"Vero, tolong, sekali saja tatap mata aku. Aku nggak bisa terus-terusan kayak gini, didiemin kayak orang asing setelah semua yang kita lewatin," ujar Gavin memohon, suaranya parau di sudut ruang tunggu rumah sakit yang sepi. Vero hanya menatap lantai, jemarinya bertautan erat. "Apa yang harus ditatap, Om? Mata yang kemarin bilang aku cuma candu, atau mata yang sekarang pura-pura tulus?" "Itu manipulasi Astrid! Kamu tahu sendiri Astrid nggak akan berhenti sebelum dia lihat kita hancur lebur," ujar Gavin mencoba meraih tangan Vero, tapi gadis itu beringsut menjauh. "Astrid cuma ngasih tau apa yang Om omongin. Om sendiri yang ngomong, kan? Astrid cuma alat, tapi omongan itu asalnya dari mulut Om," ujar Vero mendongak, matanya berkaca-kaca namun tatapannya tetap tajam. "Itu yang bikin aku b

