"Nggak masuk akal, Om! Ini jelas-jelas jebakan maut buat manggil kamu sendirian ke dermaga pelabuhan lama tengah malam begini!" protes Vero dengan suara bergetar hebat, air matanya tumpah membasahi pipi saat ia meremas kertas berlumuran darah di tangan suaminya. Gavin menggeleng pelan, rahangnya mengeras kuat menahan amarah dan rasa panik yang berkecamuk di dalam d**a. "Aku tahu ini jebakan, Sayang. Tapi, kalau aku nggak datang ke sana, nyawa Kakek jadi taruhannya. Beliau udah tua, aku nggak bakal memaafkan diri sendiri kalau sesuatu yang buruk terjadi sama beliau." "Tapi, bagaimana dengan keselamatan kamu dan bayi kita kalau kamu nekat pergi sendirian tanpa pengawalan?!" seru Vero histeris, mencengkeram lengan suaminya sekuat tenaga agar pria itu tidak beranjak dari sisinya. "Jangan bo

