10

1281 Words
Toni memandang lesu langit malam yang menghias Jakarta. Berdiri di sisi kaca, pria itu bisa melihat aneka lampu yang berkelap-kelip di antara bangunan megah di megakota. Ada bermacam pikiran yang kini bersarang di kepala Toni; pekerjaan, kontrak-kontrak yang harus segera dibereskan, bawahan yang tidak kompeten, dan Catur. Toni bertanya, mungkinkah wanita itu masih memendam perasaan terhadap lelaki yang memilih untuk mencampakkannya? Lelaki yang tak memiliki kesetiaan semacam itu, ia tak pantas disebut sebagai suami maupun seorang ayah. Ke mana perginya sosok bapak yang seharusnya mendampingi Toni di kala ia membutuhkan sesosok panutan? Ya, pria itu pergi, meninggalkan Catur demi wanita lain yang lebih muda dan kaya. Saat Toni berusia tujuh tahun. Ia pernah melihat lebam biru di pipi Catur. Setiap kali Toni bertanya mengapa ada luka yang menghias wajah Catur, maka wanita itu pun menjawab, “Mama jatuh. Terpeleset.” Tentu saja, Toni kecil yang polos percaya dan tak mempermasalahkan kebenaran yang disembunykan Catur. Hingga Toni beranjak besar, ia pun menyadari ketidakharmonisan kedua orangtuanya. Catur lebih sering menangis, sementara sang suami jarang pulang. Jika tidak ada lagi kepercayaan dalam sebuah hubungan, maka cinta pun tinggal menghitung hari. Hal yang paling menyedihkan, Catur masih saja mengharapkan kehadiran sang suami. Sampai kapan pun, Toni tak sudi menganggap lelaki yang telah membuangnya itu sebagai ayah. Menghela napas, Toni meninggalkan panorama malam. Koridor di Intermezzo mulai lengang. Hanya ada beberapa orang yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Edi, di pojok ruangan, sibuk menyortir artikel yang akan diedit. Toni senang dengan kinerja Edi dan beberapa orang yang berada satu divisi dengan pria berumur tiga puluh tahun tersebut. Edi terbukti cakap dalam bekerja dan Toni tak pernah mengeluhkan satu pun artikel yang disorongkan Edi. Melirik ke ruang seberang, Toni melihat keberadaan Nayla.  Seulas senyum terlukis di wajah Toni saat menyaksikan wajah Nayla yang terlihat begitu imut. Bibir wanita itu meracaukan sesuatu, Toni tebak ia tengah menyanyikan sebuah lagu dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh si penyanyi. Di samping kubikel Nayla, Rei jelas tidak menikmati suguhan konser dadakan tersebut. Terbukti beberapa kali Rei mengetuk dinding kubikel, berharap Nayla bersedia mengakhiri konsernya. Yah, setidaknya Toni bisa melihat sesuatu yang menyenangkan hatinya. *** “Nay, please. Suaramu membunuhku!” “Anggap saja, konser amal,” balas Nayla. Ia kembali menyenandungkan lagu 2PM tanpa peduli suaranya diterima oleh tetangga kubikel atau tidak. “Nay, aku ditunggu Tiara. Kamu tega, ya?” “Bodo!” Kebiasaan buruk Nayla. Satu, jika ia merasa stres, maka ia akan mulai menyanyikan lagu Korea dengan suara … catat, buruk sekali. Dua, jika Nayla lapar emosinya akan meledak dan cara menenangkannya hanya dengan mendengarkan lagu Korea atau menyanyikan lagu Korea. Kesimpulan, Rei harus berjibaku dengan suara sumbang milik Nayla. “Ampun, Nay. Di sini cuma tinggal kita doang. Itu suara jelek—” “Hands up! Hands up! Hands up!” senandung Nayla, mengabaikan protes Rei. “Nayla, k*****t!” *** Setelah melewati cobaan dalam pengeditan dan pengetikan, akhirnya Nayla dan Miranda bisa tersenyum puas. Mereka tak perlu mendengarkan celoteh kritis milik Toni.  Surga…. Nayla bahkan merasa bisa mendengar suara Cupid yang menyenandungkan himne suci. Atau, begitulah yang awalnya dipikirkan oleh Nayla. “Pak, dari sini terus belok ke mana?” Nayla merasa waswas, hari ini ia harus bekerja sebagai sopir pribadi Toni. Entah mengapa mobil si bos memilih rusak saat Nayla secara tidak sengaja melintas. Memang sih, bisa saja Nayla pura-pura tidak mengenal Toni dan mengabaikan keberadaan pria tersebut namun…. Karma itu mengerikan! Bisa saja suatu saat Nayla berada di posisi Toni dan ia tak bisa melakukan apa pun selain mengirim doa pada Tuhan. Amit-amit, hidup Nayla sudah cukup susah. Tak perlu tambahan daftar kemalangan untuk melengkapi deritanya yang sudah masuk dalam tahap kronis. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati, Nayla memutuskan untuk berhenti dan menolong Toni. Kini, ia menyesali keputusannya. “Nanti,” jawab Toni dengan intonasi datar. “Kalau sudah sampai akan saya kasih tahu.” Nanti, nati embahmu, gerutu Nayla dalam hati. Apa susahnya menunjukkan arah perjalanan secara baik dan benar? Haruskah Nayla memberikan pilihan ganda semacam;  A. Bapak ingin diantar ke neraka?  B. Bapak ngajak rebut, ya?  C. Bapak kok jahat gini, sih. (Coret, Nayla ingin muntah.) D. Bapak maunya apa, sih? Atau yang terakhir…. E. Langsung gampar Toni menggunakan stiletto. Bagaimana bisa seorang Toni berubah lebih sering daripada lampu lalu lintas? Padahal kemarin tampaknya Toni dalam keadaan suasana hati yang damai sentosa. Lalu kini…. “Pak,” kata Nayla, hati-hati. “Sudah sampai mana? Bapak ingin diantar ke mana sih?” Di sampingnya, Toni hanya diam termangu—menatap jalanan. Oke, jika nanti ada berita dengan tajuk, “Pria yan ditemukan mengapung di atas kali.” Sudah pasti, Nayla-lah pelaku utama kejahatan tersebut. “Bawa saja,” kata Toni tanpa memandang Nayla. “Tolong bawa saya ke tempat yang sunyi.” Sunyi? Apakah pria itu baru saja meminta Nayla untuk mengantarkannya ke tempat yang sunyi? Berdua? Sepasang manusia yang sudah dewasa?  Ulala, Miranda pasti akan bersorak bahagia mendapati Nayla akhirnya berhasil meruntuhkan tembok beku milik Toni. “Bawa saya ke pantai,” lanjut Toni. Atau Toni hanya menganggap Nayla sebagai sopir sehari. *** “Pak Djarno,” kata Rafael. “Saya perkenalkan general manager Intermezzo, Antoni Tan.” Kedua lelaki itu hanya bisa menatap bisu lawan masing-masing. Di sisi lain, seorang pria muda berkacamata tampak menahan amarah, menjabat tangan Djarno pun ia enggan untuk melakukannya. Tidak, setelah hal buruk yang ia lakukan pada Catur. Djarno, berbeda dari kali terakhir perpisahan mereka. Pria itu tampak lebih gendut, kumisnya pun makin subur, dan rambutnya jelas terpelihara dengan baik. Uang, kuasa. Tentu saja, keduanya berdampak positif terhadap perkembangan kesehatan Djarno. Berbeda dari Toni, Djarno tak ragu menggenggam tangan putra kandungnya. “Saya tidak menduga, GM Intermezzo semuda ini.” Senyum palsu, tebak Toni. Andai diizinkan, Toni memilih untuk menusuk Djarno. Pria itu benar-benar tidak memperlihatkan kegundahan sedikit pun. Atau mungkin, Djarno lupa pada wajah putra kandungnya sendiri? Entahlah. “Jadi,” jelas Rafael. “Bapak Djarno merupakan pemilik brand tas batik yang tengah popular di kalangan remaja dan sosialita. Beliau ingin Intermezzo membahas produk mereka yang terbaru.” Toni tak terlalu mendengarkan ucapan Rafael. Batinnya panas, Toni ingin pergi. Satu ruangan dengan pecundang ini hanya akan menambah luka yang hampir sembuh—luka yang disebabkan oleh Djarno. Dan kini luka itu terbuka kembali. *** Duduk di atas pasir, Toni memperhatikan debur ombak yang menyentuh bibir pantai. Hari ini ia hanya ingin melupakan pertemuan singkatnya dengan sosok yang sungguh tak ingin dijumpainya. Dunia mungkin terlalu kecil hingga Toni kembali dipertemukan dengan manusia itu. Nayla tak banyak bertanya. Wanita itu memilih duduk di samping Toni—memandang ombak yang menggulung anggun. “Nay, kalau ada satu hal yang ingin kamu hilangin—” “Ada banyak,” potong Nayla. “Macet, orang resek, koruptor, tukang nyinyir. Ada buwanyakkkkkkk.” Toni menghela napas, tidak tertarik mendengarkan keluhan Nayla. “Tapi, ya, Pak. Hal buruk itu nggak selalu jelek. Bisa saja Tuhan tak memberikan apa yang kita minta karena memang hal tersebut tidak baik untuk kita. Sejelek-jeleknya kesialan, pasti ada manfaatnya.” “Cara pikirmu,” kata Toni. “Aneh.” Nayla terkekeh, tidak tersnggung. “Bapak yang paling aneh,” katanya. “Tiba-tiba saja minta diantar ke pantai. Bapak ditolak cewek, ya?” O … ow. Kesalahan. Nayla menoleh ke samping dan mendapati perengetan Toni. “Saya tidak pernah ditolak cewek,” katanya, kesal. Diam. Nayla hanya menampilkan segaris senyum kaku. “Asal kamu tahu,” tegas Toni. “Saya ini lumayan popular.” Awalnya Nayla bermaksud untuk menahan diri, namun dasar sial, tawa pun menyembur. Nayla tak sanggup melihat wajah cemberut Toni. “Ha ... haduh. Iya, Pak haha, percaya. Udahlah, Pak. Hahahaha. Jomblo bukan dosa kok.” Diam. Toni tak tahu harus membalas apa.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD