6
“Sudah kubilang berhenti membahas itu!”balas Devano, ia langsung menoleh ke belakang saat Meylani menanyakan perasaannya pada Nakesya.
Meylani menggigit bibirnya, kemudian menunduk. “Maaf,” setiap melihat wajah Devano rasanya nyali Meilani begitu menciut, apalagi ketika Devano sudah serius.
Sungguh selama satu minggu, Meylani benar-benar tertekan, ia harus bangun pukul 04.00 pagi, belum lagi ia harus belajar membersihkan rumah dan ia harus menuruti semua yang Devano katakan.
Jika ia salah atau protes, wajah Devano akan serius atau berwajah dingin dan itu membuat Meylani takut. Itu sebabnya selama seminggu ini ia begitu menurut pada suaminya, walaupun dengan hati yang sangat tertekan.
Devano kembali berbalik lalu kembali melangkahkan kakinya untuk menuju mobil, begitupun Meylani yang mengikuti langkah suaminya.
Hening ...
Tidak ada pembicaraan dalam mobil, Meylani Devano sama-sama terdiam. Saat ini, Devano berencana mengantarkan Meylani ke apartemen, sedangkan ia berencana untuk kembali lagi bertugas.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Devano sampai di basement apartemen. “Saya tidak tahu jam berapa saya pulang, atau bisa jadi saya tidak pulang malam ini!” kata Devano, Meylani menggangguk.
“Tunggu!” ucap Devano ketika Meylani akan turun. Hingga Meilani menoleh. “Ya, kak,” jawab Meilani. Devano merogoh saku belakang kemudian ia langsung mengeluarkan dompet lalu mengeluarkan kartu kreditnya untuk Meylani.
“Ini untuk kamu pakai sewajarnya dan pakai untuk kebutuhanmu, bukan untuk berbelanja apapun yang kam mau. Saya akan kasih uang belanja secara cash. Mungkin beberapa bulan sekali, saya akan membebaskan apa pun yang kamu tau. Tapi tidak setiap bulan.”
Meilani tampak terdiam, hatinya berderit perih saat melihat kartu yang dikeluarkan oleh Devano.
Dia yang biasa memegang kartu kredit tanpa limit harus mengirit mati-matian pengeluarannya.
Sedangkan kedua orang tuanya sudah menyetop semua fasilitasnya, dan yang lucu mereka pun sama seperti Devano, mereka akan kembali memberikan kartu kredit pada Meilani setelah Melani benar-benar berubah menjadi istri yang baik, dan sekarang Meylani Benar-benar-benar hanya bergantung pada Devano.
Dengan tangan bergetar, serta mata yang sedikit membasah, Meylani mengambil kartu kredit itu. “Terima kasih, Kak,” jawab Meylani.
“Pinnya ulang tahun Affesya, Kamu telepon saja Afeeysa dan tanya kapan ulang tahun Afeesya,” sambung Devano lagi. Meylani mengangguk, kemudian Ia pun turun. Dan tepat ketika turun dari mobil, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya.
Ini benar-benar menyakitkan untuknya. Meylani merasakan semuanya keluarganya juga begitu egois, tidak mau mengerti dirinya. Sebenarnya Meylani bisa berubah, Meylani bisa untuk berusaha mematuhi semuanya. Tapi ini terlalu mendadak untuknya. Hingga ia merasakan putus asa. Ia sudah menahan sakit karena ditinggalkan oleh Aryan, dan ia juga harus merasakan sakit karena keegoisan semuanya.
Saat rasa sesak semakin menjadi-jadi, Meylani yang akan naik ke lift memutuskan untuk pergi ke tangga darurat, lalu ia mendudukkan dirinya di anak tangga kemudian ia menangis sekencang-kencangnya
“Aryan!” Meylani memanggil nama Aryan, ia benar-benar putus asa. Entah kenapa lelaki itu pergi. Seandainya Aryan tidak pergi sebelum ijab kabul akan dimulai, mungkin ia tidak akan menikah dengan Devano
••••
Nakesya terdiam, ia menatap kosong ke depan saat ini ia sedang berada di kantin. Makanan miliknya pun sudah tiba. Tapi pikirannya melayang entah ke mana, pertemuannya dengan Devano barusan benar-benar membuat hati Nakeysa hancur.
Ia tidak bisa menghindar Jika bertemu Devano, karena ia bekerja di klinik yang ada di batalyon tempat Devano berdinas.
“Halo ...." tiba-tiba terdengar suara dari arah depan, membuat Nakesya menoleh.
“Halo bang!” kata Nakeysa pada seorang tentara yang juga rekan Devano.
“Abang gabung boleh?” tanya Iqbal. Nakesya mengangguk.
“Silahkan bang,” balas Nakesya. Iqbal yang membawa nampan berisi makanan, langsung menurunkan makanan dari nampan tersebut.
“Kamu enggak makan?” tanya Iqbal, Nakesya tersenyum, kemudian ia mulai menolehkan kepalanya pada makanan. Sungguh ia begitu malas mencicipi makanan yang ada di depannya.
Devano masuk ke kantin, ia berencana untuk makan siang. Setelah mengantar Meilani, ia merasakan perutnya lapar. Hingga Ia pun langsung pergi ke kantin di dekat asrama.
Saat ia masuk, matanya tertuju pada kursi di mana ada Nakesya di sana dan sedang duduk bersama Iqbal yang juga sebagai temannya. Devano mengepalkan tangannya saat melihat interaksi Nakesya dan Iqbal. Baru saja ia akan menghampiri Nakesya dan Iqbal, Devano kembali menghentikan langkahnya saat mengingat semuanya telah berbeda.
Meylani turun dari mobil disusul dengan Devano yang juga ikut turun, mereka sudah resmi menikah secara militer dan tiga hari lalu, Devano dan Melani sudah menggelar resepsi dengan adat pedang pora. Kini, Meylani.benar-benar harus menjalani hidupnya sebagai ibu Persit yang harus hidup sederhana.
Saat Meilani turun, Devano pun ikut turun ia membawa koper milik Meilani dan menyusul Meylani masuk ke dalam. Meylani membuka kunci pintu, kemudian tampak menghela nafas. Rumah itu memang sudah direnovasi dan sudah sedikit nyaman. Tapi tetap saja ada yang kurang.
“Kamu boleh istirahat dulu di kamar, biar saya yang beres-beres!” kata Devano, Meylani mengangguk, kemudian ia langsung berjalan ke arah kamar. Meylani membaringkan tubuhnya di ranjang, ia melihat ke arah langit-langi. Bulir bening lngsung terjatuh dari pelupuk matanya, Ia tidak menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini.
Ini sudah dua minggu ia menjadi istri Devano.. rasanya ia benar-benar sudah ingin menyerah.
Saat Meylani melamun terdengar suara derap langkah, hingga Meylani langsung menghapus air matanya. Rupanya, Devano menyusul ke kamar sambil membawa pakaian dinas miliknya.
“ di sini memang ada mesin cuci tapi untuk. seragam saya tolong kamu kucek pakai tangan karena seragam Saya tidak boleh dicuci sembarangan!” titah Devano, Meylani terdiam, ia tidak menjawab. Tubuhnya terlalu lelah untuk menjawab.
“Kenapa kamu tidak menjawab ucapan saya?” tanya Devano, Meylani kemudian mengangguk.
“Ya, Kak,” balasnya singkat.
“Ingat jangan sampai kamu salah mencuci seragam saya kamu bisa lihat tutorialnya di youtube untuk mencuri seragam tentara,” jawab Devano. Setelah itu, Devano keluar meninggalkan Melani.
Lagi-lagi, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk Meylani. Jujur saja Melani seperti bukan hidup dengan suaminya tapi seperti hidup dengan majikannya. Sebenarnya Meylani tidak ingin mengeluh dengan kondisi ini, ia sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri , ia tidak pernah lagi mengeluh pada orang tuanya. Tapi tetap saja, setiap mendengar Devano memerintahnya tanpa kata tolong dan tanpa kata terima kasih, rasanya melayani begitu buruk, ia merasa kehadirannya hanya untuk menjadi pembantu suaminya saja.
Meylani melihat ke arah tangannya, tangannya begitu keriput. Selama dua minggu ini, Devano selalu memaksanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan memantaunya. seolah dia tidak becus. Mungkin maksud Devano hanya untuk mendidik Meylani agar Meylani mandiri. Tapi Meyalani benar-benar butuh waktu untuk beradaptasi.
Waktu menunjukkan pukul 6 sore, Devano yang baru saja selesai dengan tugasnya kembali ke rumah dinas miliknya. Ia menggeleng saat lampu masih belum menyala. “Kenapa gadis itu tidak disiplin sekali,” lirih Devano, ia masuk ke dalam rumah dinas, kemudian ia langsung menyalakan lampu dan berjalan ke kamar dan benar dugaannya, Meylani masih tertidur.
“Meylan!” Devano mengguncangkan tubuh Meylani dengan kencang membuat Meylani langsung tersentak kaget, lalu membuka matanya. “Ia Kak!” jawab Meylani.
“Kamu enggak lihat jam berapa ini. Kamu belum mandi dan kamu juga belum membereskan koper kamu!” kata Devano, melihat wajah Devano yang serius, Meilani begitu ketakutan. Hingga Ia pun langsung bangkit dari duduknya, kemudian menggeret kopernya. Lalu membereskannya ke dalam lemari.
Ucapan Devano bagai perintah bagi Meilani, iai.yang biasanya hidup penuh kasih sayang tiba-tiba mendapat sikap otoriter dari suaminya, tentu saja ketakutan Melani berkali-kali lipat
Saat membereskan koper miliknya, kepala Meylani terasa berputar-putar. Bagaimana tidak, ia dipaksa bangun, lalu mendapatkan sikap yang tidak enak dari Devano
“Tolong siapkan pakaian saya. Saya ingin mandi setelah itu ayo kita silaturahmi pada komandan saya,” ucap Devano. Meylani tidak menjawab ucapan Devano, karena kepalanya sedang berputar-putar belum lagi tangannya sedang membereskan pakaian yang berada di koper..Jujur saja, saat ini Meilani seperti orang yang linglung.
“Mey!” i panggil Devano lagi. Meylani tersadar kemudian menatap wajah Devano. “Ia, Kak!”
“Tolong siapkan pakaian untuk saya!” kata Devano lagi, Meilani menggangguk
15 menit kemudian, Devano keluar dari kamar mandi. Kemudian ia masuk kembali ke dalam kamar. Saat masuk ke dalam kamar, Devano berdecak kesal saat melihat Meilani malah melamun. Devano menyangka, bahwa Meilani melamun karena meratapi kehidupan rumah tangganya yang sederhana. Tapi sebenarnya Devano salah, kepala Meylani benar-benar berputar-putar, apalagi dari siang dulu dia belum makan siang.
“Mei kamu akan terus seperti itu, apa kamu tahu Saya tidak suka membuang waktu!” Hardik Devano, membuat Meilani tersadar, ia langsung menoleh.
“Kak kepalaku sakit!" lagi-lagi, Devano menggeleng seraya menghela nafas kasar, ia menyangka Meilani beralasan.
“Mei, please. Tolong jangan drama. Saya sudah janji untuk bertemu komandan saya dan mau tak mau kamu harus ikut, saya ingin memperkenalkan kamu secara resmi.”
Saat mendengar ucapan Devano, nafas Melani kembang kempis, ucapan Devano menancap tepat di hatinya. Seandainya orang tuanya mau percaya padanya dan mau mendengarkannya, ia tidak akan terlalu tersiksa. Tapi setiap dia mengeluh tentang Devano, orang tuanya juga menganggapnya drama dan meyakinkannya dengan kata-kata yang tidak berguna, hingga Meylani ada di titik sadar, bahwa dia tidak bisa mundur lagi.
Saat Meylani membereskan pakaian yang ada di kopernya, Devano teringat sesuatu. “Apa kamu juga belum menyiapkan pakaian saya?” tanya Devano, Meylani memejamkan matanya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia pun membuka koper satunya lagi lalu menyiapkan pakaian Devano.
Akhirnya Meylani selesai dengan aktivitasnya, kemudian ia langsung berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Saat berada di kamar mandi, Meylani berjongkok ia memegang kepalanya yang terasa berputar-putar, dan ia merasa tubuhnya sedikit demam. Apalagi saat kakinya menyentuh air dan rasanya begitu dingin.
Tidak ada penghangat di rumah dinas Meylani, ia yang biasanya mandi memakai Air hangat harus merasakan air dingin mengalir di tubuhnya.
“Mey, kamu akan terus di dalam?” tanya Devano karena Devano tidak mendengar suara gemericik air, hingga Melani tersadar. Kemudian,.
Meylani bangkit kembali dari berjongkoknya.
Saat air mengalir di tubuh Meilani, Meylani memejamkan matanya, tubuhnya langsung mengigil. dengan cepat, Meylani meneruskan acara mandinya. Lalu setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan tergopoh-gopoh.
Sementara di sisi lain
Aryan terbangun dari tidurnya kemudian, ia langsung melihat jam di dinding, ternyata Jam menunjukkan 06.00 sore., Aryan melihat ponselnya, ia membelai layar ponselnya di mana foto Meilani menjadi walpapernya.
“Maafin aku, Mey,” jawab Arian. Dalam lubuk hatinya, ia benar-benar menyesal telah meninggalkan ijab kabul yang akan berlangsung. Padahal, ia tidak berniat pergi. Itu karena ....
Tinggalin