Gavin masih terbaring lemah di kasur setelah semalam demam tinggi. Vero yang sejak pagi tadi sibuk mondar-mandir menyiapkan kompres dan bubur, tetap memasang wajah datar tanpa sedikit pun sisa kelembutan. Setiap kali Gavin mencoba meraih tangannya, Vero selalu menarik diri secepat kilat. "Ver, tolong ... duduk sebentar saja," pinta Gavin dengan suara serak. Gavin terlihat bener-bener menyedihkan, rambutnya berantakan dan matanya cekung. Vero meletakkan mangkuk bubur di meja nakas dengan dentuman pelan. "Makan buburnya, Om. Setelah ini, jangan panggil-panggil aku lagi. Aku mau ke kamar tamu." "Kenapa kamu tega banget sih?" Gavin mencoba bangun, tapi kepalanya pening. "Aku sakit begini pun kamu masih mau ninggalin aku sendiri?" Vero berdiri, menatap Gavin dengan tatapan dingin yang b

