalian berdua benar-benar ...."   "Apa kami terlambat?" tanya Virghi tanpa berbelit-belit.   "Tidak, selera humormu tidak ada sama sekali ya? Ibu bahkan belum selesai bicara," komentar Levine sambil geleng-geleng kepala menghadapi sikap Virghi yang cenderung kaku. "Maksud ibu kamu dan kakakmu benar-benar sempurna, calon suami idaman masa depan."   Virghi terdiam tanpa ekspresi sementara Giordano tersenyum simpul.   "Mana calon tunangan kami, Bu?" tanya Giordano penasaran. "Apa mereka datang terlambat?"   Levine menggeleng.   "Tidak, pertemuannya masih satu jam lagi." Dia menegaskan.   "Apa?"   "Satu jam lagi?"   Giordano dan Virghi bergantian menyahut menyusul pemberitahuan ini.   "Kenapa ibu tidak bilang dari tadi?" protes Virghi sambil memandang ibunya. "Aku terpaksa menunda memeriksa proposal penting dari perusahaan sebelah ...."   "... aku masih sempat minum kopi dengan relasiku kalau aku tahu jam pertemuan yang sebenarnya!" sambung Giordano gusar.   Levina mengangkat tangannya sebagai tameng dalam menghadapi protes yang didengungkan oleh kedua putranya.   "Kalian harus maklum. Sebagai tuan rumah, kalian sudah sewajarnya datang lebih awal daripada tamu-tamu undangan kita. Paham?" kata Levina membela diri.   Giordano dan Virghi tidak lagi berkomentar karena menurut mereka itu hanya buang-buang waktu saja.   Setelah hampir satu jam menunggu, seorang pelayan muncul untuk memberitahukan kedatangan Helvin dan keluarganya.   Namun, ternyata Helvin hanya membawa seorang putrinya saja.   "Kenapa cuma satu?" tanya Giordano heran.   "Entah ...."   "Ayah nggak mungkin bermaksud menyuruh kita untuk menikahi satu perempuan yang sama kan?" komentar Giordano dari sudut bibirnya.   "Diamlah, apa kamu nggak punya pikiran?" sentak Virghi. "Kamu kira ayah punya pemikiran yang sama seperti kamu?"   Giordano diam saja, kedua matanya memicing ke arah seorang perempuan dewasa muda yang berpenampilan glamour dan mencolok itu.   ***   Beberapa saat sebelumnya ....   Kissia baru saja duduk di samping Feli ketika ponselnya berdering singkat. Dia membuka tasnya dan melihat sebuah pesan baru yang dikirimkan salah seorang temannya.   'Kissia, nilai ujianmu nyaris lulus sempurna. Kenapa kamu tidak datang ke kampus untuk tahap selanjutnya?'   Kissia mendongak dengan wajah sedikit tegang.   'Malam ini datanglah ke kafe dekat taman, aku akan membantu mengumpulkan berkas-berkas dan membawanya ke kampus.'   Kissia tertegun. Menurutnya masih ada harapan untuk meriah mimpinya masuk universitas jika dia mau sedikit saja mengambil risiko sekali lagi.   Tapi bagaimana caranya dia menyelinap pergi sedangkan mobil Helvin sedang melaju kencang di jalanan beraspal?   Kissia mengarahkan pandangannya menembus kaca jendela mobil Helvin sembari terus memutar otak untuk bisa menemui temannya lebih cepat. Bukankah bagi Helvin yang penting dirinya ikut serta menghadiri pertemuan dengan keluarga Alanzo?   Di luar kemauan Kissia, mobil yang dikemudikan Helvin mendadak melaju tak beraturan.   "Yah, ada apa sama mobilnya?" tanya Feli dengan wajah berkilat karena panik. "Jangan bilang kalau kita mau kecelakaan?"   "Jaga ucapanmu, Feli! Jangan berpikir yang tidak-tidak," tegur Ivanka. "Helvin, mobilnya tidak ada masalah kan?"   "Seharusnya tidak," sahut Helvin tanpa memandang istrinya. "Eratkan sabuk pengaman kalian untuk jaga-jaga!"   Semua orang yang ada di situ segera mematuhi perintah Helvin sementara arah mobil yang mereka tumpangi semakin tidak terkendali.   Hingga akhirnya Helvin menginjak rem sekuat tenaga dan mobil yang dikemudikannya berhenti hanya beberapa meter saja dari pembatas jalan.   "Ayah bikin aku panik, untung kita semua masih selamat ..." ucap Feli sambil bersandar dengan lemas.   Sesaat berikutnya Helvin harus mengganti ban mobilnya yang bocor karena tertusuk paku dengan ban cadangan.   "Apa Ayah sudah memberi kabar kepada Pak Alanzo?" tanya Kissia dengan nada ragu-ragu.   "Ayah belum sempat," jawab Helvin tanpa menoleh karena dia sibuk mengganti ban.   "Apa Ayah setuju kalau aku dan Kak Feli pergi duluan pakai taksi?" usul Kissia, mengharap sedikit keberuntungan yang nyaris sulit untuk dia dapatkan.   "Pakai taksi? Aku nggak mau!" tolak Freya. "Nggak keren kalau aku muncul di depan keluarga terhormat pakai fasilitas umum."   "Aku hanya berpikir kalau Ayah nggak mau datang terlambat ke pertemuan sepenting ini," bantah Kissia. "Nggak ada salahnya kalau kita ke sana untuk mengabarkan kondisi yang kita alami."   Feli mencibir tanda tidak setuju.   Bersambung -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD