Allah Itu Tidak Tidur

391 Words
Jika setelah menikah dan melakukan apa yang namanya malam pertama. Itu tidak terjadi diantara Farhan dan juga Riska. Pasalnya, setelah acara akad dan dilanjutkan dengan resepsi, dan berakhir pada pukul 9 malam. Saat itu juga Farhan dan Riska memutuskan pulang dikediaman Farhan. Bukan rumah orang tuanya, melainkan rumah yang Farhan beli dari hasil kerja kerasnya. Tapi saat satu jam lalu usai menerima telepon, Farhan pamit pergi dan tidak mengatakan apapun lagi. Ini sudah hampir jam 12 malam, tapi suaminya belum juga pulang atau minimal memberinya kabar. Riska sendiri cemas, apalagi setelah kepergian Farhan, telepon rumah berdering berulang kali. Dirinya jelas takut mengangkat panggilan tersebut. Apalagi panggilan itu berulang-ulang. Tapi saat suara dering kembali terdengar, mau tak mau Riska harus mengangkatnya. Takut-takut jika ada sesuatu yang penting. Tapi dia juga takut, takut jika itu telepon dari orang yang tidak dikenal, dan berpotensi membahayakan dirinya. Ah, malam pertama yang menyebalkan. Seharusnya ini menjadi malam yang indah, minimal dirinya dan Farhan melakukan pendekatan agar tidak secanggung biasanya. Tapi ya sudahlah. Ragu, tapi Riska berusaha menepis itu semua. Perlahan dia mengarahkan genggaman telepon rumah kearah telinganya. Diseberang tidak ada suara, sampai ketika suara seorang pria mulai terdengar. “Farhan, Dina merindukan kamu. Kenapa kamu jarang sekali mengangkat panggilan dari saya. Kamu lupa jika kamu bertanggung jawab terhadap dia.” Riska termenung, Dina? Siapa dia. “Farhan kamu masih disana? Setidaknya respon ucapan papa. Sekali lagi, luangkan waktu untuk sekedar menelepon Dina, atau kalau tidak, datanglah kemari. Dia merindukan suaminya.” Deg Jantung Riska berpacu dua kali lebih cepat. Suami? Maksud dari pembicaraan itu apa. Kenapa ada masalah setelah dirinya resmi menjadi istri dari dokter Farhan. Bahkan disaat pernikahan baru berusia 1 hari. Dina Merindukan Suaminya Farhan, Dina merindukan suaminya. Hah, itulah potongan kalimat yang dapat Riska tangkap dan gabungkan. Dia mencoba berpikir positif, mungkin Riska adalah adik, temen atau sepupu? Mungkin saja. Tapi saat pria di seberang telepon memanggilnya dirinya sendiri papa, membuat pikiran negatif berusaha menyerang dirinya. Tanpa mengucapkan apapun, Riska mematikan teleponnya sepihak. Dia takut, dia teramat sangat takut. Pikiran buruk mulai berkecamuk, “Itu enggak mungkin kan.” Berulangkali Riska menggelengkan kepalanya, mengusir kemungkinan kemungkinan yang belum terjadi. “Enggak, astaghfirullah. Gak mungkin aku nikah sama pria yang udah beristri. Enggak, dokter Farhan bukan pria seperti itu.” Mencoba menyangkal pemikirannya, Riska sendiri malah menitihkan air mata. Dia benar-benar kecewa jika itu semua benar terjadi dan menjadi kenyataan. Mungkin dia akan langsung meninggalkan suaminya, tanpa memberi maaf. Ya Allah, Allah itu tidak tidur. Beliau akan mengabulkan harapan Riska, bahwa semua pemikirannya adalah fantasi semata. Iya, itu hanya ketakutan. Bukan kenyataan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD