Langkah kaki Vero yang tegas terdengar kesal di sepanjang koridor lantai 50 sebelum akhirnya dia masuk ke dalam lift privat dan menghilang ke lantai bawah. Di dalam ruangan CEO yang super luas itu, Gavin masih terpaku di tempatnya. Kepalan tangannya di atas meja mahoni tampak memutih, menahan gejolak rasa perih dan frustasi yang bener-bener menguras seluruh energinya. Setiap kalimat penolakan dari Vero bener-bener bergema di kepalanya, terutama kalimat terakhir gadis itu. “Aku ke sini buat kerja, bukan buat jadi boneka penghibur ego Om yang kesepian.” Gavin menghembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat, lalu menekan tombol interkom di meja kerjanya. "Hendra, masuk ke ruangan saya sekarang." Hanya butuh waktu kurang dari lima detik, pintu kayu jati besar itu terbuka dan Hend

