Suara monitor detak jantung di kamar rawat Kakek terdengar begitu intens namun lemah, memecah kesunyian malam yang mencekam. Vero terduduk di lantai, kepalanya bersandar pada pinggiran tempat tidur, matanya sembab setelah menangis tanpa henti. Tiba-tiba, suara alarm monitor berubah menjadi bunyi panjang yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Kek! Kakek! Bangun!" Vero berteriak panik, mengguncang bahu kakeknya yang kini sudah tidak memberikan respons apa pun. "Bi! Bi Minah! Tolong panggil dokter!" Bi Minah berlari masuk dengan wajah pucat. Tak lama, Pak Bram, Riska, dan Tasya juga masuk ke ruangan, tapi mereka tidak terlihat panik. Mereka justru berdiri di sudut ruangan dengan wajah yang sulit diartikan. "Dia ... dia sudah selesai?" bisik Tasya dengan nada yang justru terdengar sepert

