"Gavin, siapa yang mengetuk jendela kamar kita selarut ini? Jangan bilang kamu memesan mangga muda lewat kurir misterius lagi," gumam Vero setengah sadar, matanya mengerjap perlahan berusaha menembus remang-remang lampu kamar sementara tangannya meraba sisi ranjang yang mendadak kosong. Gavin berdiri kaku di dekat jendela kaca yang tertutup tirai tipis, napasnya sedikit tertahan saat jemarinya perlahan menyentuh secarik kertas basah berlumuran cairan merah pekat yang terikat pada sebuah batu kecil. "Bukan kurir, Sayang. Tetaplah di atas tempat tidur dan jangan bergerak ke mana-mana." Vero langsung terbangun sepenuhnya, rasa mengantuknya menguap seketika mendengar ketegangan dalam suara suaminya. "Apa maksudmu? Apa ada seseorang di luar taman? Gavin, jangan main-main, tunjukkan apa itu!

