"Vero! Halo, Sayang... jangan matikan teleponnya, kumohon!" teriak Gavin panik ke arah layar ponsel yang kini sudah berubah menjadi gelap total. Gavin menatap layar handphonenya dengan tangan gemetar hebat, dadanya bergemuruh kencang dihantam rasa panik dan penyesalan yang teramat sangat. "Sial... sialan kamu, Kirana! Berani banget perempuan itu ngancurin rumah tangga aku!" geramnya penuh amarah, langsung melempar ponsel cadangannya ke atas tempat tidur. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Gavin menyambar kunci mobil dan jasnya, lalu berlari keluar kamar hotel dengan kemarahan yang meluap-luap di dalam dadanya. Gavin tidak peduli lagi pada sisa proyek atau urusan bisnis di Surabaya, satu-satunya hal yang ada di dalam kepalanya saat ini adalah secepat mungkin pulang dan menjelaskan semua

