"Gavin, udara di sekitar danau ini beneran jauh lebih baik daripada udara yang penuh ketegangan di meja makan tadi," ucap Vero sambil merapatkan mantel tebalnya. Sesekali ia menatap pantulan pegunungan Alpen di permukaan air yang tenang bak cermin raksasa. "Aku tahu. Sekali lagi, aku minta maaf karena membiarkan situasi pagi tadi merusak suasana hatimu. Seharusnya aku sudah menyelesaikan masalah Fira ini sejak awal kamu merasa tidak nyaman," sahut Gavin, tangannya menggenggam erat jemari istrinya, memasukkannya ke dalam saku mantelnya agar tetap hangat. "Aku tidak marah padamu, Om Sayang. Aku hanya... merasa lelah," jawab Vero menoleh, menatap mata suaminya yang memancarkan penyesalan. "Lelah karena aku pikir setelah kita melewati segala kekacauan di Jakarta, kita tidak perlu lagi berur

