Amalia Aku mencoba menangkap cahaya yang masuk ke mata ku perlahan. Perlahan, kelopak mata ku bisa menyesuaikan dengan cahaya ruangan ini. Aku bisa mencium bau obat. UKS. "Kau bangun akhirnya Amalia!" Ucap seseorang di samping ku. Aku menoleh untuk melihat bahwa dia adalah Mutia. "Apa kabar?” tanya dengan halus. "Aku merasakan kesedihan dan kesenangan yang silih berganti Mutia," balas ku. "Maksud mu?" Balas Mutia keheranan. "Kau tahu, aku merasakan sesuatu di luar apa yang bisa ku bayangkan. Semuanya..." Ucapan ku terasa tertahan sementara air mata ku mulai berlinang. Mutia segera memelukku. "Ceritakan saja, apa yang terjadi?" Ucapnya lagi. "Mut... Masa lalu Ahya Sholihin..." Ucapan ku sekali lagi tertahan. "Iya?" Ucapnya dengan nada 'cepat katakan Amalia!'. "Sebuah ha

