Bab 40 🍒

1228 Words

Pagi berikutnya, sisa-sisa badai semalam masih membekas jelas di sudut-sudut penthouse Sudirman. Gavin bangun dengan kondisi yang bener-bener berantakan, sepasang matanya merah dan bengkak tipis akibat tangisan pasrahnya di atas lantai marmer. Namun, Vero bener-bener acuh. Gadis itu sudah rapi dengan kemeja flanel hijau tua dan celana katun hitam, melangkah keluar dari apartemen bahkan sebelum Gavin sempat memohon untuk sarapan bersama. Bagi Vero, air mata sang penguasa bisnis bener-bener gak punya pengaruh apa pun untuk mencairkan hatinya yang sudah terlanjur mati rasa. Sesampainya di lantai 15 Menara Lorenso, Vero langsung menenggelamkan diri di balik kubikelnya. Suasana kantor yang sibuk selalu sukses jadi pelarian terbaik buatnya. Tapi, ketenangan Vero pagi ini mendadak terusik

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD