Mayat Siapa Itu?

855 Words
"Mas, kamu kenapa?" tanya Nira sembari mengejarku ke kamar mandi dan memegang bahuku khawatir. Kubalikkan punggung dengan cepat lalu balik menatapnya. "Nggak usah pura-pura, Nir! Katakan, apa ... apa kamu sudah membunuh Intan lalu ... lalu ...." tak sanggup rasanya aku mengatakan apa yang ada dalam pikiranku saat ini. Semua ini terlalu menakutkan dan di luar akal sehatku sebagai manusia. "Membunuh Intan? Intan siapa?" Kedua alis Nira bertaut. Raut bingung tercetak jelas di wajahnya. Tapi, aku tidak percaya. Aku tahu Nira pasti menyembunyikan sesuatu. Gerak geriknya begitu mencurigakan. Jujur, aku curiga dia ada kaitannya dengan menghilangnya Intan yang sampai saat ini tak kunjung ada kabar beritanya. Gegas kutepis tangan wanita itu lalu berlari ke belakang rumah. Mengambil cangkul lalu menuju kebun belakang di mana sebelumnya aku melihatnya menggali sesuatu di dekat rimbunan tanaman laos miliknya yang sebagian memang terlihat baru saja di tanam itu. Ada bekas galian baru yang membuatku merasa begitu curiga. Kurenggut rumpun laos yang terlihat layu di atasnya lalu membuangnya ke sembarang arah. Dengan rasa penasaran bercampur marah dan curiga, kugali kembali galian tanah yang masih terlihat gembur itu. Kugali hingga dalam dan mentok di tanah keras tetapi sial! Tak kutemukan apapun di sana. Lalu apa sebenarnya yang ditanam istriku di lubang galian ini? Benarkah hanya batang laos saja? "Mas, kamu kenapa? Kamu apakan tanaman laos itu?" Nira sudah berdiri di belakangku. Tanda tanya semakin kentara di kedua bola matanya. Nada suaranya pun terdengar sedikit marah. Tapi aku tak peduli. "Kamu nanam apa sebenarnya di lubang ini, Nir? Katakan!" tanyaku setengah berteriak. Rasa curiga dan kalut membuatku tak bisa berpikir jernih hingga membentak keras wanita itu. "Nanam laos, Mas. Itu ... kamu buang di sana." Ia menunjuk rumpun laos yang tadi kubuang. "Aku baru menanamnya lagi karena kemarin kuambil semua isinya untuk Bi Hanun. Dia kan hajatan, jadi kuberikan itu untuk tambahan bumbu masaknya. Kenapa kamu bongkar begini? Kamu cari apa, Mas?" sambungnya lagi dengan nada heran dan kecewa. Tetapi mendengar pertanyaan itu, aku tak peduli. Kubalikkan badan dengan cepat lalu meninggalkannya. Benakku terasa begitu kalut. Kukeluarkan roda dua dengan tergesa lalu memacunya sekencang mungkin membelah jalanan yang terlihat ramai. Pagi ini aku hendak mampir dulu ke rumah Intan. Memastikan sebenarnya wanita itu ke mana dengan membongkar kontrakannya nanti untuk mencari petunjuk. Kubelokkan motor menuju arah kontrakan wanita itu, tetapi belum sampai ke sana, sudut mataku melihat kerumunan orang-orang di tepi sebuah jalan yang terletak bersebelahan dengan hutan. Instingku langsung terpanggil ingin tahu. Sejak Intan menghilang, perasaanku memang menjadi begitu sensitif. Sekecil apapun hal, rasanya jadi ada kaitannya dengan kepergian gadis itu. Kudekati salah satu lelaki yang sepertinya sudah berada di sana sedari lama dan bertanya ingin tahu. "Ada apa, Mas kok rame-rame?" "Ada mayat, Mas. Perempuan. Kayaknya habis dirampok dan dibunuh. Kasihan. Wajahnya rusak. Kita jadi sulit mengenali," sahut lelaki itu dengan nada bergidik dan sorot mata ngeri. Deg! Mayat? Seorang perempuan? Habis dirampok dan dibunuh? Perasaan tak enak langsung mendera dan menyelusup masuk ke dalam benak. Aku teringat Intan yang hingga detik ini belum juga kembali. Meski kecurigaan pada Nira belum juga berakhir, tetapi aku juga tak hendak menutup diri dari kemungkinan lain penyebab menghilangnya Intan secara tiba-tiba seperti ini. Gegas aku melangkah menembus kerumunan orang-orang dan mencoba melihat jasad yang terbujur kaku dari kejauhan itu. Sesosok mayat wanita dengan posisi tertelungkup kini tampak di depan mata. Tubuhnya berbalut pakaian mini, khas seperti yang biasa dipakai Intan. Rambutnya juga lurus sama seperti rambut istri mudaku yang selalu direbonding. Degg! Sesaat dadaku berdebar kencang. Apa jangan-jangan mayat ini adalah mayat istri muda yang sedang kucari-cari itu ya? Tapi, tidak! Semoga saja ini tidak benar. Wanita yang jasadnya terbaring kaku di depanku itu bukanlah Intan adanya. Aku belum ingin berpisah secepat ini dengan wanita cantik yang membuatku gila dan mabuk kepayang itu. Aku belum siap berpisah dari wanita s3ksi dan manja itu! Aku masih ingin hidup bersamanya lebih lama. Berpikir begitu, cepat kudekati mayat itu dan mencoba mengenali wajahnya meski sebagian besar memang sudah rusak. Kututup hidung, karena saat aku mendekat, aroma tak sedap langsung menyergap indera penciuman. Ah, kalau benar mayat wanita ini adalah Intan, berarti kecurigaanku selama ini pada Nira salah besar adanya? Istriku itu tak ada hubungannya dengan kematian Intan sama sekali. Benarkah? "Mas, jangan disentuh dulu. Kita lagi ngubungin kepolisian. Nanti kalau Mas sentuh sentuh dan ada sidik jari sampean di situ, bisa-bisa sampean jadi tersangka lho," tegur seseorang dengan keras saat aku ingin membalikkan tubuh kaku itu yang sebagian badannya memang sudah rusak. Bagian perut bahkan sudah mulai menggelembung. Aku dan yang lainnya harus menutup hidung kuat-kuat jika tak mau muntah akibat mencium bau jasad yang mulai membusuk itu. Ya, Tuhan ... jika mayat ini benar Intan adanya, alangkah kasihan dan berdosanya aku karena telah membiarkan hari-harinya sendiri dan kesepian karena aku tak bisa menemani waktunya sepenuhnya sebab harus berbagi dengan Nira. Ah, andai saja waktu itu aku mendengarkan dan menuruti permintaannya agar menceraikan Nira supaya bisa menikahinya secara resmi, tentu semua ini tak akan terjadi. Sekarang nasi sudah jadi bubur. Intan sudah pergi untuk selama-lamanya dan tak akan kembali lagi ke dunia. Menyesal seribu kali pun tak akan bisa mengubah gadis itu menjadi hidup kembali. Aarrg!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD