"Vero, kamu sudah duduk di sini hampir sepuluh menit dengan wajah yang pucat pasi. Apa kamu merasa tidak enak badan lagi? Kalau kamu masih merasa mual, aku akan segera memanggil dokter pribadimu dari Zurich," ujar Gavin bergegas menghampiri Vero yang duduk di tepi tempat tidur, tangannya dengan sigap memeriksa suhu tubuh istrinya. Vero tersenyum tipis, meski tangannya sedikit gemetar saat menggenggam sebuah alat tes kehamilan yang tergeletak di atas nakas. "Gavin, bukan dokter yang aku butuhkan sekarang. Aku butuh kamu... untuk melihat ini." Gavin mengerutkan kening, rasa cemas masih terpancar jelas di matanya. "Apa itu? Apa kamu sakit? Katakan padaku, apa hasilnya?" Vero menarik napas panjang, lalu menyodorkan benda kecil itu ke tangan suaminya. "Lihatlah sendiri. Dan tolong, jangan be

