Sarah POV
Adalah benar jika aku memang wanita yang sering dicap sebagai ‘cewek sampah’. Sebenarnya label yang seperti sudah melekat dengan namaku, dan itu bukan sesuatu yang baru. Kalian bebas menghujatku sesuka hati.
Menghancurkan rumah tangga orang lain?
Sudah pernah juga aku lakukan. Tapi, dulu itu bukan aku yang mulai duluan. Sebelum aku resign dan masuk ke RN Corp—perusahaan Rinaldy—banyak hal yang sudah aku lalui dalam hidup. Termasuk dibodohi. Managerku dulu mengatakan bahwa dia belum punya istri, masih single. Aku yang tidak mencari tahu lebih dalam percaya saja. Kami memulai hubungan. Tapi ujungnya ketahuan oleh istrinya yang sangat galak. Aku bahkan dilabrak di kantor, fotoku disebar, dipermalukan dan dicap sebagai wanita perusak rumah tangga orang lain, tanpa sedikitpun mereka tahu bahwa lakiknya yang mulai duluan.
Dan mungkin, itulah tantangan seorang lelaki yang sudah beristri.
Tapi kali ini berbeda kasus. Sejak pertama kali melihat Rinaldy, dia dan wajah dinginnya membuatku ingin memilikinya. Tidak peduli jika seisi kantor, termasuk aku tahu bahwa dia sudah punya istri dan anak. Jadi simpanan pun tidak masalah.
Dan kejadian di mobil itu membuatku sempat berharap berhasil menarik perhatiannya yang hampir mustahil aku lakukan. Jujur, sikapnya sempat membuatku sakit hati.
“Sendirian saja, nona manis?”
Sial. Aku sedang ingin sendiri, tapi sejak aku duduk di meja baru, ada saja lelaki hidung belang yang berusaha mengajakku ‘tidur’.
“Aku sedang tidak tertarik bermain denganmu, pergilah sebelum aku kehabisan rasa sabar.”
“Galak sekali, padahal nona sangat cantik. Aku bisa pesan hotel, mau bintang lima pun okey. Istriku sedang liburan ke Jepang, atau mau bermain di rumahku? Kamarku jauh lebih nyaman.”
“Berengsek, kau tidak dengar ucapanku barusan?” aku menatapnya kesal, dia masih berani menyentuh bahuku di saat sudah jelas aku menolak.
“Dasar sok jual mahal, kamu pasti sering melakukannya. Salah satu temanku juga pernah membookingmu, jadi kau harus ikut denganku.”
“Sialan, lepaskan aku.”
Dia lelaki gila. Bahkan sampai berani menarikku? Aku bukan tipe wanita yang bermain dengan sembarang orang. Aku berusaha menepis tangannya yang menarik tanganku cukup kencang. Tapi tenaganya sungguh luar biasa. Sialnya, berteriak pun tidak akan ada orang yang membantu.
“Lepaskan dia.”
Tubuhku membeku mendengar suara bariton dari belakang. Begitu berbalik, aku melihat sosok rupawan dengan tatapan tenang, setenang lautan tapi menghanyutkan, menatap lelaki aneh yang masih memegangku.
“Kau siapa?”
“Saya kekasihnya, lepaskan tanganmu atau kau akan berakhir di rumah sakit.”
Suara tenang itu cukup berbahaya. Lelaki tadi melepaskanku dan pergi begitu saja. Aku hampir saja terjatuh saat melepaskan diri darinya. Dia sigap memegangi tanganku. Kali ini dia tersenyum.
“Anda tidak apa-apa?”
“Tidak, terima kasih sudah menolongku hari ini.”
“Ini kedua kalinya.”
“Kedua kali?” Aku mengerutkan kening, lalu mataku seolah tersadar bahwa lelaki ini juga pernah menolongku. Di bar juga. “Maaf, aku hampir tidak mengenali anda.”
“Tidak apa, kamu sepertinya sedang banyak masalah. Ingin duduk di tempat yang lebih damai? Bar ini bukan tempat untuk melampiaskan rasa marah.”
“Aku…bukan ide yang buruk.”
Dia tersenyum sekilas. Aku mengikutinya berjalan ke rooftop. Angin segar menerpa wajahku begitu tiba di atas, dan pemandangan kota di malam hari membuatku tersenyum. Yang aku tahu, hanya VVIP yang bisa mengakses tempat ini.
“Temanku yang punya bar ini, makanya aku bisa punya akses masuk.”
Suaranya dari belakang, aku berbalik dan menatapnya sudah duduk di sofa sambil menyesap batang rokoknya. Pemandangan di sofa yang sengaja dibuat lebih tinggi membuatku melangkah ke sana. Duduk dan memejamkan mata. Rasanya sangat damai dan tenang sekali.
“Terima kasih sudah menolongku tadi.”
“Never mind.”
Cukup lama kami berdua hening dan menikmati udara malam. Aku cukup penasaran, sudah aku pikir dia juga hanya akan memanfaatkanku walau aku tidak keberatan dengan itu. Wajahnya cukup tampan. Tapi tidak, dia tenang sambil menghisap batang rokoknya sambil menatap lurus kedepan. Seolah ini adalah salah satu hal paling menyenangkan baginya.
“Apa Anda stress karena urusan pekerjaan?”
Dia bertanya duluan, menyerahkan satu batang rokok, tapi aku menolak. “Aku tidak merokok.” Dia mengangguk, dan mematikan puntung rokoknya. “Tapi kau benar. Oh ya, panggil aku Sarah. Dipikir-pikir, kita belum kenalan.”
“Bobby, kau bisa memanggilku demikian. Kamu kerja dimana?”
“RN Corp.”
Dia menatapku untuk beberapa menit. Lantas mengangguk sambil menatap kedepan.
“Tekanan kerja di sana pasti tinggi, dengar-dengar bos kalian orangnya sangat ambisius, dan gila kerja. Sampai-sampai sekretarisnya banyak yang resign. Tapi tidak heran, perusahaan kecil itu sekarang bisa sampai sebesar sekarang.”
“Kau tahu hal itu?”
Dia terkekeh. “Salah satu pegawaiku mantan pekerja di sana.”
“Pekerja? Wait, kau punya perusahaan?” kali ini aku mulai tertarik. Dia memang terlihat seperti lelaki yang memiliki value, bodoh sekali aku sempat memikir hal yang gila tentangnya. Harusnya aku paham bahwa orang dengan sifat tenang itu kadang adalah sosok yang berbahaya.
“JYP. Rival RN Corp.”
Demi? Aku sampai menutup mulutku saking tidak percayanya. Jadi aku sekarang duduk sederet dengan pemilik perusahaan besar itu? JYP bukan hanya bergerak di bidang wedding organizer untuk kalangan elit di negara ini, tapi mereka juga perusahaan perbankan lainnya. ini benar-benar sebuah kebetulan yang luar biasa.
Dia terkekeh, membuatku mengerutkan kening.
“Ada apa?”
“Ekspresimu, lucu sekali. Kenapa, kau tidak pernah mendengar kabar tentangku sebelumnya? Oh ya, tutup bibirmu, Sarah. Nanti nyamuk bisa masuk.”
Pantas saja dia tertawa. Aku tidak sadar membuka mulut saking tertampar dengan kejutan.
“Ahh…”aku terkekeh. “Tebakanmu benar. Jadi apa ada lowongan kerja di tempatmu?” aku berusaha bergurau untuk menghilangkan rasa malu.
“Aku bisa menawarkan kerja sama.”
“Kerja sama?” aku mengerutkan kening. “Kerja sama seperti apa?”
“Kau bisa tetap bekerja di sana, tapi juga bekerja untukku.”
“Maksudnya? Tunggu dulu, kau tidak bermaksud untuk menjadikanku sebagai mata-mata di perusahaan RN corp kan?”
“Kau paham maksudku. Tenang saja, jika kamu ketahuan, badan hukum perusahaanku akan melindungimu sepenuhnya. Aku hanya butuh bantuanmu untuk tahu apa yang membuat perusahaan itu berkembang sangat pesat.”
“Aku…”
“Tidak harus menjawab sekarang. Datanglah ke tempat ini besok, ini kartu nama dan kontakku, mungkin kau bisa melihat tawaran kerjasama kita nanti. Aku akan mengirimmu file kasarannya.”
Dia orang yang to the point. Dan aku juga sangat paham bahwa di perusahaan-perusahaan besar sering terjadi hal-hal seperti ini. Ini bukan sesuatu hal yang baru.
“Oh ya, aku mau menemui temanku di bawah. Kau masih bisa disini, jika ada petugas, sebut saja namaku.”
Dia sudah bangkit berdiri dan menghilang di balik pintu. Sungguh kebetulan yang membagongkan. Aku tidak pernah tahu akan bertemu dengan sosok itu. Dia lelaki yang banyak dibicarakan di kalangan para wanita. Aku punya beberapa kenalan yang juga bekerja di perusahaan itu dan mereka semua bermimpi bisa bertemu dan berbicara langsung dengannya.
Sial. Kebetulan macam apa ini?