Sinar matahari pagi menusuk masuk ke celah jendela kamar pembantu yang pengap. Vero terbangun dengan punggung yang terasa patah setelah semalaman meringkuk di lantai. Vero tidak punya kasur yang layak, hanya tumpukan selimut tipis yang berbau apek. Namun, kebencian di dalam dadanya jauh lebih menyesakkan daripada ruangan itu sendiri. Vero berjalan keluar menuju ruang tengah. Tasya sedang duduk di sofa empuk sambil memoles kuku, sementara Riska sedang mengoceh soal rencana pesta arisannya. "Eh, gembel sudah bangun," ucap Tasya menyambut dengan tawa meremehkan tanpa mengalihkan pandangannya dari kuku. "Gimana tidur di lantai? Masih ingat cara jadi orang miskin?" Vero mengabaikannya dan langsung berjalan menuju kamar rawat kakeknya. Namun, Riska menghadangnya dengan langkah angkuh. "M

