Pagi itu di rumah sakit, Vero benar-benar tampak hancur. Wajahnya pucat, kantung matanya menghitam, dan pakaiannya terlihat kusut karena ia tidak sempat berganti sejak kemarin. Vero berdiri di depan meja administrasi dengan wajah memelas, memohon agar biaya rumah sakit bisa ditangguhkan, namun petugas di sana menatapnya dengan pandangan dingin. "Mohon maaf, Nona. Sesuai prosedur, karena Pak Bram sudah memerintahkan untuk menghentikan pendanaan, kami tidak bisa melanjutkan perawatan jika tagihan tidak segera dibayar," ucap petugas itu datar. Vero menggigit bibir bawahnya, menahan perih di hati. "Tolong, beri saya waktu satu hari lagi. Kakek dalam kondisi kritis, saya mohon." "Sudah saya bilang tidak bisa. Kalau tidak ada pembayaran, alat bantu napas akan dilepas siang ini sesuai permi

